• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Telaga Ngebel, Danau Sejuk...

Telaga Ngebel, Danau Sejuk di Kaki Gunung Liman

Sabtu, 30 Mar 2024, 06:10 WIB

Ponorogo memiliki danau buatan yang luas sebagai tempat rekreasi bernama Telaga Ngebel. Berada di kaki Gunung Liman yang berhawa sejuk, pengunjung bisa melakukan berbagai aktivitas yang menyenangkan.

Kabupaten Ponorogo memiliki tempat wisata perairan yang cukup nyaman dikunjungi terutama pada saat bulan Ramadan. Telaga Ngebel demikian namanya, dimana pengunjung bisa menikmati pemandangan telaga yang luas dan udara yang sejuk lalu dilanjutkan menikmati aneka jajanan menjadikannya tujuan yang pas untuk menunggu berbuka puasa.

Ket. Foto: Telaga Ngebel berada di Desa Ngebel, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. — Sumber: antara/ Fikri Yusuf

Lokasi Telaga Ngebel berada di Desa Ngebel, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo. Posisinya di timur laut pusat Kota Ponorogo, dengan jarak 23,7 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 44 menit. Sedangkan dari pusat Kota Madiun, kabupaten tetangganya di utara, jaraknya 30,3 kilometer.

Telaga Ngebel sebenarnya merupakan bendungan dengan luas genangan mencapai 143 hektare. Dibandingkan dengan Telaga Sarangan yang berada di Kabupaten Magetan, yang hanya memiliki luas perairan 30 hektare, maka danau ini memiliki pemandangan luas dan berhawa sejuk ini cukup memanjakan indera.

Lokasinya yang berada di kaki Gunung Liman sebuah gunung dengan ketinggian2.563meter di atas permukaan laut (mdpl).Gunung Liman terletak satu kluster denganGunung Wilis merupakan salah satu dari beberapa gunung yang terletak di Pegunungan Wilis.

Selain Gunung Liman dan Gunung Wilis, di Pegunungan Wilis terdapat beberapa gunung lain yaitu Gunung Djeding, Gunung Dorowati, Gunung Dudo, Gunung Gayungan, Gunung Kembar, Gunung Tugel, dan Gunung Tumpakcandu.

Ketinggiannya dari permukaan air danaunya berada pada 737 mdpl. Dengan ketinggian ini suhu udara di antara 20 hingga 26 derajat Celsius menciptakan hawa yang sejuk, sebuah suasana yang dirindukan oleh wisatawan umumnya.

Sebagai bendungan, Telaga Ngebel dibangun untuk menampung aliran air dari Sungai Jeram. Walaupun begitu, sebagian besar air yang ditampung oleh waduk ini sebenarnya berasal dari Sungai Talun, yang airnya dialirkan ke waduk ini melalui sebuah saluran yang dibangun pada zaman Belanda yaitu mulai 1920 hingga 1924.

Pada awalnya waduk ini hanya dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian masyarakat seluas sekitar 10.000 hektare. Kedalaman waduk setelah selesai dibuat mencapai 59 meter, tetapi karena sedimentasi di wilayah hulu, kedalamannya kini diperkirakan hanya tinggal 20 meter.

Di bagian hulu dari salah satu sungai yang mengalir ke waduk ini terdapat sebuah air terjun yang diberi nama Air Terjun Toyomerto. Air terjun bertingkat dua ini masing-masing memiliki ketinggian25 meter dan 30 meter.

Waduk peninggalan Belanda ini sebelumnya belum dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Baru pada 1959, PLN pun menugaskan Ir Bagoes Moedijantoro untuk merancang pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di dekat waduk ini di bawah bimbingan dari Ir Sedijatmo.

PLTA Ngebel lalu dirancang agar bisa membangkitkan listrik sebanyak 1.600 MWh per tahun untuk memenuhi kebutuhan listrik di Karesidenan Madiun. PLTA Ngebel kemudian dibangun sendiri oleh PLN dengan menggunakan dana dari APBN. Bangunan pembangkit ini bisa disaksikan dengan mudah.

Awalnya, dibangun terowonganheadracesepanjang 640 meter untuk mengalirkan air dari waduk ke kolam tandon harian. Air lalu dialirkan ke PLTA melalui pipa pesat berdiameter 1 meter sepanjang 1 kilometer yang dibuat dari baja tahan karat setebal 6 milimeter dan dibungkus dengan beton bertulang tebal 10 sentimeter.

Kombinasi baja dan beton diperlukan, karena dengan beda tinggi sebesar 183,5 meter, maka tekanan pada ujung bawah pipa pesat akan mencapai 18 atmosfer, sehingga jika dibuat dari beton bertulang saja akan terlalu tebal dan berat, tetapi jika hanya dibuat dari baja tahan karat akan terlalu mahal.

Pipa pesat tersebut dirancang oleh Ir Sedijatmo dan kemudian dipatenkan di Belanda pada tahun 1954. Rancangan pipa pesat karya Sedijatmo juga digunakan di PLTA Golang, PLTA Timo, dan PLTA Cikalong.

Aneka Fasilitas

Seluruh sisi Telaga Ngebel bisa dilihat karena memiliki jalan sepanjang 5 kilometer. Di sepanjang jalan ini terdapat beberapa tempat, seperti dermaga untuk sandaran perahu hingga, warung-warung yang menjajakan aneka makanan, dan sebagainya.

Karena berada di ketinggian, Telaga Ngembel sering dilanda kabut berwarna putih yang datang dengan tiba-tiba. Pemandangan ini menambah keseruan pemandangan dan menambah sejuk udara saat selama berada di sini.

Selain mengelilingi telaga melalui jalan di tepinya, cara berkeliling perairannya bisa dengan menggunakan perahu. Sejak Juni 2023 tempat wisata ini memiliki perahu naga buatan Cilacap, melengkapi perahu-perahu lainnya.

Perahu yang dibeli seharga 197 juta rupiah ini untuk menggantikan perahu lama yang dinilai tidak lagi laik operasi. Dengan bahanfiberglasspanjang perahu naga ini mencapai 12 meter dan lebar 2,5 meter, mampu menampung sebanyak 20 penumpang.

Untuk menjelajahi danau, setiap penumpang dikenakan tarif sebesar10 ribu rupiah. Untuk menjaga keselamatan perahu ini mewajibkan penumpangnya mengenakan jaket keselamatan (safety jacket) sebagai prosedur keamanan wajib.

Selain perahu naga ada banyak perahu cepat kecil bermesin tempel kecil yang jumlahnya sebanyak 54 buahspeed boat.Perahu ini memiliki kapasitas 5 orang termasuk pengemudinya. Dengan cara berombongan, tarif naik perahu ini menjadi lebih ringan.

Tarifnya bisa dipilih tergantung dengan putarannya. Untuk setengah putaran dikenakan tarif 75 ribu rupiah, sedangkan untuk satu putaran tarifnya 100 ribu rupiah dan 160 ribu untuk mendapatkan keduanya.

Tersedia sewa kuda dengan tarif 30 ribu rupiah. Untuk naik bendi (delman berukuran kecil) dengan kapasita 3 orang, dikenakan tarif 15 ribu per orang. Namun jika bendi langsung disewakan untuk satu keluarga dengan tarifnya dipatok 40 ribu rupiah untuk sekali jalan.

Bagi para pemancing Telaga Ngembel merupakan surga. Meski setiap hari dipancing ikannya seolah tidak pernah habis, hal ini didukung dengan luas telaganya. Tidak hanya itu ikan yang ada di sini tergolong besar-besar yang membuat para pemancing lokal tidak pernah jenuh berada di sini.

Jenis ikan yang hidup adalah ikan nila, tombro, gurami, patin, dan kutuk. Mereka yang mengalami sekali strike dijamin akan ketagihan karena populasi ikan yang banyak dan ukuran ikan yang lebih besar dari tempat lain membuat pemancing datang dan datang lagi.

Telaga Ngebel juga merupakan spot terbaik bagi yang ingin menikmati malam di alam terbuka. Di sini tersediacamping groundyang dapat disewa untuk berkemah. Di samping membawa peralatan sendiri pengelola juga menyediakan sewa tenda dan peralatan kemah lainnya seperti api unggun.

Pada Sabtu dan Minggu, di tempat ini juga diadakan pertunjukkan air mancur menari. Dengan warna yang berubah-ubah disertai musik, Telaga Ngebel menawarkan atraksi air mancur dengan pencahayaan warna-warna yang terus berubah.

Pada musim durian, Telaga Ngebel menjadi tempat bagi pedagang menjajakan buah berduri dari atas mobil. Namun jika tidak musim, bisa menikmati kulineran di beberapa warung yang ada di tepian danau.

Wisatawan bisa memilih tempat makan yang yang berada di tepian atau berada di atas air. Menu umum yang tersedia adalah ikan (nila atau gurame) bakar atau goreng. Pilihan lainnya adala ayam bakar atau goreng, pecel, tahu telur, tiwul, cah kangkung, cumi dan masih banyak lagi. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.