BI Ajak Investor Tak Ragu Berinvestasi
Rabu, 06 Mar 2024, 09:06 WIBJAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo meminta para investor untuk tidak lagi melakukan wait and see maupun merasa ragu untuk berinvestasi. Sebab, Indonesia memiliki banyak potensi yang dapat terus dikembangkan.
"Sekarang waktunya untuk berhenti melakukan wait and see. Jika Anda berinvestasi sekarang, kesempatan untuk mendapatkan keuntungannya lebih tinggi daripada berinvestasi nanti-nanti," kata Perry Warjiyo dalam pembukaan Mandiri Investment Forum di Jakarta, Selasa (5/3).
Dia mengajak semua pihak untuk optimis melihat perkembangan perekonomian Indonesia di masa mendatang, mengingat ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,05 persen sepanjang 2023 saat banyak negara memiliki pertumbuhan di bawah 5 persen bahkan ada yang berjuang keras menghadapi inflasi.
Menurutnya, perekonomian Indonesia masih dapat tumbuh positif dalam kisaran 4,75- 5 persen tahun ini dan 4,8-5,6 persen pada 2025 didukung oleh kinerja ekspor, tingkat konsumsi golongan menengah dan atas, serta investasi. "Kinerja perekonomian Indonesia memang masih belum optimal (below potential output) sehingga masih ada ruang untuk berkembang. Kinerja ekonomi kita masih akan terus meningkat," ujar Perry.
BI memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai level puncak pada 2027. Demi memaksimalkan potensi tersebut, dia menuturkan pihaknya kini fokus memastikan tingkat inflasi terjaga pada kisaran 2,5 plus minus 1 persen dalam dua tahun mendatang. Dia menyatakan BI memproyeksikan tingkat inflasi tahunan akan mencapai 2,8 persen pada 2024 dan turun menjadi 2,6 persen tahun depan.
Potensi Perbankan
Perry juga menyoroti potensi pertumbuhan sektor perbankan yang masih akan didukung oleh pertumbuhan kredit yang mencapai dua digit, yaitu sekitar 11 hingga 13 persen. Untuk mendorong pertumbuhan ini, dia menyampaikan pihaknya akan melanjutkan pemberian insentif likuiditas untuk mendukung bank untuk memperluas pemberian pinjaman.
Dia menyebutkan bahwa total insentif yang disiapkan yaitu sebesar 268 triliun rupiah, namun baru terpakai sekitar 150 triliun rupiah. "Semakin besar pinjaman yang diberikan, kami akan memberikan semakin banyak insentif likuiditas," ucap Perry.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Sambut HUT Jakarta, Ancol Gratiskan Tiket Masuk Selama Tiga Hari, Ikuti Syarat dan Jadwalnya!
-
Jakarta Fair 2026 Perketat Keamanan, Cek Harga Tiket dan Jam Operasional Terbaru
-
Resahkan Masyarakat, Polres Garut Amankan Geng Motor Bersenjata Tajam
-
Drama Sengketa Lahan Hotel Sultan, Polisi Kerahkan 3.161 Personel Amankan Eksekusi Hari Ini
-
Cermati Masa Bediding Saat Puncak-puncaknya Musim Kemarau
-
Kuota Bedah Rumah Jakarta Naik 63 Kali Lipat, dari 158 Jadi 10 Ribu Unit
-
Bulog Sumut Rutin Cek Kualitas Beras di Gudang, Publik Pertanyakan Transparansi Keamanan Pangan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.