89 Imigran Tewas di Laut Lepas Mauritania Saat Hendak Menuju Eropa

Jumat, 05 Jul 2024, 08:33 WIB

NOUAKCHOTT - Hampir 90 migran yang hendak menuju Eropa tewas ketika kapal yang mereka tumpangi terbalik di lepas pantai Mauritania awal minggu ini, kantor berita negara dan pejabat setempat mengatakan pada hari Kamis (4/7). Puluhan orang lainnya masih hilang.

"Penjaga pantai Mauritania menemukan jasad 89 orang di atas kapal nelayan tradisional besar yang terbalik pada Senin 1 Juli di pantai Samudra Atlantik" sekitar empat kilometer dari kota Ndiago di barat daya negara itu, kata kantor berita negara itu.

Ket. Foto: Rute Atlantik sangat berbahaya karena arusnya yang kuat, para migran bepergian dengan perahu yang kelebihan muatan, seringkali tidak layak laut, tanpa air minum yang cukup.  — Sumber: sky.com

Penjaga pantai menyelamatkan sembilan orang, termasuk seorang bocah perempuan berusia lima tahun, katanya.

Badan tersebut mengutip pernyataan korban selamat yang mengatakan bahwa kapal berlayar dari perbatasan Senegal dan Gambia membawa 170 penumpang, sehingga jumlah orang hilang menjadi 72 orang.

Seorang pejabat senior pemerintah setempat memberikan informasi serupa kepada AFP, dengan syarat anonim.

Rute Atlantik sangat berbahaya karena arusnya yang kuat, para migran bepergian dengan perahu yang kelebihan muatan, seringkali tidak layak laut, tanpa air minum yang cukup.

Namun popularitasnya meningkat karena meningkatnya kewaspadaan di Mediterania.

Jumlah migran yang mendarat di Kepulauan Canary Spanyol pada tahun 2023 meningkat lebih dari dua kali lipat dalam satu tahun hingga mencapai rekor 39.910, menurut pemerintah Spanyol.

Di lepas pantai Afrika Utara, Kepulauan Canary Spanyol terletak 100 kilometer jauhnya pada titik terdekatnya.

Tetapi banyak kapal -- seringkali perahu kayu panjang pirogue -- berangkat dari tempat yang jauh, berlayar dari Maroko, Sahara Barat, Mauritania, Gambia, dan Senegal.

Lebih dari 5.000 migran tewas saat mencoba mencapai Spanyol melalui laut dalam lima bulan pertama tahun ini, atau setara dengan 33 kematian per hari, menurut Caminando Fronteras, sebuah badan amal Spanyol.

Itu adalah jumlah kematian harian tertinggi sejak 2007, dan sebagian besar terjadi di rute Atlantik.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Perang Dagang AS-Kanada Memanas: Mark Carney Siapkan Bea Masuk Produk Washington

Xabi Alonso Yakin Cole Palmer Tampil Menawan Bersama Chelsea Jelang Laga Lawan Fulham

Karya Tangan Badui Unjuk Gigi di Bazar Harkop Harnas 2026

Jelang Laga Kontra Liverpool, Newcastle United Resmi Perluas Kapasitas St James' Park

Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

3 Tantangan Berat Trent Alexander-Arnold Usai Putuskan Hengkang dari Liverpool

Virus Zika Jadi Sorotan, Dispar Bali Minta Wisman Tetap Santai Berwisata

PLN dan YBM PLN Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Promo Tambah Daya untuk Warga Lenteng Agung.

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.