- Home
-
- Luar Negeri
-
- PM Inggris Bersama Preside...
PM Inggris Bersama Presiden Prancis Bahas Konflik Ukraina dan Timur Tengah
Jumat, 30 Agu 2024, 03:28 WIBLondon - Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, pada Kamis (29/8) bertemu Presiden Prancis, Emmanuel Macron, untuk membahas konflik yang sedang berlangsung di Ukraina dan situasi yang tidak stabil di Timur Tengah.
Pertemuan ini, yang berlangsung di tengah kekhawatiran yang semakin meningkat tentang bangkitnya gerakan sayap kanan di seluruh Eropa, menandai momen penting dalam upaya Starmer untuk mengkalibrasi ulang hubungan Inggris dengan tetangga Eropapasca-Brexit.
Menurut media Inggris, Starmer dan Macron membahas berbagai topik, termasuk isu-isu bilateral yang terkait dengan perdagangan, pertahanan, dan keamanan.
Berbicara kepada wartawan setelah pertemuan tersebut, Starmer menekankan keinginannya untuk menciptakan "reset" dalam hubungan Inggris dengan Prancis dan Uni Eropa secara keseluruhan.
"Kami membahas situasi di Ukraina, seperti yang Anda harapkan, situasi di Timur Tengah, isu-isu bilateral terkait perdagangan, pertahanan, dan keamanan, serta reset yang lebih luas yang saya inginkan dalam hubungan kami, bukan hanya dengan Prancis, tetapi juga dengan Uni Eropa secara umum," kata Starmer.
Ia menegaskan bahwa reset ini merupakan bagian integral dari tujuan Inggris yang lebih luas untuk pertumbuhan ekonomi, dengan menyatakan bahwa "menumbuhkan ekonomi adalah inti dari segala hal yang kami lakukan."
Sebelumnya pada hari itu, Starmer mengunjungi Berlin, di mana ia mengadakan pembicaraan dengan Kanselir Jerman, Olaf Scholz.
Di sana, ia menolak kebijakan kebebasan bergerak bagi kaum muda, sebuah proposal yang diajukan oleh Scholz, namun menekankan pentingnya memperkuat hubungan dengan Eropa di era pasca-Brexit.
Starmer juga mengungkapkan keprihatinan mendalam tentang kebangkitan gerakan populis dan nasionalis di seluruh benua, menyebutnya sebagai tren berbahaya yang perlu dilawan dengan keberhasilan partai-partai progresif.
"Ada sejumlah alasan untuk kekhawatiran saya. Sebagian, apa yang terjadi di Inggris, sebagian lagi apa yang kita lihat terjadi di negara-negara Eropa lainnya, termasuk di Prancis dan Jerman," ujarnya kepada wartawan sebelum pertemuannya dengan Macron.
Ia berpendapat bahwa memenuhi janji-janji yang dibuat oleh partai-partai progresif adalah cara terbaik untuk melawan "fatamorgana populisme dan nasionalisme," memberikan tantangan langsung kepada kekuatan sayap kanan yang semakin mendapatkan daya tarik di berbagai negara Eropa.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Ekonomi Biru Dikebut, KKP Ajak Swasta Ikut Garap Potensi Laut RI
-
PT KAI Ungkap Pelanggan Kereta Panoramic Meningkat 62,32 Persen
-
Pemerintah Kabupaten Bogor Normalisasi Irigasi di Empat Kecamatan Rawan Banjir
-
Profil Timnas Swiss, Membidik Lolos ke Perempat Final Pertama dalam 72 Tahun
-
Indonesia Open 2026 Berakhir Pahit bagi Tuan Rumah
-
Wali Kota: Pemkot Bandung Wacanakan Pembangunan Gedung Parkir Modern di Pusat Kota
-
Kontroversi Kasus YTR Memanas! Hotman Paris Serang Pernyataan Komnas Perempuan, Minta DPR dan Presiden Bertindak
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.