Sejumlah Negara UE Setuju Tarif Tinggi untuk Mobil Listrik Tiongkok

Jumat, 04 Okt 2024, 09:47 WIB

BRUSSELS - Negara-negara Uni Eropa diperkirakan akan mengonfirmasi tarif tinggi pada hari Jumat (4/10) terhadap mobil listrik buatan Tiongkok, sebuah langkah yang memecah blok tersebut karena beberapa negara yang dipimpin Jerman khawatir kebijakan itu akan memicu perang dagang dengan Beijing.

Komisi Eropa sementara menyetujui bea tambahan pada bulan Juni setelah penyelidikan menyimpulkan bahwa bantuan negara Beijing kepada produsen mobil tidak adil.

Ket. Foto: Model mobil NIO ET5 dan mobil sport NIO EP9 buatan Tiongkok dipajang di ruang pamer Berlin, Jerman. — Sumber: Asiafinancial/Reuters

Tiongkok mengecam tarif baru hingga 35,3 persen -- di atas bea masuk yang berlaku saat ini sebesar 10 persen -- sebagai kebijakan "proteksionis" dan memperingatkan bahwa hal itu akan memicu perang dagang.

Brussels mengatakan pihaknya bertujuan melindungi produsen mobil Eropa dalam industri penting yang menyediakan pekerjaan bagi sekitar 14 juta orang di seluruh Uni Eropa tetapi tidak mendapat manfaat dari subsidi negara yang besar seperti di TIongkok.

Kanada dan Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir telah mengenakan tarif yang jauh lebih tinggi sebesar 100 persen pada impor mobil listrik Tiongkok.

Bea masuk Uni Eropa akan berlaku definitif selama lima tahun sejak 31 Oktober jika disetujui oleh perwakilan 27 negara anggota blok tersebut dalam pemungutan suara yang diharapkan dilakukan pada Jumat pagi.

Meskipun ada penentangan dari Jerman, bersama dengan Spanyol, Slowakia, dan Hongaria, diplomat Uni Eropa mengatakan kepada AFP bahwa tidak cukup banyak negara yang menentang tarif tersebut.

Aturan Uni Eropa menetapkan, untuk menghentikan tarif tambahan komisi, harus ada setidaknya 15 negara yang memberikan suara menentang, mewakili 65 persen populasi blok tersebut.

Prancis, Italia, dan Polandia serta negara-negara Baltik diperkirakan akan mendukung bea masuk tersebut.

Kecuali ada mayoritas pemblokiran, komisi akan memiliki kebebasan untuk menetapkan bea masuk yang pasti, yang juga berlaku untuk kendaraan yang dibuat di Tiongkok oleh kelompok asing seperti Tesla, yang menghadapi tarif sebesar 7,8 persen.

Tarif tersebut telah membuat Prancis dan Jerman bersaing satu sama lain. Paris berargumen bahwa tarif tersebut diperlukan untuk menyamakan kedudukan bagi produsen mobil Uni Eropa dengan produsen mobil Tiongkok.

Tetapi Jerman, yang terkenal dengan industri otomotifnya yang kuat dan produsen utamanya termasuk BMW, Volkswagen, dan Mercedes yang banyak berinvestasi di Tiongkok, mengatakan UE berisiko merugikan dirinya sendiri dengan tarif, dan telah mendesak agar negosiasi dengan Beijing dilanjutkan.

Dalam indikasi menyebarnya ketakutan di Eropa, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengubah arahnya dan meminta Brussels bulan lalu untuk "mempertimbangkan kembali", meskipun Madrid awalnya mendukung.

Tali Ketat Uni Eropa

Hongaria juga vokal dalam penentangannya, Menteri Luar Negeri Peter Szijjarto mengatakan minggu ini Budapest akan memberikan suara menentang proposal "berbahaya" tersebut.

Beijing mengancam akan membalas dengan tegas tarif tersebut dan membuka penyelidikan terhadap produk brendi, susu, dan daging babi Eropa yang diimpor ke Tiongkok.

Tiongkok berupaya dengan sia-sia untuk menghentikan bea masuk, dengan harapan dapat menyelesaikan masalah melalui dialog, tetapi pembicaraan sejauh ini gagal menghasilkan kesepakatan yang memuaskan UE.

Komisi tersebut mengatakan bea apa pun dapat dicabut nantinya jika Tiongkok menanggapi kekhawatiran UE.

Ketegangan perdagangan antara Tiongkok dan UE tidak terbatas pada mobil listrik, penyelidikan yang diluncurkan oleh Brussels juga menargetkan subsidi Tiongkok untuk panel surya dan turbin angin.

Blok tersebut menghadapi tugas yang sulit saat mencoba mengembangkan industri teknologi bersih dan berinvestasi dalam transisi hijau tanpa memicu perang dagang yang menyakitkan dengan Tiongkok.

Sejak Juli, tarif tambahan maksimum untuk kendaraan listrik telah direvisi turun -- menjadi 35,3 persen dari sebelumnya 38 persen -- menyusul diskusi UE dengan pihak-pihak yang berkepentingan.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

Berita Terbaru

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.