Pakar Ekonomi UI: Tanpa Disiplin Fiskal, Indonesia Bisa Terancam Krisis Utang Seperti Yunani
Selasa, 22 Sep 2026, 08:52 WIBJAKARTA- Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty mengingatkan pentingnya menjaga disiplin fiskal untuk menghindari krisis fiskal dan krisis utang.
Menurut Telisa, jika disiplin fiskal lemah, maka pengelolaan fiskal menjadi tidak berkelanjutan dan berisiko memicu krisis secara menyeluruh. Karena itu, Rule sangat penting untuk disiplin fiskal. "Jadi siapapun pemimpinnya rule fiskal ini akan membantu kita tetap berada dalam koridor,"tegasnya pada Koran Jakarta, Selasa (22/9).
Dia mengingatkan pentingnya menjaga disiplin fiskal untuk menghindari krisis fiskal dan krisis utang.
"Kalau disiplin fiskal lemah, nanti fiskal kita cenderung tidak berkelanjutan bisa terjadi krisis, krisis hutang, krisis bunga hutang pokoknya krisis fiskal," ujar Telisa, Sabtu (20/9/2026).
Ia mencontohkan kasus Yunani yang mengalami kebangkrutan akibat tidak menerapkan disiplin fiskal. Akibatnya, Yunani harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran dan meminjam kepada European Central Bank (ECB) serta Dana Moneter Internasional (IMF).
"Seperti Yunani itu kan tanpa ada disiplin fiskal, dia mengalami kebangkrutan istilahnya dia akhirnya harus melakukan pemangkasan APBN besar-besaran kemudian dia pinjam ke ECB, IMF dan lain sebagainya jadi dalam pengawasan IMF dan ECB," jelasnya.
Telisa menegaskan, fiskal yang tidak berkelanjutan akan merambat ke berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi akan terhambat, kepercayaan pasar menurun, sovereign rating tertekan, hingga memicu capital outflow.
"Kalau fiskalnya tidak berkelanjutan, nanti bisa berdampak pertumbuhan ekonomi terhambat dan kepercayaan berkurang, sovereign rating kita di capital inflow bisa outflow jadi banyak efeknya merambat kemana-mana," katanya.
Selain itu, hilangnya kepercayaan investor akan mengurangi daya saing investasi nasional. Pemulihan dari krisis fiskal dan krisis utang, kata dia, membutuhkan waktu yang sangat lama.
"Dan kita akan tidak dipercaya lagi oleh para investor mengurangi daya saing investasi juga dan untuk memulihkannya butuh waktu yang sangat lama. Jadi debt crisis itu sih yang kita hindari, krisis fiskal, debt crisis kita hindari," pungkasnya.
Atuan main
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mendorong penguatan aturan main atau rulebook penggunaan instrumen fiskal agar tujuan, jangka waktu, pembagian risiko, serta mekanisme keluar setiap kebijakan semakin jelas.Â
Menurut dia, kesinambungan sejumlah kebijakan pada awal masa jabatan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dapat menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola berbagai instrumen ekonomi yang telah dimiliki pemerintah. âYang mulai dibutuhkan sekarang adalah rulebook, untuk apa sebuah instrumen digunakan, neraca siapa yang menggunakannya, berapa lama, dan bagaimana exit mechanism-nya,â kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Senin (21/9)
Berita Terkait:
-
Minyak Dunia Naik, APBN Terancam Tertekan, Ini Langkah Anstisipasi Pemerintah
-
Jepang Buka Peluang Kerja Sama Baru dengan Indonesia dalam Tiga Bidang
-
Gerakan Menanam: Pemkot Jakarta Timur Tanam 417 Bibit Pangan Pendamping Beras di Ciracas
-
Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan
-
Guru Besar UI Soroti Laporan ADBI: Tantangan RI Bukan Kurang Tumbuh, Tapi Tak Produktif
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.