Panas Ekstrem Dapat Berdampak pada Kesehatan Mental

Sabtu, 04 Mei 2024, 00:03 WIB

JAKARTA - Penelitian yang diterbitkan jurnal Lancet mengatakan panas ekstrem dapat berdampak besar pada kesehatan mental seseorang, menyebabkan peningkatan agresi, perilaku bunuh diri, kecenderungan depresi, dan penggunaan narkoba. "Semakin banyak bukti yang menunjukkan suhu di luar ruangan dapat mempengaruhi kesehatan mental, yang khususnya mengkhawatirkan dalam konteks perubahan iklim," tulis penelitian tersebut, seperti dikutip laman Hindustan Times, Jumat (3/5).

Analisis tersebut menemukan suhu di luar ruangan dikaitkan dengan percobaan bunuh diri, kehadiran di rumah sakit atau masuk rumah sakit karena penyakit mental, dan dampak buruk terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan masyarakat.

Ket. Foto: Dua orang anak berlindung dari terik panas matahari menggunakan payung saat pulang sekolah di New Delhi, India, Jumat (3/5). — Sumber: AFP/ARUN SANKAR

Seperti dikutip dari Antara, Sucheta Gore, psikolog, Mpower menyarankan orang untuk tetap berada di dalam rumah selama kondisi gelombang panas dan melakukan aktivitas dengan lambat.

Gore mengatakan panas terik di musim panas dapat membuat seseorang menjadi marah dan mudah tersinggung dan seseorang tidak boleh menganggap remeh kesehatan mentalnya dan mengambil langkah untuk memperbaikinya.

"Dari meningkatnya kecemasan hingga meningkatnya depresi, panas terik dapat melampaui dunia fisik dan masuk ke dalam jiwa dari individu yang sudah bergulat dengan tekanan kehidupan modern. Temperatur yang lebih tinggi dapat menyebabkan orang merasa lebih marah, frustrasi, dan mudah tersinggung," katanya.

Risiko tekanan emosional dan masalah kesehatan mental baik lainnya juga ada selama gelombang panas ekstrem. Penelitian menunjukkan area otak yang bertanggung jawab untuk menyusun dan menyelesaikan tugas-tugas kognitif yang kompleks terganggu oleh tekanan panas.

Makanan Sehat

Gore menyarankan beberapa langkah yang dapat kita ambil untuk melindungi kesehatan mental kita di tengah panas terik, seperti tetap terhidrasi, makan makanan sehat untuk kesehatan fisik, batasi aktivitas di luar, kenakan pakaian yang nyaman jika bepergian.

Selain itu, batasi konsumsi kafein dan alkohol selama musim panas, dan luangkan waktu dan investasikan dalam aktivitas perawatan diri seperti mandi air dingin.

Sementara itu, dokter spesialis penyakit dalam RS Cipto Mangunkusumo, Faisal Parlindungan, mengatakan cuaca panas dapat berdampak lebih serius pada kesehatan orang-orang yang rentan, seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak karena dehidrasi.

"Dehidrasi ditandai dengan rasa haus, kulit terasa kering dan panas, keringat berlebih, pucat, rasa berdebar atau jantung berdetak lebih cepat, keram pada kaki atau perut, urine sedikit dan berwarna pekat yang jika tidak ditangani dapat mengakibatkan komplikasi seperti syok hipovolemik," kata Faisal.

Selain itu, pada kelompok rentan, cuaca panas juga bisa menyebabkan heatstroke atau serangan panas. Faisal menjelaskan heatstroke adalah kondisi medis darurat yang terjadi ketika suhu tubuh naik di atas 40 derajat Celsius. Gejalanya meliputi kebingungan, kejang, dan kehilangan kesadaran.

Paparan panas yang berkepanjangan pada orang yang rentan juga dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ vital, seperti jantung, ginjal, dan otak.

Pada lansia, kemampuan tubuh untuk mengatur suhu internal akan menurun seiring bertambahnya usia. Lansia dengan komorbid seperti jantung, diabetes, dan ginjal juga dapat memperburuk efek dehidrasi dan panas. Sementara pada ibu hamil yang memiliki komplikasi kehamilan juga harus mencukupi kebutuhan cairannya agar tidak terjadi dehidrasi.

"Ibu hamil dengan komplikasi kehamilan, seperti preeklamsia, lebih rentan terhadap efek panas. Ibu hamil memiliki kebutuhan cairan yang lebih banyak untuk mendukung perkembangan janin dan volume darah yang meningkat dan agar tidak dehidrasi," katanya.

Faisal mengatakan cuaca panas yang ekstrem dapat berdampak pada kesehatan anak-anak. Ia menjelaskan anak-anak memiliki rasio permukaan tubuh terhadap berat badan yang lebih besar dibandingkan orang dewasa sehingga mereka lebih mudah kehilangan cairan akibat cuaca panas dan mengalami dehidrasi.

Selain itu, anak dengan penyakit kronis seperti asma juga lebih rentan terhadap efek panas maupun cuaca yang kurang baik.

Di samping itu, orang yang berisiko tinggi dehidrasi, seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak, harus lebih berhati-hati dalam mengonsumsi kopi, terutama saat cuaca panas.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.