Bank Dunia Tawarkan Peta Jalan untuk Hindari 'Middle-Income Trap'

Sabtu, 03 Agu 2024, 00:02 WIB

WASHINGTON - Bank Dunia, pada hari Kamis (1/8), mengatakan lebih dari 100 negara, termasuk Tiongkok, berisiko memasuki perangkap pendapatan menengah atau middle-income trap dan gagal menjadi negara kaya, saat lembaga donor itu meluncurkan peta jalan komprehensif untuk mencapai status berpendapatan tinggi.

Dalam Laporan Pembangunan Dunia 2024, Bank Dunia menyatakan negara-negara biasanya terjebak dalam perangkap seperti itu saat pendapatan mereka mencapai sekitar 10 persen dari PDB per kapita AS tahunan, sekitar 8.000 dollar AS saat ini, yang terbukti sulit untuk dilampaui.

Ket. Foto: Kepala ekonom Grup Bank Dunia, Indermit Gill — Sumber: koran jakarta/m fachri

Dikutip dari The Business Times, dengan lebih dari 100 negara yang mewakili lebih dari 75 persen populasi dunia yang saat ini diklasifikasikan sebagai berpendapatan menengah, menangani masalah tersebut akan terbukti penting bagi pembangunan ekonomi dalam beberapa dekade mendatang.

"Perjuangan untuk mencapai kemakmuran ekonomi global sebagian besar akan dimenangkan atau dikalahkan oleh negara-negara berpendapatan menengah," kata kepala ekonom Grup Bank Dunia, Indermit Gill, dalam sebuah pernyataan, yang menyerukan pendekatan baru.

Teknologi Baru

Gill mengatakan pertama-tama fokuslah pada investasi; kemudian tambahkan penekanan pada penanaman teknologi baru dari luar negeri. Akhirnya, terapkan strategi tiga cabang yang menyeimbangkan investasi, penanaman teknologi, dan inovasi.

"Dengan meningkatnya tekanan demografi, ekologi, dan geopolitik, tidak ada ruang untuk kesalahan," kata Gill.

Bank Dunia mencontohkan Korea Selatan sebagai bekas negara berkembang yang menggunakan strategi ini untuk berhasil mencapai status berpendapatan tinggi.

"Jika mereka masih menggunakan cara lama, sebagian besar negara berkembang akan kalah dalam perlombaan menciptakan masyarakat yang cukup sejahtera pada pertengahan abad ini," kata Gill dalam Laporan Pembangunan Dunia.

"Tim yang menulis laporan ini berharap dapat mengubah perhitungan ini secara radikal," tambahnya.

Terkait masalah perkonomian ini, baru-baru ini Bank Dunia mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dapat terjaga stabil di atas 5 persen dengan tingkat inflasi rendah.

Apresiasi itu disampaikan Managing Director Bank Dunia, Anna Bjerde, dalam pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, sebagaimana disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

"Presiden menerima Managing Director dari World Bank, Ibu Anna, didampingi oleh World Bank Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, World Bank mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di atas 5 persen dan dengan tingkat inflasi yang rendah," ujar Airlangga.

Bank Dunia menyatakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini sekitar 2,6 sampai dengan 2,7 persen. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun depan hanya berkisar 4,8 persen.

"Namun, pertumbuhan Indonesia tidak termasuk yang rendah. Jadi, pertumbuhan Indonesia tetap sekitar 5 persen. Nah, oleh karena itu, World Bank juga mengapresiasi program-program yang dilakukan oleh pemerintah," kata Airlangga.

Menurutnya, Bank Dunia mengapresiasi antara lain program-program pengurangan kemiskinan dan yang terkait dengan infrastruktur untuk pertanian, termasuk dengan irigasi.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.