Keren Terobosan Ini, Bangka Selatan Kembangkan Maggot Jadi Pakan Unggas

Rabu, 03 Jan 2024, 04:45 WIB

Toboali - Keren terobosan ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mendorong para pembudidaya mendaur ulang sampah menjadi maggot dan dikembangkan sebagai pakan alternatif bagi peternak unggas.

"Saat ini maggot sudah tersedia di Tempat Pengolahan Sampah Reuse - Reduce dan Recycle (TPS3R) di Desa Rias, Kecamatan Toboali dan para peternak terus kami dorong mengembangkan maggot jadi pakan ternak," kata Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangka Selaran Gitto Arsyad, di Toboali, Selasa.

Ia menjelaskan, maggot merupakan larva (berupa ulat) dari jenis lalat Black Soldier Fly atau disebut lalat BSF.

"Maggot ini sangat baik sekali bagi para pembudidaya maupun para peternak unggas, karena di dalam maggot banyak terkandung protein, lemak, asam amino esensial serta mineral," ujarnya pula.

Maggot bisa menjadi pakan alternatif bagi para pembudidaya dan peternak unggas, karena produksi maggot ini sangat mudah.

"Maggot sebagai makanan tambahan pada hewan ternak ini bernilai ekonomis, karena budi daya maggot sangat mudah dan tidak menimbulkan bau menyengat," ujar dia lagi.

Di Toboali, budi daya maggot ini sudah ada di TPS3R Dusun Sukamaju Desa Rias, dengan harga yang terjangkau dan bervariasi.

Untuk maggot basah harganya sekitar Rp8 ribu-Rp10 ribu per kilogram, dan untuk maggot kering bisa Rp80 ribu-Rp120 ribu per kilogram.

"Untuk harga maggot bervariasi, ada yang basah dan kering bahkan pada hari ini TPS3R telah menghasilkan produksi sekitar 20 kilogram maggot," ujar Gitto.

Pemanfaatan TPS3R ini mendapatkan penghasilan tambahan bagi para pekerja yakni bisa membudidayakan maggot yang memang sangat baik bagi sumber makanan terhadap pembudidaya maupun peternak unggas.

Pengolahan sampah menjadi maggot, juga bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menekan volume sampah yang dibuang ke TPA, sekaligus mendatangkan nilai ekonomis bagi masyarakat.

Melalui sistem pengolahan ini, sampah organik tidak harus diangkut ke TPA yang sudah kelebihan kapasitas, sehingga volume sampah bisa dikurangi.

Selain bernilai ekonomi tinggi, maggot juga bisa menjadi solusi mengurangi sampah organik karena maggot membutuhkan sampah organik untuk tumbuh hingga nanti siap dipanen.

Maggot bahkan mampu mengubah material organik menjadi biomassanya, beda dengan jenis lalat biasa karena larva yang dihasilkan bukan larva yang menjadi medium penularan penyakit.

Maggot juga memiliki kemampuan mengurai sampah organik satu hingga tiga kali lipat dari bobot tubuhnya selama 24 jam bahkan bisa sampai lima kali lipat.

"Bahkan kepompong maggot juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, sehingga tidak menjadi sampah baru," katanya lagi.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

Wadoh, Investor Korea Selatan Diduga Jadi Korban “Mafia Legal Formal”

Shin Tae-yong Puas Pola Permainan Persija Nyaris Sempurna Jelang Liga

Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

Event Budaya Lokal Dipadukan Sport dan Lifestyle Bakal Perkuat Pengembangan Mandalika

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.