Anggaran Harusnya Diarahkan ke Sektor Produktif

Rabu, 11 Sep 2024, 00:04 WIB

JAKARTA - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus direformasi dengan mengubah formula yang ada saat ini di mana porsi ke konsumsi dan pembayaran utang lebih dominan dibanding porsi untuk pembiayaan kegiatan produktif yang berdampak panjang terhadap perekonomian nasional.

Porsi belanja APBN semestinya diperbesar ke sektor-sektor, seperti pertanian, peternakan, perikanan, dan energi baru terbarukan (EBT). Sebab, sektor tersebut punya potensi meningkatkan kemandirian pangan dan energi nasional. Sektor-sektor tersebut tidak hanya menyediakan kebutuhan domestik, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak ekspor, yang pada akhirnya mengurangi kebergantungan pada impor.

Ket. Foto: Porsi belanja APBN semestinya diperbesar ke sektor-sektor, seperti pertanian, peternakan, perikanan, dan energi baru terbarukan (EBT). Sebab, sektor tersebut punya potensi meningkatkan kemandirian pangan dan energi nasional. Sektor-sektor tersebut tidak hanya menyediakan kebutuhan domestik, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak ekspor, yang pada akhirnya mengurangi kebergantungan pada impor. — Sumber: ISTIMEWA

Peneliti Lingkungan Hidup dari Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi, mengatakan dukungan anggaran yang mumpuni menuntut pemerintah untuk memetakan konsumsi per region, kemudian melakukan intervensi hulu dengan intensifikasi penanaman pangan dengan teknologi tepat guna. Selain itu dibarengi dengan penataan tata niaga pangan yang lebih terbuka, sehingga bisa mengurangi beban impor. Beberapa bahan pangan kunci seperti beras, kedelai, jagung, dapat diproduksi di dalam negeri secara masif dalam skala industri atau dengan pertanian modern yang berangsur-angsur dikenalkan ke petani.

Untuk daging, susu dan indukan sapi yang selama ini jadi momok impor dalam perdagangan pangan, memerlukan kerja ekstra untuk membangun ekosistem ternak yang terintegrasi dengan kerja industri-industri yang lebih presisi.

"Pertanian dan peternakan akan maju dengan intervensi teknologi termasuk menyasar lahan kering karena paling cocok untuk pertumbuhan rerumputan," kata Hafidz. Ketua Serikat Nelayan Indonesia (SNI), Budi Laksana, menegaskan pentingnya dukungan anggaran yang lebih besar bagi sektor perikanan, karena memiliki potensi besar menjadi salah satu pilar ketahanan pangan nasional. Dengan dukungan anggaran yang memadai, nelayan bisa meningkatkan hasil tangkap dan meningkatkan kesejahteraan mereka, serta membuka peluang ekspor produk perikanan berkualitas yang akan mendatangkan devisa bagi negara. Investasi pada infrastruktur perikanan, seperti pelabuhan, kapal tangkap, dan teknologi budi daya ikan, sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing.

Begitu pula dengan sektor pertanian dan peternakan yang perlu perhatian khusus. Pembiayaan yang lebih besar di sektor pertanian akan mendorong inovasi teknologi pertanian, memperbaiki infrastruktur irigasi, serta memberikan dukungan finansial kepada petani untuk meningkatkan produktivitas. "Dukungan ini akan memperkuat ketahanan pangan nasional, mengurangi ketergantungan pada impor pangan, serta menciptakan lapangan kerja di perdesaan, memperbaiki kesejahteraan petani, dan meningkatkan kontribusi ekspor produk pertanian," kata Budi.

Dihubungi terpisah, Anggota Ikatan Ahli Lingkungan Hidup Indonesia (IALHI), Andi Sungkowo, menyoroti pentingnya alokasi anggaran yang lebih besar untuk sektor energi baru terbarukan (EBT). "RI masih sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil yang menguras devisa.

Jika kita serius mengembangkan energi baru terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, kita bisa mengurangi kebergantungan ini dan berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim," jelas Andi. Ia juga menekankan bahwa pengembangan EBT tidak hanya akan membantu menjaga lingkungan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di sektor energi hijau dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Sektor-sektor penting lainnya seperti infrastruktur, riset, dan pengembangan teknologi juga harus diperkuat agar sinergi antara sektor-sektor produktif dapat berjalan optimal. Pembangunan infrastruktur yang efisien akan mempermudah distribusi hasil pertanian, peternakan, dan perikanan dari wilayah produksi ke pasar-pasar besar, baik domestik maupun internasional. Oleh sebab itu, pemerintah harus berani melakukan reformasi anggaran yang lebih berorientasi pada produktivitas jangka panjang. Strategi ini akan memperkuat ekonomi nasional dan membangun fondasi bagi masa depan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Tidak Optimal

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan kebijakan fiskal pro pertumbuhan layak ditempuh saat kondisi suku bunga tinggi. Masalahnya, APBN sebagai pengungkit pertumbuhan masih berkutat pada realisasi anggaran yang baru mengucur deras pada akhir tahun sehingga dampak ke pertumbuhan tidak optimal. Persoalan yang lain adalah alokasi anggaran terkunci oleh undang-undang seperti alokasi ke pendidikan, kesehatan. Kondisi itu yang membuat realokasi APBN ke sektor produktif tersandera.

"Program subsidi dan stabilisasi harga pangan ke depan harus dirancang dalam skema yang lebih komprehensif menyangkut produksi dan pola pangan dan penggunaan energi terbarukan," tegasnya. Pengamat kebijakan publik sekaligus Wakil Rektor Tiga, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam, mengatakan sektor energi sangat strategis sehingga pendanaannya dalam APBN harus dikelola dan ditata sedemikian rupa karena belanja sektor energi selalu dalam jumlah besar.

Dengan mengembangkan energi terbarukan sejak dini diharapkan belanja energi ke depan justru semakin efesien. "Jika kita terlambat, dikhawatirkan belanja yang harus dikeluarkan APBN di masa depan akan semakin membengkak. Dengan mengadopsi energi bersih lebih awal, termasuk untuk mengembangkan pembangkitpembangkit yang potensinya beragam, maka APBN diharapkan semakin efesien, karena tidak perlu impor BBM lagi, yang harganya semakin lama semakin mahal," kata Surokim.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Pemerintah Lakukan Pemutakhiran Data Bansos untuk Kurangi Salah Sasaran

Sambil Serap Aspirasi, Demokrat Jatim Gelar Lomba Rakyat Serentak di 38 Kabupaten/Kota

Kapolda Lampung: Ratusan Personel Gabungan Berhasil Padamkan Karhutla di Way Kambas

Menekraf Ungkap Ekosistem Ekonomi Kreatif Solusi Tekan Pengangguran di Kota Malang

Mentan: Stok Beras Lebih dari 5 Juta Ton, Ketahanan Pangan Aman

Huawei FreeClip 2 S Segera Hadir di Indonesia, Usung Desain Airy C-Bridge dan Audio Adaptif

Pramono: LRT Rute Kelapa Gading-Manggarai akan Diresmikan Presiden Prabowo pada 26 Agustus

Di Tengah Misi Padamkan Karhutla, Mobil Damkar Belitung Malah Kecelakaan

Dinas Pariwisata Bali Minta Wisatawan Mancanegara Tak Khawatirkan Isu Virus Zika

Paus Sampaikan Solidaritas untuk Korban Gempa NTT

Karya Anak Magelang Bikin Terpukau, 30 Pelukis Cilik Ramaikan “Ruang Khayal Anak #1”

Ikea Indonesia Hadirkan Grejsimojs, Dorong Keluarga Ciptakan Lebih Banyak Momen Bermain di Rumah

Tim Gabungan Tambah Kekuatan Personel untuk Padamkan Karhutla di Pelalawan Riau

Kesempatan Emas untuk UMKM! Pemkab Bandung Beri Pinjaman Rp10 Juta Tanpa Bunga

Erajaya Digital Hadirkan CMF Clip Pro di Indonesia, Usung Desain Open-Ear dan Audio Hi-Res

Guangdong Melirik Industri Motor Listrik Indonesia, Ada Potensi Besar!

Menkes Dorong Dokter Indonesia Perkuat Kolaborasi Internasional

BI: Transaksi QRIS Bebas Biaya Mulai 1 Oktober 2026

Mercedes-Benz Perbarui C-Class, Hadirkan Desain Lebih Tegas dan Teknologi AI

Harga BBM Pertamina, Shell, Vivo, dan BP Alami Penyesuaian

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.