Pemahaman Nilai Cegah Dampak Buruk Internet ke Anak
Rabu, 24 Jul 2024, 03:13 WIBJAKARTA - Guru Besar Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Sutinah, mengatakan penguatan pemahaman nilai dapat mencegah dampak buruk internet pada anak.
Perkembangan pesat teknologi informasi dan penggunaan internet tanpa pengawasan membawa dampak signifikan pada perkembangan anak mulai dari aspek mental, psikologis, pendidikan, hingga perilaku seksual.
"Perlu ada penanaman nilai nasionalisme, perjuangan, pendidikan karakter, dasar budaya Indonesia, toleransi, dan multikulturalisme bagi anak," ujar Sutinah, dalam keterangannya, Selasa (23/7).
Dia menekankan, anak-anak berhak atas kehidupan yang bebas dari segala bentuk kekerasan, eksploitasi, diskriminasi, pekerja anak, dan stunting.
Menurutnya, penting menciptakan ruang dialog yang terbuka dengan anak-anak guna memastikan pemenuhan kebutuhan dan hak-hak mereka agar memberikan perlindungan yang optimal.
Sutinah menambahkan, untuk memastikan anak-anak terlindungi dari berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi, maka perlu untuk menciptakan lingkungan yang ramah anak. Tidak hanya di lingkungan keluarga, tapi juga sekolah, komunitas, serta sosial.
"Negara juga harus memberikan akses yang memadai untuk layanan dan sumber daya, termasuk layanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan dari kekerasan," jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA), Bintang Puspayoga, mengungkapkan, dampak internet terhadap anak menjadi isu dalam Hari Anak Nasional (HAN) 2024 sebab setiap harinya anak tidak pernah lepas dari teknologi dan internet.
Peluang besar mendapatkan informasi seluas-luasnya dari internet harus disertai dengan tanggung jawab penggunaan internet dengan bijaksana. Hal tersebut agar terhindar dari kekerasan di ranah daring.
"Tidak semua anak dapat memanfaatkan perkembangan teknologi secara optimal. Banyak di antara anak-anak yang menjadi korban penyalahgunaan internet," katanya.
Dia menyebut, lingkungan keluarga sebagai lingkaran pertama dan terdekat dalam kehidupan anak, khususnya orang tua harus memiliki tanggung jawab penuh atas tumbuh kembangnya anak, pengasuhan anak, dan memastikan anak tetap aman saat berselancar di dunia maya.
Orang tua mesti menjadi panutan bagi anak untuk bisa memilih konten-konten yang positif bagi perkembangan otak anak.
"Dalam hal ini, baik orangtua maupun anak-anak harus saling kerja sama untuk meningkatkan kecerdasan digital yang menjadi salah satu benteng perlindungan anak-anak di ranah daring," ucapnya.ruf/S-2
Redaktur: Sriyono
Penulis: Muhamad Ma'rup
Berita Terkait:
-
Kemlu RI Serukan Investigasi Penuh Kapal Terbakar Berawak WNI di Selat Hormuz
-
Belajar dari Industrialisasi Pertahanan Iran: Model Kemandirian Terpaksa
-
PT KAI Divre I Sumut Pastikan Angkutan Barang Tetap Beroperasi Selama Lebaran
-
Survei Ungkap 70% Warga Amerika Serikat Khawatir Konflik dengan Iran
-
Pakistan Diberi Ijin Iran Melintas di Selat Hormuz
-
Call Center 133 Dibuat Jasa Marga untuk Bantu Pengguna Jalan yang Alami Darurat
-
Maskapai Asia-Pasifik Hentikan Penerbangan ke Timur Tengah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.