Transformasi Ekonomi Lingkungan Indonesia Menuju Titik Keseimbangan
Sabtu, 03 Feb 2024, 00:01 WIBJAKARTA - Indonesia harus terus mengikuti turbulensi dan berproses menuju sebuah titik keseimbangan ekonomi dan lingkungan. Pada saat yang sama, Indonesia terus membangun paradigmatik pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan, dengan pijakan sustainability dengan pendekatan environment, social, dan governance (ESG).
"Kita terus ikuti turbulensinya. Saya percaya turbulensi masih akan terus berjalan, karena di lingkungan disebutnya homeostasis, turbulensi yang terus bergerak secara spiraltik, bukan linier. Saya setuju dalam hal ini ESG yang menjadi pegangan," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, di Jakarta, Kamis (1/2).
Menurut siaran persnya, Menteri Siti menjelaskan selama hampir 10 tahun ini, banyak pihak berbicara tentang situasi kompleksitas masalahnya. Sebetulnya masalah itu sudah diketahui, tetapi lantas membedahnya seperti apa, kemudian bagaimana langkah-langkah korektifnya. Selain itu, didapatkan juga persoalan apa yang menjadi kunci seperti deforestasi, karhutla, hutan sosial, karbon dan kebijakan alokasi sumber daya serta tentu saja instrumen-instrumen perencanaan pengawasannya.
Lebih lanjut, Menteri Siti mengatakan transformasi ekonomi lingkungan juga ditempuh melalui upaya untuk mendorong percepatan rekonfigurasi skenario bisnis berbasis SDA, dari big-resources and small-value, menuju small-resources and big-value, seperti bio-prospecting dan teknologi sebagai basisnya.
Optimalisasi perizinan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan (hutan) untuk investasi berwawasan lingkungan, dan membangun produktivitas rakyat pun menjadi perhatian penting. Hal tersebut dibarengi penguatan instrumen perlindungan dan pengelolaan lingkungan serta perangkat perencanaan, pengawasan, dan pengendalian (Renwasdal) untuk memastikan terwujudnya investasi berwawasan lingkungan.
Yang terbaru, tranformasi ekonomi lingkungan diwujudkan melalui aktualisasi nilai ekonomi karbon untuk pengendalian emisi GRK dalam pembangunan nasional dan stimulasi ekonomi.
Selanjutnya, Menteri Siti mengatakan ada dua esensi pokok pada aspek lingkungan agar berhasil, yaitu pertama kebijakan, apakah insentif atau disinsentif, dan yang kedua, kampanye publik.
"Untuk poin kedua ini, kita akan kembangkan kerja sama untuk membangun komunikasi publik yang lebih konkret, dengan melibatkan kampus/akademisi juga para jurnalis," katanya.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Marcellus Widiarto
Berita Terkait:
-
James Trafford, Kiper Termahal Inggris Resmi Bergabung ke Leeds United
-
Bukan Sekadar Bumbu Tempe! Kemendikti Ungkap Alasan Ragi Tempe Harus Dilindungi
-
Akhir Pekan yang Berat, Veda Ega Pratama Finis Ke-20 di Moto3 Aragon
-
Urai Mobilitas Masyarakat, Pemerintah Harus Siapkan Transportasi Alternatif
-
Rival Jadi Mitra, Tiongkok-India Ubah Peta Asia
-
Usai Santap MBG, Puluhan Siswa SMPN 1 Kabuh Jombang Alami Mual hingga Diare
-
Andrea Bocelli Gelar Konser di Borobudur dan Jakarta, Cek Harga Tiket dan Jadwalnya
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.