Sambaran Petir yang Mematikan di India Meningkat Akibat Perubahan Iklim

Kamis, 29 Agu 2024, 00:02 WIB

NEW DELHI - Para ilmuwan baru-baru ini memperingatkan perubahan iklim memicu peningkatan yang mengkhawatirkan dalam sambaran petir yang mematikan di India, menewaskan hampir 1.900 orang setiap tahun di negara terpadat di dunia.

"Petir menyebabkan 101.309 kematian yang mengejutkan antara tahun 1967 dan 2020, dengan peningkatan tajam antara tahun 2010 dan 2020," kata tim peneliti yang dipimpin oleh Universitas Fakir Mohan di negara bagian timur Odisha.

Ket. Foto: Rata-rata kematian tahunan per negara bagian di India meningkat dari 38 pada periode 1967 hingga 2002 menjadi 61 pada periode 2003 hingga 2020. — Sumber: istimewa

"Hasilnya menunjukkan peningkatan yang terus-menerus dalam aktivitas petir di India, yang menjadikannya sebagai salah satu penyebab utama bencana alam yang disebabkan oleh perubahan iklim," katanya.

Meskipun laporan tersebut melihat data kematian, bukan jumlah sambaran petir, disebutkan bahwa "aktivitas petir di India menjadi semakin tidak dapat diprediksi".

Seperti dikutip dari The Straits Times, data menunjukkan rata-rata kematian tahunan per negara bagian di India meningkat dari 38 pada periode 1967 hingga 2002, menjadi 61 dari tahun 2003 hingga 2020, periode ketika populasi negara tersebut juga tumbuh pesat menjadi 1,4 miliar orang.

Sambaran petir sering terjadi di India selama musim hujan bulan Juni hingga September, yang sangat penting untuk mengisi kembali persediaan air regional.

Namun, para ilmuwan mengatakan, frekuensi sambaran petir meningkat karena meningkatnya suhu global, yang memicu serangkaian peristiwa cuaca ekstrem.

Suhu udara yang lebih tinggi menciptakan lebih banyak uap air yang, setelah mendingin di ketinggian, menciptakan muatan listrik yang memicu petir.

"Tingginya jumlah kematian di India juga disebabkan oleh sistem peringatan dini yang tidak efektif dan kurangnya kesadaran tentang cara mengurangi risiko," tambah laporan yang diterbitkan dalam jurnal internasional Lingkungan, Pembangunan, dan Keberlanjutan.

Kematian massal akibat satu serangan sering terjadi, misalnya saat petani berlindung secara berkelompok dari terik hujan di bawah pohon.

Laporan tersebut menyatakan data kematian akibat petir yang tercatat menunjukkan tren peningkatan, dengan dua dekade terakhir menunjukkan peningkatan tertinggi. "Ini perkembangan yang mengkhawatirkan," katanya.

"Tren peningkatan kondisi iklim ekstrem kemungkinan akan memperburuk situasi.Kebutuhan mendesak untuk perubahan kebijakan guna mengurangi dampaknya," tambahnya.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

Gerak Cepat Atasi Karhutla! Operasi Modifikasi Cuaca Berlanjut, BMKG Kini Bergerak ke Berau

Nasib 193 Pedagang Ikan Kramat Jati Terungkap, Bakal Dipindah ke Lokbin

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.