Ekonomi AS Membaik, Rupiah Semakin Tertekan
Selasa, 26 Mar 2024, 00:04 WIBJAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (25/3) melemah ke level 15.800 per dollar AS. Rupiah yang melemah itu dipengaruhi data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang solid.
Kurs rupiah ditutup melemah 17 poin atau 0,10 persen menjadi 15.800 rupiah per dollar AS dari penutupan perdagangan akhir pekan lalu di level 15.783 per dollar AS.
Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, di Jakarta, mengatakan data-data perekonomian dan tenaga kerja AS yang dirilis akhir pekan lalu menunjukkan penguatan.
Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur AS menguat ke level 52,5. Proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dari bank sentral AS atau the Fed naik 2,4 persen. Sementara data klaim pengangguran AS turun menjadi 210 ribu.
Meskipun Federal Reserve atau the Fed mempertahankan kebijakan moneter seperti yang diharapkan, mereka condong sedikit dovish karena pernyataan tersebut mengatakan ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh dan inflasi telah mereda, tetapi masih tinggi.
Pernyataan dovish itu berbunyi takkan ada penurunan suku bunga sampai the Fed hingga lebih yakin inflasi telah bisa dikendalikan. Namun demikian, pernyataan dari the Fed melihat adanya tiga kali penurunan suku bunga pada tahun ini yang lebih menjadi fokus pelaku pasar.
Dari domestik, adanya gugatan pemilu di Mahkamah Konstitusi memberikan ketidakpastian politik dalam negeri.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin merosot ke level 15.795 per dollar AS dari sebelumnya 15.773 per dollar AS.
Penguatan data-data ekonomi AS menurut pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan harus menjadi perhatian khusus pemerintah dan Bank Indonesia (BI) karena di saat yang sama politik Indonesia masih berpotensi tidak stabil dengan proses sengketa Pilpres 2024 baik di MK maupun proses Hak Angket di DPR.
"Pemerintah dapat melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap Indonesia, seperti meningkatkan stabilitas politik. Investor perlu sinyal bahwa Indonesia bisa jadi tempat menyimpan dollar yang aman," jelas Aditya.
Selain itu, pemerintah juga semestinya memberi sinyal bahwa kebutuhan impor Indonesia terutama barang konsumsi relatif terkendali. Apalagi, tekanan dari penurunan ekspor tambang masih terus terjadi.
"Ekspor kita kan terus turun mendekati defisit neraca perdagangan. Surplus mulai habis. Jadi ya harus hati-hati, kabar tentang impor besar misalnya beras dan barang konsumsi lain akan menekan rupiah," kata Aditya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, mengatakan ekonomi AS saat ini masih menguat. Kondisi tersebut seharusnya dimanfaatkan Indonesia dengan meningkatkan ekspor lebih banyak AS. "Kita petakan kebutuhan AS, apa yang bisa diekspor Indonesia ke sana, seperti produk tekstil, dan kalau bisa produk Indonesia yang diekspor lebih variatif," kata Esther.
Kenapa demikian, karena ekonomi AS sedang menguat, makanya purchasing power parity-nya juga meningkat. "Jika Indonesia berhasil meningkatkan nilai ekspor ke AS maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi," katanya.
Kebijakan Stabilisasi
Bank Indonesia (BI) sendiri mengakui kalau nilai tukar rupiah yang tetap terkendali didukung oleh kebijakan stabilisasi Bank Indonesia. Nilai tukar rupiah pada Maret 2024 (hingga 19 Maret 2024) relatif stabil dipengaruhi oleh kebijakan stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia, di tengah dinamika penyesuaian aliran modal asing di pasar keuangan domestik sejalan dengan ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
Dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah melemah sebesar 2,02 persen dibandingkan dengan level akhir Desember 2023, lebih baik dibandingkan dengan ringgit Malaysia, won Korea, dan baht Thailand yang masing-masing melemah sebesar 3,02 persen, 3,87 persen, dan 5,39 persen.
"Nilai tukar rupiah ke depan diperkirakan stabil dengan kecenderungan menguat, didorong oleh kembali masuknya aliran modal asing sejalan dengan tetap terjaganya persepsi positif terhadap prospek ekonomi Indonesia," kata BI.
Selain itu, kebijakan stabilisasi Bank Indonesia dan penguatan strategi operasi moneter promarket melalui optimalisasi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI juga mendukung prospek penguatan nilai tukar rupiah tersebut.
Bank Indonesia, tambahnya, terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, perbankan, dan dunia usaha untuk mendukung implementasi instrumen penempatan valas Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) sejalan dengan PP Nomor 36 Tahun 2023.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Rupiah Hari Ini Melemah Jadi Rp16.970 per Dollar AS Seiring Ketidakpastian Konflik di Timur Tengah
-
IEA: Lebih dari 40 Aset Energi Timur Tengah Rusak Parah, Rantai Pasok Global Terancam
-
Rupiah Tak Berkutik di Tengah Gejolak Dunia: Belum Genap Satu Semester, Pelemahan Sudah Signifikan
-
Liga Champions : Sporting Lisbon Mengincar Remontada, Bodo/Glimt Siap Pertahankan Keunggulan
-
Pemudik Mulai Melintas di Jalur selatan dan Tengah Jateng
-
Periode Pascalebaran, PELNI Berikan Diskon Tarif 20% untuk Muatan Kontainer
-
Cegah Gagal Panen, Petani di Kabupaten Lebak Diminta Gunakan Varietas Inpari dan Inpago
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.