KPK Harus Dalami Laporan 'Mark Up' Impor Beras

Rabu, 10 Jul 2024, 08:51 WIB

JAKARTA - Laporan Studi Demokrasi Rakyat (SDR) terkait dugaan penggelembungan atau mark up impor beras harus ditindaklanjuti oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Langkah hukum perlu ditempuh untuk membuktikan dugaan tersebut. Selama ada impor beras, potensi terjadinya tindakan korupsi selalu ada.

Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi menyatakan masyarakat perlu mendukung KPK mengusut dugaan mark up impor beras tersebut sampai tuntas. Terrlebih lagi, dugaan ini berpotensi merugikan negara.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

"Bangsa ini punya sejarah buruk soal korupsi impor beras maupun beberapa komoditas pangan lainnya," tegasnya kepada Koran Jakarta, Selasa (9/7).

Badiul mengatakan, kalau proses aduan cukup kuat dan ditindaklanjuti, tinggal nanti dibuktikan di pengadilan. "Selama didukung fakta data yang valid dan kredibel laporan itu sah-sah saja. Yang terpenting Badan Pangan Nasional (Bapanas) maupun Bulog yang merupakan pihak terlapor tinggal buka saja informasi maupun data yang dilaporkan, itu jauh lebih bijak," paparnya.

Seperti dikatahui, tren impor beras meningkat jelang tahun politik. Pada 2018, tercatat impor beras mencapai 2,2 juta ton, sementara pada 2023 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor beras mencapai 3,06 juta ton.

Badiul berharap pemerintah membenahi tata kelola impor pangan, dan dipastikan tidak menjadi lahan para pihak yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan korupsi atau tindakan lainnya yang merugikan keuangan negara.

"Pemerintah, seharusnya sudah melakukan tindakan yang lebih nyata untuk memenuhi kebutuhan beras tidak lagi dari impor. Misalnya, memperkuat keberpihakan pada petani, meningkatkan produksi dalam negeri, memberikan jaminan harga yang baik saat panen raya," tegasnya.

Menanggapi adanya laporan pihak terkait mengenai dugaan mark up impor 2,2 juta ton, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Gusti Ketut Astawa mengungkapkan pihaknya tidak masuk ke dalam pelaksanaan importasi yang menjadi kewenangan Bulog. "Bulog juga sudah mengklarifikasi bahwa terkait perusahaan Vietnam tersebut tidak pernah memberikan penawaran harga ke Bulog," ujar Ketut.

Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Mokhamad Suyamto mengatakan perusahaan Tan Long Vietnam yang diberitakan memberikan penawaran beras, sebenarnya tidak pernah mengajukan penawaran harga sejak bidding tahun 2024 dibuka.

Terkendala "Demurrage"

Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IV DPR, Kamis (20/6), menjelaskan Demurrage yang menjadi persoalan.

Dia menjelaskan Demurrage atau keterlambatan bongkar muat, terangnya, merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan sebagai bagian dari risiko handling komoditas impor. "Jadi misalnya dijadwalkan 5 hari, menjadi 7 hari. Mungkin karena hujan, arus pelabuhan penuh, buruhnya tidak ada karena hari libur, dsb. Dalam mitigasi risiko importasi, Demurrage itu biaya yang sudah harus diperhitungkan dalam kegiatan ekspor impor. Adanya biaya demurrage menjadi bagian konsekuensi logis dari kegiatan eskpor impor," ucap Bayu.

Adapun Bulog, papar Bayu, selalu berusaha meminimalkan biaya demurrage. Hal itu sepenuhnya menjadi bagian dari biaya yang masuk dalam perhitungan pembiayaan perusahaan pengimpor atau pengeskpor.

Seperti diketahui, Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR) Hari Purwanto selaku pelapor mengatakan, jumlah beras yang diimpor itu 2,2 juta ton dengan selisih harga mencapai 2,7 triliun rupiah. "Harganya jauh di atas harga penawaran. Ini menunjukkan indikasi terjadinya praktik mark up," kata Hari saat ditemui awak media di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (3/6).

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Durian Melimpah di Lebak, Pedagang Raup Omzet hingga Rp50 Juta Sehari

Kampung Adat Sade Terbakar, Kemenpar Siapkan Dapur Umum dan Pemulihan Wisata

Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, BNPB Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca dan Armada Pemadaman

Karhutla Makin Mengancam, Kemenhub Fasilitasi Pesawat Asing untuk Perkuat Penanganan

Aturan Baru Florida Bikin Geger! Ngebut Ditilang, Berkendara Lambat Juga Kena

Potensi Karhutla pada Musim Kemarau, BMKG Minta Masyarakat DIY Waspada

Karyawan Hyundai-Kia Mogok Besar-besaran, 40.000 Pekerja Khawatir Robot AI Gantikan Manusia

Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Polda Lampung: Tim Pastikan Tak Ada Titik Api Lain

Fitur Canggih Mobil Ternyata Jarang Dipakai, Ada yang Tak Tahu Cara Menggunakannya

Krisis Air Bersih di Natuna! Pemkab Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak

Kekeringan Meteorologis, BMKG Ingatkan Seluruh Wilayah Jateng untuk Siaga

Curanmor Merajalela! Polda Banten Bongkar Sindikat yang Beraksi di 14 Lokasi

Status Siaga Kekeringan Meteorologis untuk Seluruh Wilayah Jateng

Rumah Adat Wisata Sade Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus pada Pemulihan Korban

Cincinnati Open, Area Sial bagi Swiatek Dikalahkan Pegula

Prawirotaman Adakan Festival Guna Menunjang Kunjungan Wisata

Warga Semarang yang Akan Menikah, Lihat Pameran 50 Vendor Wedding

Jatim Hari Ini Cerah-Berawan, Gelombang hingga 3,7 Meter Mengintai Perairan Selatan

Gubernur Emanuel Melkiades Bawa Bantuan ke Tiga Titik Terdampak Gempa M7,7 di Riung

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.