Dinas Pertanian Garut Membangun Rumah Burung Hantu untuk Kendalikan Hama Tikus

Selasa, 06 Agu 2024, 00:04 WIB

Garut - Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Garut, Jawa Barat, mendorong petani untuk membangun rumah burung hantu sebagai upaya mengendalikan hama tikus yang seringkali merusak tanaman padi sehingga menimbulkan kerugian karena menurunkan produktivitas hasil tani.

"Kita rencana me-'launching' atau membuat, sudah laporan ke Pak Sekda untuk seribu rumah burung hantu tersebar di seluruh 42 kecamatan," kata Kepala Dispertan Kabupaten Garut Haeruman kepada wartawan di Garut, Senin.

Ia menuturkan, pembuatan rumah burung hantu itu merupakan program Kementerian Pertanian untuk mengendalikan hama tikus yang selama ini menyebabkan tanaman pangan seperti padi rusak.

Lahan pertanian di Kabupaten Garut yang terdampak hama tikus itu, kata dia, merupakan terbesar di Provinsi Jawa Barat, dan urutan ke-10 daerah yang paling besar terdampak hama tikus di tingkat nasional, untuk itu Kementerian Pertanian mengendalikan hama tikus dengan memanfaatkan burung hantu.

"Bukan hanya di Garut, tapi seluruh Indonesia harus ada pengendalian hama tikus yang ramah lingkungan, pemangsa yang makannya tikus, salah satunya burung hantu," katanya.

Ia menyampaikan sejumlah petani yang paham dalam mengendalikan hama tikus sudah membuat beberapa rumah burung hantu di Garut, untuk itu ke depannya pemerintah daerah akan membuat banyak rumah burung hantu tersebar di seluruh desa/kelurahan.

Apalagi saat ini, kata dia, sudah musim kemarau yang seringkali terjadi peningkatan serangan hama tikus melanda padi di Garut, sehingga harus secepatnya dibuatkan rumah burung hantu di wilayah yang banyak terdampak hama tikus.

"Adanya rumah burung hantu itu sangat efektif, jadi musuh tikus itu pertama burung hantu, dan kedua ular," katanya.

Ia menyampaikan upaya membangun rumah burung hantu itu akan terlebih dahulu mengedukasi petani terkait kesadaran tentang pemangsa utama tikus yakni burung hantu, untuk itu keberadaannya tidak boleh diganggu maupun diburu.

Selanjutnya, kata dia, petani bisa secara swasta membangun rumah burung hantu, dan pemerintah daerah akan menyiapkan dana stimulan yang kebutuhan anggarannya sekitar Rp300 ribu untuk membangun satu rumah burung hantu.

"Kita bangun swadaya, kalau pun ada dari pemerintah sifatnya stimulan karena murah, satu rumah burung hantu itu hanya Rp300 ribu," katanya.

Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Garut dari BPTPH Jawa Barat, Ahmad Firdaus menambahkan, dampak hama tikus di Garut cukup luas, tercatat selama lima tahun terakhir sampai tahun 2023 per tahunnya rata-rata seluas 1.332 hektare tersebar di 42 kecamatan dari luas pertanian di Garut 41.725 hektare.

Tercatat sementara lahan pertanian yang diserang hama tikus sampai Juli 2024, kata dia, sekitar 56 hektare dengan kondisi tanam rusak ringan atau masih memiliki potensi untuk diselamatkan.

"Keadaan sekarang akhir Juli keadaan serangan tikus itu di lapangan 56 hektare, kecamatan tertinggi Singajaya 11 hektare, Cihurip 8 hektare, Banjarwangi 6 hektare, di bawah 4 hektare ada beberapa kecamatan," kata Ahmad didampingi Sub Koordinator Perlindungan Tanaman pada Dispertan Garut Aden Kurniawan.

Ia menyampaikan salah satu cara yang cukup efektif untuk mengendalikan hama tikus yaitu dengan cara menjaga kelestarian burung hantu sebagai satwa predator tikus di sawah, seperti yang sudah dilakukan dan berhasil di kabupaten lain.

Ia menyebutkan membuat rumah burung hantu itu salah satu solusi agar burung tersebut menetap di sana, untuk selanjutnya bisa memangsa tikus di sawah dengan jangkauan cukup luas sekitar 10 km atau seluas 5 hektare.

"Burung hantu musuh alami yang mampu bekerja dalam satu malam bisa memburu 10 ekor tikus, jadi sangat efektif," katanya.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Jangan Lupa Kenakan Masker! Kualitas Udara Jakarta Senin Pagi Tak Sehat, Warga Diminta Waspada

Luar Biasa Barcelona Bantai Elche 5-0! Raphinha dan Fermin Sama-Sama Cetak Brace

Motor Pedagang di Kelapa Gading Hilang Akibat Ditipu, Modusnya Bikin Kaget

Kabar Besar untuk Warga Bogor Barat, Pemkab Bocorkan Rancang 6 Stasiun Baru

Drama 4 Gol dan Kartu Merah! Atletico Madrid Gagal Menang atas Villarreal

Hobi Unik Febry Arnold, Diaspora Indonesia yang Gemar Taklukkan Maraton

Juventus Start Sempurna Raih Tiga Poin! Frosinone Jadi Korban di Pekan Pertama Serie A

Sempat Unggul, Liverpool Gagal Menang! Newcastle Paksa The Reds Berbagi Poin

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.