• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Upaya Tak Mudah Portugis M...

Upaya Tak Mudah Portugis Menguasai Afrika Timur

Jumat, 17 Mei 2024, 06:10 WIB

Sebelum Portugis datang pantai Afrika timur menjadi tempat berdagang orang Afrika, Arab, India, dan Tiongkok. Kedatangan bangsa Eropa ini mengganggu keseimbangan perdagangan yang sudah berusia satu abad.

Bangsa Portugis pertama kali tertarik pada Afrika timur sejak awal abad ke-16 ketika kerajaan mereka berlayar ke arah timur melintasi Samudra Hindia. Sebelum bangsa Eropa ini datang, perdagangan di wilayah tersebut sudah mapan dan dilakukan oleh orang Afrika, India, dan Arab.

Ket. Foto: — Sumber: afp/ SIMON MAINA

Serangan Portugis terhadap kota-kota perdagangan di Pantai Swahili dan Kerajaan Mutapa tidak membawa manfaat nyata karena para pedagang hanya berpindah ke utara. Akibatnya, mereka memutuskan untuk berkonsentrasi di wilayah yang menjadi Afrika timur Portugis alias Mozambik Portugis dengan lokasi lebih jauh ke selatan.

Afrika timur memiliki pantai yang panjang yang disebut dengan Pesisir Swahili. Kawasan ini tempat bagi para pedagang Afrika, Arab, dan Muslim bercampur sehingga menciptakan identitas unik dari abad ke-8 yang disebut Budaya Swahili. Swahili adalah nama bahasa mereka dan berarti "orang pesisir".

Pesisir ini makmur dari abad ke-12 hingga ke-15 berkat banyaknya pulau-pulau kecil dan pelabuhan alami. Terdapat 35 kota perdagangan independen seperti Mombasa, Mogadishu, dan Zanzibar, menjalin kontak perdagangan yang menguntungkan dengan suku-suku Afrika di pedalaman dan negara-negara di seberang Samudra Hindia seperti Arab, India, dan bahkan Tiongkok.

Emas, gading, cangkang kura-kura, kulit binatang, dan budak datang dari pedalaman Afrika untuk diperdagangkan dengan barang-barang Asia seperti sutra, rempah-rempah, dupa, porselen Ming, barang pecah belah, koral, dan perhiasan. Kemudian pada tahun-tahun terakhir abad ke-15, Portugis datang untuk mengganggu keseimbangan perdagangan yang sudah berlangsung sangat lama.

Langkah penting pertama dalam permainan kerajaan ini terjadi pada pelayaran Vasco da Gama pada 1498-1499. Setelah mengetahui rute tersebut, penjelajah Portugis dengan berani berlayar mengitari Tanjung Harapan dan menyusuri pantai timur Afrika sebelum berlayar ke timur menuju India.

Dia kemudian membuka jalur maritim antara Eropa dan India. Mereka juga memperhatikan kapal-kapal dagang sarat dengan barang-barang berharga yang berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Swahili Afrika, yang datang dari kawasan Arab, India, dan Tiongkok.

Sejak 1502, Portugis berniat untuk meningkatkan perdagangan di wilayah tersebut, dan mereka mulai menenggelamkan kapal, menghancurkan kota, dan membangun benteng untuk mencapai tujuan tersebut. Portugis mempunyai tujuan kedua dalam serangan mereka di Afrika timur yaitu menghancurkan dunia Islam dengan cara apapun.

Pesisir Swahili merupakan wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam di Afrika, sebagaimana dicatat oleh sejarawan Philip Curtin & Steven Feierman & Leonard Thompson & Jan Vansina dalam buku African History (1995). "Agama Islam pada akhirnya menjadi salah satu elemen utama identitas Swahili. Menjadi seorang Swahili, di abad-abad berikutnya, berarti menjadi seorang Muslim," tulis mereka.

Mereka yang mengikuti jejak Vasco da Gama menginginkan satu hal yaitu kendali penuh atas jaringan perdagangan Samudra Hindia. Portugis mempunyai senjata yang lebih unggul dan mereka menggunakannya untuk menimbulkan kekacauan di antara kota Swahili. Persaingan antara Sultan Malindi dan Mombasa membuat mereka tidak dapat membentuk respons terpadu terhadap ancaman baru dan mematikan ini.

Untuk mencapai dominasi dengan relatif mudah di wilayah tersebut, para pemukim dan pedagang Portugis akhirnya menetap di berbagai titik di sepanjang pantai Swahili seperti Malindi, Mombasa, Pemba, Sofala, dan Kilwa.

Banyak pedagang non-Portugis yang melanjutkan perdagangan mereka juga, karena Portugis menyadari bahwa mereka tidak dapat mengawasi seluruh samudra. Kerja sama mereka terbukti lebih menguntungkan daripada konfrontasi.

Kebijakan yang Rakus

Ketika semakin banyak koloni didirikan di India, Pantai Swahili berulang kali diserang dari pangkalan-pangkalan ini. Sebagai balasannya pada 1505, Kota Kilwa dihancurkan menjadi reruntuhan oleh meriam Portugis, diambil alih dan dibentengi kembali.

Benteng-benteng dibangun di sepanjang pantai Afrika Timur, terutama di Sofala pada 1505, Pulau Mozambik pada 1507, dan Shama pada 1526. Pada 1536, Pelabuhan Massawa di Kerajaan Abyssinia direbut.

Penguasa Abyssinia tidak terlalu kecewa dengan kekalahan tersebut karena mereka memperoleh senjata api dari orang-orang Eropa. Alat ini terbukti berguna dalam pertempurannya sendiri dengan pasukan saingan di wilayah tersebut.

Portugis sangat senang karena Abyssinia merupakan kerajaan Kristen dan sekutu melawan Afrika timur yang tampaknya didominasi Islam. Segalanya berjalan baik pada awalnya ketika, pada tahun 1543, Portugis membantu orang Etiopia mengalahkan tentara Ahmad ibn Ibrahim al-Ghazi (1506-1543), pemimpin Kesultanan Adal di utara.

Kelemahan yang lebih serius dalam kebijakan luar negeri Portugal di kawasan ini adalah kurangnya minat untuk membangun perjanjian perdagangan yang saling menguntungkan dengan kota-kota Swahili atau kerajaan-kerajaan di pedalaman Afrika.

Portugis hanya menggunakan pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Portugis pada dasarnya hanyalah sekedar tempat pengumpulan komoditas karena orang Portugis hanya ingin mengambil segala sesuatu yang bernilai dengan biaya sesedikit mungkin.

Seiring dengan bertambahnya kehadiran Portugis, mereka mengambil sikap yang lebih agresif terhadap pedagang saingannya. Kapal-kapal asing dirusak dan barang dagangan disita. Akibat dari kebijakan yang rakus ini adalah para pedagang berpindah ke utara dan pesisir Swahili yang ramai mengalami kemunduran yang parah.

Ketika para pedagang menjauh, Portugis kemudian melakukan hal terbaik berikutnya yaitu mencari barang di sumbernya. Untuk mencapai tujuan ini, pada 1530 mereka menaruh perhatian lebih besar pada Kerajaan Mutapa di ujung selatan (Zimbabwe utara modern dan Zambia selatan).

Masyarakat Shona di Mutapa yang berbahasa Bantu mewarisi jaringan perdagangan di wilayah tersebut dari pendahulunya, Zimbabwe Ray,a yang berjaya sekitar tahun 1100 hingga 1550. Barang-barang dari Mutapa seperti emas dan gading, diperdagangkan dengan Sofala, sebuah pos terdepan yang dikendalikan oleh Kota Kilwa di Swahili paling selatan. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.