Bahaya Iklim Dapat Kurangi Ekonomi Global hingga 10 Persen pada 2050
Jumat, 01 Mar 2024, 00:11 WIBZURICH - Bahaya iklim telah menyebabkan kerugian ekonomi tahunan Amerika Serikat sebesar 97 miliar dollar AS atau 0,4 persen dari output ekonomi tahunannya, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada 28 Februari oleh raksasa reasuransi Swiss Re.
Grup yang berbasis di Zurich, yang bertindak sebagai perusahaan asuransi, menegaskan kembali bahwa perubahan iklim dapat mengurangi output perekonomian global sebesar tujuh hingga 10 persen pada tahun 2050.
Untuk saat ini, Filipina adalah negara yang mengalami kerugian ekonomi tahunan tertinggi akibat dampak empat bahaya cuaca utama yang diteliti - banjir, topan tropis, badai musim dingin, dan badai petir hebat - sebesar tiga persen dari produk domestik bruto (PDB).
"Perubahan iklim menyebabkan kejadian cuaca yang lebih buruk, sehingga berdampak lebih besar terhadap perekonomian," kata kepala ekonom Swiss Re group, Jerome Jean Haegeli. "Oleh karena itu, mengambil langkah-langkah adaptasi menjadi semakin penting."
Untuk memahami bagaimana perusahaan asuransi dapat menilai risiko, penelitian yang didasarkan pada data tahun 2022 ini menganalisis dampak bencana alam yang paling sering terjadi terhadap PDB di 36 negara sampel.
Ekonom Swiss Re memperhitungkan empat bencana cuaca yang paling sering terjadi dan paling mahal. Berdasarkan ukuran ini, Filipina adalah negara yang paling terkena dampaknya, diikuti oleh Amerika Serikat, kemudian Thailand dengan kerugian ekonomi tahunan sebesar 0,36 persen PDB, Austria (0,25 persen) dan Tiongkok (0,22 persen).
India berada di peringkat ketujuh dengan 0,2 persen, Australia kedelapan dengan 0,19 persen, dan Jepang di peringkat 10 dengan 0,18 persen.
Penilaian tersebut memberikan pandangan luas mengenai dampak ekonomi jika bahaya cuaca terus meningkat.
Laporan ini tidak memperhitungkan semua risiko cuaca, seperti gelombang panas, dan Swiss Re mengatakan "sulit untuk memprediksi" dampak penuh perubahan iklim.
Secara global, keempat risiko yang diteliti mewakili kerugian ekonomi sekitar US$200 miliar setiap tahunnya.
Ekonom Swiss Re mengatakan bahwa meskipun pengurangan emisi gas rumah kaca merupakan hal yang penting, langkah-langkah untuk membantu membendung kerugian ekonomi juga penting.
Langkah-langkah tersebut dapat mencakup peninjauan kembali peraturan bangunan, menciptakan sistem pertahanan banjir dan menghambat pembangunan bangunan di wilayah yang sangat terkena dampak perubahan iklim.
Berita Terkait:
-
Kemenperin Bangun Ekosistem Industri Fesyen Nasional Berbasis Potensi Daerah
-
Gubernur Babel Perluas Tanam Padi Jaksa Mandiri Pangan
-
Donor Darah HUT ke-21 DPD
-
Inflasi Tahunan Jakarta pada September 2025 Lebih Terkendali
-
Celios: Proyeksi Pertumbunan Ekonomi RI oleh OECD Jauh dari Target Pemerintah
-
The Spine: Ambisi Mesir Membangun Kota Masa Depan
-
Panglima TNI Dampingi Presiden RI Pada Akad Massal 26.000 KPR FLPP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.