Hubungan Memburuk, Kunjungan Wisatawan India ke Maladewa Anjlok
Selasa, 30 Jan 2024, 15:08 WIBNEW DELHI - Maladewa mengalami perubahan besar dalam demografi wisatawan dalam tiga minggu terakhir.
Media India NDTV melaporkan, data dari Kementerian Pariwisata Maladewa menunjukkan penurunan signifikan jumlah pengunjung asal India dari kelompok tiga besar menjadi lima besar.
Statistik yang diperoleh pada tanggal 28 Januari mencerminkan perkembangan terkini dalam hubungan diplomatik antara India dan Maladewa.
Menurutdata resmi pemerintahMaladewa , inilah peringkat negara-negara dalam hal kedatangan wisatawan di negara kepulauan tersebut.
- Rusia: 18.561 kedatangan (pangsa pasar 10,6%, Peringkat 2 pada 2023)
- Italia: 18.111 kedatangan (pangsa pasar 10,4%, Peringkat 6 pada 2023)
- Tiongkok: 16.529 kedatangan (pangsa pasar 9,5%, Peringkat 3 pada 2023)
- Inggris: 14.588 kedatangan (pangsa pasar 8,4%, Peringkat 4 pada 2023)
- India: 13.989 kedatangan (pangsa pasar 8,0%, Peringkat 1 pada 2023)
- Jerman: 10.652 kedatangan (pangsa pasar 6,1%)
- AS: 6.299 kedatangan (pangsa pasar 3,6%, Peringkat 7 pada 2023)
- Prancis: 6.168 kedatangan (pangsa pasar 3,5%, Peringkat 8 pada 2023)
- Polandia: 5.109 pendatang (pangsa pasar 2,9%, Peringkat 14 pada 2023)
- Swiss: 3.330 kedatangan (pangsa pasar 1,9%, Peringkat 10 pada 2023)
Pada tanggal 31 Desember tahun lalu, India menduduki posisi teratas dalam hal jumlah wisatawan, dengan 209.198 kedatangan, yang mencakup hampir 11 persen pasar pariwisata Maladewa pada tahun itu.
Namun, kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke pantai Lakshadweep pada tanggal 2 Januari dan perselisihan diplomatik dengan Maladewa memicu penurunan jumlah wisatawan India secara signifikan.
Kontroversi ini mendapat momentum ketika seorang menteri Maladewa menuduh India menargetkan negaranya, dan menyatakan bahwa India menghadapi tantangan bersaing dengan Maladewa dalam pariwisata pantai.
Ketegangan diplomatik antara kedua negara meningkat, terutama sejak Presiden Maladewa Mohamed Muizzu mulai menjabat pada November tahun lalu, yang menandai adanya pergeseran kebijakan luar negeri menuju hubungan yang lebih erat dengan Tiongkok.
Gejolak ini menyebabkan proses pemakzulan terhadap Presiden Muizzu yang diprakarsai partai oposisi utama, Partai Demokrat Maladewa (MDP). Partai oposisi menuduh Presiden Muizzu bersikap pro-Tiongkok, terutama setelah kapal mata-mata Tiongkok berlabuh secara kontroversial di ibu kota negara tersebut, Male.Perselisihan di parlemen pun terjadi, yang berpuncak pada keputusan untuk memulai proses pemakzulan.
Retorika anti-India Presiden Muizzu mencapai puncaknya, dengan adanya tuntutan penarikan pasukan India yang ditempatkan di Maladewa pada pertengahan Maret, dengan alasan kehadiran mereka sebagai ancaman keamanan.MDP mengutuk perubahan kebijakan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang "sangat merugikan" terhadap pembangunan jangka panjang negara tersebut.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Lili Lestari
Berita Terkait:
-
Spesialis Penyelam Gua Bawah Laut Finlandia Bergabung dalam Pencarian Jenazah 4 Penyelam Italia di Maldives
-
Menteri HAM Natalius Pigai Desak Pelaku Penembakan 15 Warga di Papua Menyerahkan Diri
-
Masalah Putusan MK Nomor 123/2026 Tentang Pasal 14 UU Tipikor 1999/2001
-
Kuartal I 2026, Laba Bersih BTN Melesat 22,6% YoY
-
Raja Ampat Diusulkan Jadi Kawasan Khusus Nasional, Ini Dampaknya untuk Pariwisata Indonesia
-
Ketua Ombudsman Hery Susanto Ditangkap Kejagung
-
Menpar: Pariwisata Indonesia Berada di Jalur Pertumbuhan Positif
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.