Tekanan pada Rupiah Bakal Berlanjut

Kamis, 22 Feb 2024, 08:41 WIB

JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih terus berlanjut ke depan. Hal itu dipengaruhi ketidakpastian perekonomian global menyusul resesi di sejumlah negara maju.

Melihat mata uang sejumlah negara tetangga terdepresiasi terhadap dollar AS pada pertengahan Februari 2024, pergerakan rupiah menunjukkan kinerja kurang baik atau bahkan lebih buruk dibandingkan rupee India, peso Filipina, dan yuan Tiongkok.

Ket. Foto: — Sumber: ISTIMEWA

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudisthira, mengatakan tekanan kurs rupiah masih akan berlanjut seiring proyeksi pelemahan ekonomi negara mitra dagang dan investasi strategis Indonesia.

Situasi Tiongkok, Jepang, dan Eropa menunjukkan adanya kekhawatiran resesi skala besar. Imbasnya, perdagangan dan investasi langsung tahun ini bisa melambat.

"Jadi, pemerintah dan pelaku usaha harus lakukan antisipasi dengan mendorong hedging bagi pinjaman valas sekaligus menahan laju utang luar negeri secara paralel," ucap Bhima, Rabu (21/2), menanggapi penurunan kurs rupiah terhadap dollar AS.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sepanjang tahun ini melemah 1,43 persen. Kurs rupiah terhadap dollar AS, Rabu (21/2), tercatat 15.635 rupiah per dollar AS atau melemah 220 poin dari penutupan akhir tahun lalu, yakni 29 Desember 2023 di posisi 15.415 rupiah per dollar AS.

Dihubungi terpisah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan nilai tukar mata uang suatu negara dipengaruhi banyak faktor, antara lain selisih suku bunga, lalu selisih inflasi, penawaran dan permintaan valuta asing. Kemudian, neraca transaksi berjalan, ekspektasi kebijakan pemerintahan baik dalam negeri maupun negara lain, serta perubahan risiko negara, seperti ekonomi, politik, dan keuangan, serta sentimen pasar.

Dalam jangka pendek saat ini, pelemahan rupiah bisa disebabkan ekspektasi perubahan kebijakan the Fed menaikkan suku bunga, yang kedua naiknya risiko politik sesudah pemilu dilakukan.

"Jika selanjutnya tren penurunan rupiah berhenti maka bukan faktor fundamental yang mempengaruhinya," ucapnya.

Secara terpisah, pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky, menjelaskan sejalan tren historis, rupiah cenderung melemah menjelang pemilu ditambah dengan mengecilnya kemungkinan penurunan suku bunga the Fed dalam beberapa bulan mendatang.

"Melihat mata uang negara-negara tetangga terdepresiasi terhadap dollar AS pada pertengahan Februari 2024, rupiah menunjukkan kinerja yang kurang baik, lebih buruk dibandingkan rupee India, peso Filipina, dan yuan Tiongkok," papar Riefky.

Devisa Turun

Cadangan devisa Indonesia menyusut 0,87 persen (secara bulanan/mtm) dari 146,38 miliar dollar AS pada akhir 2023 menjadi 145,05 miliar dollar AS pada Januari 2024.

Dia menerangkan penurunan cadangan devisa didorong oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah Indonesia. Posisi cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional untuk tiga bulan impor.

"Tingkat cadangan devisa terkini dianggap cukup untuk memberikan bantalan bagi rupiah terhadap potensi guncangan, termasuk pembalikan arus masuk modal secara tiba tiba," ucapnya.

Dilihat dari dinamika terkini, ketahanan perekonomian domestik dan kemungkinan penurunan suku bunga the Fed yang lebih rendah dalam waktu dekat, kami memandang BI perlu mempertahankan BI Rate pada level 6,00 persen pada rapat dewan gubernur BI bulan ini.

Inflasi tetap terjaga mendekati target baru sebesar 2,5 persen dengan tekanan inflasi terdekat kemungkinan berasal dari kenaikan pengeluaran pada beberapa libur akhir pekan panjang dan harga menjelang musim Ramadan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Durian Melimpah di Lebak, Pedagang Raup Omzet hingga Rp50 Juta Sehari

Kampung Adat Sade Terbakar, Kemenpar Siapkan Dapur Umum dan Pemulihan Wisata

Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, BNPB Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca dan Armada Pemadaman

Karhutla Makin Mengancam, Kemenhub Fasilitasi Pesawat Asing untuk Perkuat Penanganan

Aturan Baru Florida Bikin Geger! Ngebut Ditilang, Berkendara Lambat Juga Kena

Potensi Karhutla pada Musim Kemarau, BMKG Minta Masyarakat DIY Waspada

Karyawan Hyundai-Kia Mogok Besar-besaran, 40.000 Pekerja Khawatir Robot AI Gantikan Manusia

Kebakaran di Taman Nasional Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Polda Lampung: Tim Pastikan Tak Ada Titik Api Lain

Fitur Canggih Mobil Ternyata Jarang Dipakai, Ada yang Tak Tahu Cara Menggunakannya

Krisis Air Bersih di Natuna! Pemkab Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak

Kekeringan Meteorologis, BMKG Ingatkan Seluruh Wilayah Jateng untuk Siaga

Curanmor Merajalela! Polda Banten Bongkar Sindikat yang Beraksi di 14 Lokasi

Status Siaga Kekeringan Meteorologis untuk Seluruh Wilayah Jateng

Rumah Adat Wisata Sade Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus pada Pemulihan Korban

Cincinnati Open, Area Sial bagi Swiatek Dikalahkan Pegula

Prawirotaman Adakan Festival Guna Menunjang Kunjungan Wisata

Warga Semarang yang Akan Menikah, Lihat Pameran 50 Vendor Wedding

Jatim Hari Ini Cerah-Berawan, Gelombang hingga 3,7 Meter Mengintai Perairan Selatan

Gubernur Emanuel Melkiades Bawa Bantuan ke Tiga Titik Terdampak Gempa M7,7 di Riung

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.