BMKG: Masyarakat NTT Diminta Waspada Bibit Siklon Tropis 96S

Jumat, 05 Apr 2024, 00:26 WIB

Larantuka - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mewaspadai Bibit Siklon Tropis 96S yang menyebabkan peningkatan curah hujan dan berdampak pada kejadian bencana.

"Daerah pusaran angin masuk atau Sirkulasi Siklonik yang berada di sebelah Utara NTT atau Laut Flores telah meningkat menjadi Bibit Siklon Tropis 96S dan saat ini terpantau di Laut Sawu," kata Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang Sti Nenotek ketika dihubungi dari Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, Kamis.

Ia menjelaskan Bibit Siklon Tropis 96S itu menyebabkan terbentuknya daerah pertemuan dan belokan angin di wilayah NTT sehingga meningkatkan curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat bahkan ekstrem di wilayah NTT.

Bibit Siklon Tropis 96S itu dalam 24-48 jam ke depan bergerak perlahan ke arah Selatan-Barat Daya.

Menurut BMKG potensi menjadi Siklon Tropis dalam 24 jam ke depan atau hari Jumat masih rendah, sementara 48-72 jam ke depan atau hari Sabtu-Minggu berada pada kategori sedang-tinggi.

Sti menerangkan seluruh wilayah kota dan kabupaten di NTT saat ini berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat.

Hal itu juga dipengaruhi oleh kondisi dinamika atmosfer yang menunjukkan adanya aktivitas Gelombang Atmosfer yang melintasi wilayah NTT yakni Gelombang Equatorial Rossby dan Madden Julian Oscillation (MJO).

"Lalu suhu muka laut di perairan NTT masih hangat serta didukung dengan kondisi atmosfer yang labil dan lembap mulai dari lapisan bawah hingga atas mempengaruhi pembentukan awan-awan konvektif yang dapat menyebabkan cuaca ekstrem," ucap Sti.

BMKG telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem ini yang diprakirakan berlaku hingga 9 April mendatang.

Sti mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kejadian bencana seperti banjir dan tanah longsor.

Ia menyebut wilayah NTT juga berada pada masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau sehingga ada potensi angin kencang berdurasi singkat, puting beliung, serta hujan secara sporadis dalam durasi singkat yang bersifat lokal.

"Namun perlu diwaspadai dampak lainnya seperti pohon tumbang dan sambaran petir," kata dia mengingatkan.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

Presiden Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Karhutla dan Dampak Bencana NTT.

Kodaeral XIII Gelar Lomba Speedboat di Tarakan, Dorong Potensi Kemaritiman Kaltara.

Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal

Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Munafri Arifuddin Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan.

Tips Mengelola Bisnis Kos-Kosan

Fulham Andalkan Serangan Balik untuk Atasi Kreativitas Chelsea 

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW: Akhlak, Ilmu, dan Kesejahteraan Umat .

Gawat Teror Melanda Thailand Selatan! Puluhan Ledakan Terjadi Hanya dalam Sehari

Kegiatan melukis caping di Kota Solo

Kenapa Awan Makin Jarang Terlihat? BMKG Sebut Monsun Australia dan El Nino yang Jadi Penyebabnya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.