AS Optimistis Tidak Akan Mengalami Stagflasi Ekonomi

Jumat, 15 Mar 2024, 00:02 WIB

WASHINGTON - Perekonomian Amerika Serikat (AS) diperkirakan tidak akan mengalami stagflasi, seraya menambahkan bahwa sebagian besar analis memperkirakan inflasi akan mereda karena harga perumahan bergerak lebih rendah.

"Di banyak wilayah di negara ini, harga sewa apartemen baru sebenarnya telah menurun secara keseluruhan," kata Menteri Keuangan Amerika Serikat, Janet Yellen, dalam wawancara yang disiarkan Rabu (13/3), kepada Fox Business.

Ket. Foto: — Sumber: Sumber: US Dept. of Commerce - KORAN JAKARTA/ONES

Dikutip dari France 24, komentarnya muncul setelah CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, baru-baru ini menolak mengesampingkan kemungkinan stagflasi, sebuah skenario yang menakutkan di mana stagnasi ekonomi menyebabkan kenaikan biaya.

"Biaya perumahan adalah kontributor terbesar terhadap inflasi yang sedang berlangsung di negara itu," kata Yellen kepada Fox Business saat melakukan perjalanan ke Kentucky untuk menyoroti upaya Presiden Joe Biden dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Dia menekankan memiliki "ekspektasi" bahwa biaya perumahan akan turun tahun ini sehingga mengurangi tekanan harga.

Ketika ditanya, Yellen juga menyesal sebelumnya mengatakan bahwa inflasi AS bersifat "sementara", karena dibutuhkan waktu lebih lama dari beberapa minggu atau bulan untuk meredam kenaikan harga.

Inflasi konsumen telah turun dari puncaknya pada tahun 2022, tetapi meningkat secara tak terduga pada bulan Februari menjadi 3,2 persen, yang menggarisbawahi jalan yang sulit untuk menurunkan harga.

Meskipun beberapa konsumen menghabiskan lebih banyak uang untuk membayar kartu kredit, karena telah menghabiskan sebagian tabungan mereka, Yellen melihat hal ini sebagai normalisasi dan bukan tren baru yang mengganggu.

Tidak Ada Saingan

Mengenai status mata uang cadangan dollar AS, Yellen mengatakan benar-benar tidak ada saingan dalam hal kedalaman pasar keuangan AS, likuiditas Treasury AS, struktur kelembagaan dan hukum yang mendasari penggunaan dollar AS.

Di Kentucky, Yellen menyoroti investasi di bidang energi dan manufaktur ramah lingkungan, dengan mengatakan kebijakan utama Biden telah membantu menyalurkan lebih banyak dana tersebut ke masyarakat yang secara tradisional bergantung pada industri seperti batu bara.

"Sejak awal pemerintahan Biden, perusahaan telah mengumumkan investasi senilai hampir 650 miliar dollar AS pada energi bersih dan manufaktur di seluruh negeri," katanya.

Berbicara di pabrik Produk Nano Tingkat Lanjut di Elizabethtown, dia menambahkan Departemen Keuangan akan meningkatkan upaya penjangkauan untuk meningkatkan kesadaran kota mengenai manfaat seperti kredit pajak dari Undang-Undang Pengurangan Inflasi.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, mengatakan pelambatan pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat dan Tiongkok akan memberikan dampak signifikan terhadap laju perekonomian Indonesia.

Menurutnya, hal itu disebabkan kedua negara adidaya tersebut merupakan mitra dagang utama Indonesia di pasar internasional.

"Kalau dalam pengamatan saya, Jepang dan Inggris itu relatif lebih lemah pengaruhnya terhadap Indonesia, dibandingkan dengan Tiongkok dan Amerika, terutama Tiongkok," katanya.

Faisal mengatakan berdasarkan prediksi dari IMF, pada 2024 laju pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan mengalami pelemahan sekitar 1 persen, sedangkan AS diproyeksikan akan mengalami penurunan yang awalnya 2,1 persen menjadi 1,5 persen.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.