RI-Malaysia Dorong Kolaborasi Asean-GCC
Selasa, 30 Apr 2024, 10:48 WIBJAKARTA - Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat untuk mengusulkan kolaborasi ASEAN dan Gulf Cooperation Countries (GCC) sebagai kekuatan ekonomi baru. Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam World Economic Forum (WEF) Special Meeting on Global Collaboration, Growth and Energy for Development di Riyadh, Arab Saudi, 28-29 April 2024.
Dalam keterangan Kemenko Perekonomian yang dikutip di Jakarta, Senin (29/4), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto mengatakan untuk memperkuat Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang sebelumnya telah dijalin Asean bersama beberapa negara mitra, dirinya mengusulkan untuk memperluas mitra kerja sama RCEP dengan negara-negara di GCC.
"Asean mempunyai trade bloc yang besar yaitu RCEP, yakni Asean + 6 negara. Jika ditambahkan dengan trade bloc GCC, maka ini akan menjadi mega trade bloc terbesar di dunia," ungkapnya.
Dia menilai trade bloc dapat memfasilitasi berbagai potensi kerja sama di sektor perdagangan, investasi, digital ekonomi, keuangan syariah, UMKM, serta pertukaran pemuda.
Airlangga juga menggarisbawahi Kerangka Kerja (Framework) Asean-GCC berikutnya yang implementasinya harus lebih jelas dan konkret.
Penjajakan kerja sama perdagangan bebas (free trade agreement) perlu dimulai dengan negara-negara GCC, sedangkan yang sudah ada perlu diperkuat dan diperluas lagi. Kerja sama tersebut tentu akan menjadi peluang investasi dan perdagangan baru yang akan memperkuat ekonomi kedua kawasan.
Sektor pertanian, energi, pariwisata merupakan sektor esensial, mengingat kedua kawasan ini memiliki keunikan sendiri, termasuk potensi kerja sama di bidang transisi energi, carbon storage, pendidikan, budaya, dan industri produk halal.
Kerja sama itu juga akan berkontribusi pada peningkatan ketahanan pangan dan energi, sekaligus memberikan sinyal ke dunia bahwa Asean-GCC merupakan suatu kekuatan ekonomi baru di dunia.
Pada kesempatan sama, PM Malaysia Anwar Ibrahim juga mengidentifikasi bagaimana kedua kawasan ini dapat naik tingkat dalam kerja sama antarregional dan menyongsong pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.
"Dialog ini sangat penting sebagai momentum penguatan kerja sama Asean dan GCC terutama di segi perdagangan dan investasi. Terlebih, Indonesia, Malaysia, dan Laos merupakan troika dari Keketuaan ASEAN tahun ini," kata Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.
Troika sendiri merupakan konsep penggiliran keketuaan suatu acara untuk menjamin ketersambungan dan keberlanjutan isu yang dibahas.
Adapun pada 2023 lalu, Keketuaan Asean dipegang oleh Indonesia dan mengangkat tema "Epicentrum of Growth".
Selanjutnya pada 2024 ini, Keketuaan ASEAN dipegang oleh Laos, sekaligus bertepatan dengan momen KTT ASEAN-GCC berikutnya, sedangkan pada 2025, Keketuaan ASEAN akan dipegang oleh Malaysia.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Edukasi Gigi dan Mulut di Sekolah, Ajarkan Cara Menjaga Kesehatan Sejak Dini
-
Hasil Liga Italia: Imbang tanpa Gol, AC Milan dan Juventus Tak Beranjak di Klasemen
-
Gedung Putih: Trump dan Penasihat Keamanannya Sedang Membahas Proposal Baru Iran
-
Jangkau 40 Ribu Perempuan! PLN Kuatkan Peran Kartini Lewat Srikandi Movement
-
UMKM Dibina untuk Makin Mandiri
-
Pemprov Maluku Usulkan Pelepasan Varietas Cengkih Hutan
-
Myanmar Merasa Dikucilkan oleh Asean
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.