Waspadai Meluasnya Penurunan Daya Beli Masyarakat

Jumat, 04 Okt 2024, 00:04 WIB

JAKARTA - Pemerintah dinilai masih terus mengelak dengan kondisi perekonomian yang sesungguhnya, terutama penurunan harga (deflasi) yang telah berlangsung selama lima bulan berturut- turut. Sebelumnya, Sekretaris Kementerian Koordinator bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), Susiwijono Moegiarso, mengatakan tren deflasi yang sudah berlangsung selama lima bulan berturut-turut tidak berkaitan dengan pelemahan daya beli.

Sebab, deflasi terjadi pada komponen harga bergejolak (volatile food). Sementara pelemahan daya beli seharusnya terefleksi pada komponen inflasi inti (core inflation), yang hingga September 2024 masih mencatatkan inflasi. "Inflasi inti itu yang mengindikasikan daya beli, bukan harga bergejolak atau harga diatur pemerintah (administered price)," kata Susiwijono.

Ket. Foto: — Sumber: ISTIMEWA

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komponen inti mengalami inflasi 0,16 persen dengan andil 0,10 persen, sedangkan komponen harga diatur pemerintah mengalami deflasi sebesar 0,04 persen dengan andil 0,01 persen terhadap inflasi umum.

Tidak Sesuai Kenyataan

Menanggapi sanggahan pemerintah, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan apa yang disampaikan Sesmenko itu tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Dari data yang ada, papar Huda, dari sisi inflasi inti di angka 0,16, turun dibandingkan dengan bulan lalu.

"Artinya, kemampuan masyarakat membeli barang yang sesuai dengan permintaan dan penawaran, menurun," kata Huda. Kemudian, jika dikaitkan dengan data penunjang lainnya menunjukkan dari sisi kemampuan masyarakat juga turun, terlihat pada tabungan yang turun.

Kemampuan masyarakat menabung melemah, justru sekarang ada fenomena makan tabungan. "Jadi dari sisi permintaan masyarakat menurun, pun di lapangan sudah banyak pasar yang sepi, termasuk Pasar Tanah Abang (Jakarta)," papar Huda. Menariknya, papar Huda, Bank Indonesia (BI) pun menyarankan masyarakat mengonsumsi lebih demi menggerakkan ekonomi. Tetapi kita lihat dulu, kalau uangnya ada, daya belinya ada, ya bisa kita tambah konsumsi. Tetapi, masalahnya uangnya berkurang," katanya.

Pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan meskipun tren deflasi lebih banyak dipengaruhi oleh komponen harga bergejolak (volatile food), faktor daya beli masyarakat tetap tidak bisa diabaikan. "Deflasi pada harga pangan memang dipicu oleh faktor musiman, seperti panen raya, dan bukan semata-mata tanda pelemahan ekonomi. Namun, kita juga harus melihat keseluruhan konteks ekonomi. Sektor-sektor lain seperti otomotif dan manufaktur sudah menunjukkan penurunan signifikan," kata Aditya.

Aditya mengacu pada data terbaru yang menunjukkan penurunan penjualan mobil sebesar 17,1 persen hingga Agustus 2024 dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Di sisi lain, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia tercatat di angka 49,2 pada September 2024, yang menandakan kontraksi selama tiga bulan berturut-turut. Lebih lanjut, Aditya menjelaskan bahwa penurunan pada sektor otomotif dan manufaktur bisa mencerminkan adanya pelemahan permintaan masyarakat terhadap barang-barang non-esensial, yang sejatinya terkait dengan daya beli.

"Penurunan di sektor-sektor tersebut harus diwaspadai karena jelas berkorelasi atau bahkan mencerminkan kondisi daya beli di lapangan," tambahnya. Meski demikian, Aditya juga menekankan pentingnya kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi, terutama dalam menghadapi ketidakpastian global.

"Kebijakan insentif fiskal bisa menjadi salah satu solusi untuk menjaga daya beli masyarakat, seperti yang dilakukan pemerintah selama pandemi dengan insentif pajak pada sektor-sektor yang menyerap lapangan kerja tinggi," jelasnya. Pada akhirnya, Aditya berharap tren deflasi ini tidak menjadi tanda awal dari pelemahan daya beli yang lebih luas, tetapi tetap mendesak agar pemerintah dan pelaku ekonomi waspada terhadap tanda-tanda penurunan di sektor lain. "Kita harus terus mendorong kebijakan yang bisa menjaga daya beli masyarakat secara keseluruhan, terutama di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu," tutupnya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Jelang Laga Kontra Liverpool, Newcastle United Resmi Perluas Kapasitas St James' Park

Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

3 Tantangan Berat Trent Alexander-Arnold Usai Putuskan Hengkang dari Liverpool

Virus Zika Jadi Sorotan, Dispar Bali Minta Wisman Tetap Santai Berwisata

PLN dan YBM PLN Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Promo Tambah Daya untuk Warga Lenteng Agung.

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.