Perkuat Inovasi, BRIN: Implementasi Pertanian Cerdas untuk Hadapi Perubahan Iklim
Kamis, 29 Feb 2024, 01:14 WIBJakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan implementasi pertanian cerdas atausmart farmingmenjadi aspek penting di Indonesia, terutama dalam menghadapi perubahan iklim yang berdampak terhadap tanaman pangan dan hortikultura.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari mengatakan saat ini penggunaan teknologi merupakan suatu keniscayaan, karena hampir semua sektor menggunakan, termasuk dalam bidang pertanian.
"Pertanian cerdas bertujuan untuk meningkatkan hasil pertanian, mengurangi biaya produksi, dan mengurangi risiko kerusakan tanaman akibat organisme pengganggu tanaman maupun cekaman abiotik serta mendukung petani berkelanjutan," katanyadalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Konsep pertanian cerdas merupakan suatu penerapan teknologi informasi dan komunikasi seperti sensor,internet of things(IoT),big data analytics, robotika, dan kecerdasan buatan (AI) dalam proses pertanian yang mampu meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan.
Penerapan teknologi tersebut untuk mengotomatisasi dan mengoptimalkan berbagai aspek pertanian mulai dari pemantauan pertumbuhan tanaman, manajemen irigasi, manajemen sumber daya tanah dan air, hingga pemantauan cuaca dan prediksi hasil panen.
Variabilitas iklim di Indonesia mengalami kejadian cuaca yang lebih ekstrem, seperti cuaca tidak menentu, kekeringan yang berkepanjangan, maupun badai. Kondisi itu membuat sektor pertanian menjadi terganggu, sehingga perlu mengimplementasikan pertanian cerdas.
"Perubahan iklim sering kali memperburuk kelangkaan sumber daya seperti kekurangan air, degradasi tanah. Perubahan iklim ini merupakan tantangan baru terhadap produksi pertanian, termasuk penyebab hama penyakit sehingga perlu varietas yang baru yang lebih mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan," kata Puji.
Dia menjelaskan pemanfaatan data yang dikumpulkan dan dianalisis oleh sistem cerdas akan membantu pelaku usaha pertanian, termasuk para petani untuk membuat keputusan yang lebih baik dan tepat waktu.
Jika petani dapat beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan, katanya, mereka bisa mendapatkan peningkatan hasil tanam dan operasional yang lebuh efisien.
Salah satu potensi terbesar, katanya,peningkatan efisiensi dalam penggunaan sumber daya, seperti air dan pupuk dengan memanfaatkan teknologi sensor dan pemantauan secarareal-time.
Implementasi pertanian cerdas juga dapat meminimalisasilimbah, menghemat biaya produksi, dan berkontribusi nyata terhadap pertanian berkelanjutan.
Kepala Pusat Riset Hortikultura Dwinita Wikan Utami mengatakan hortikultura salah satu sektor pertanian memiliki peran krusial dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan meningkatkan kesejahteraan manusia.
"Dalam beberapa tahun terakhir perkembangan teknologi telah membawa revolusi signifikan untuk meningkatkan produksi dan pertanian cerdas salah satu yang menjadi solusi untuk menjawab tantangan yang dihadapi khususnya oleh para petani hortikultura," kata dia.
Berita Terkait:
-
Kereta Ekonomi Kerakyatan Jadi Primadona Mudik 2026, Okupansi Tembus 58 Persen
-
Kejari Jakarta Barat Ringkus Terpidana Mafia Tanah yang Buron Sembilan Tahun
-
Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik dalam Uji Coba Pertama Tahun 2026.
-
Waspada Hantavirus, Pemkot Surabaya Imbau Masyarakat Batasi Aktivitas Luar Rumah
-
Banyak Kecelakaan di Laut, Hati-hati Gelombang Tinggi 2,5 Meter di Nias
-
Kunjungan Perdana, Wapres Gibran Disambut Tari Gale-Gale di Raja Ampat
-
Pemkab Gorontalo Tanggung Biaya Kepesertaan 12.000 PBI JKN yang Dinonaktifkan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.