Ketua COP28 Desak Negara-negara untuk Capai Kompromi Iklim

Jumat, 08 Des 2023, 07:15 WIB

DUBAI - Ketua konferensi iklim PBB di Uni Emirat Arab (UEA), Conference of the Parties 28 (COP-28), Sultan Al Jaber, pada Rabu (6/12) mendesak negara-negara untuk mengupayakan titik temu dan mencapai kesepakatan "bersejarah" pada awal pekan depan, memberikan waktu berhari-hari bagi para perunding untuk mengurai perselisihan mengenai nasib bahan bakar fosil.

Dikutip dari AFP, jarang sekali perundingan iklim PBB berakhir sesuai jadwal, namun Al Jaber menetapkan tujuan ambisius untuk mencapai kesepakatan pada pukul 11.00 (0700 GMT) pada Selasa (5/12), hari resmi terakhir konferensi tersebut.

Ket. Foto: Presiden COP28, Sultan Ahmed Al Jaber — Sumber: AFP/KARIM SAHIB

Dia mendesak hampir 200 negara yang diwakili di COP28 untuk bekerja dengan "semangat kompromi".

"Keluar dari zona nyaman dan menemukan titik temu untuk mencapai ambisi tinggi dan hasil yang seimbang," ujar dia.

COP28 dimulai pekan lalu dengan peluncuran dana kerugian dan kerusakan bagi negara-negara yang terkena dampak perubahan iklim.

Namun perundingan pekan pertama berakhir pada Rabu (6/12) dengan delegasi tidak dapat menghasilkan versi terbaru dari rancangan perjanjian yang diterbitkan pada hari sebelumnya.

Rancangan tersebut mencakup kalimat mengenai penghapusan bahan bakar fosil secara bertahap, yang didukung oleh Uni Eropa, Amerika Serikat, negara-negara kepulauan, dan negara-negara Afrika.

Namun mereka juga mempunyai pilihan untuk tidak memasukkan masalah ini ke dalam pembahasan akhir, sebuah posisi yang didukung oleh Tiongkok, Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa emisi gas rumah kaca, yang sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, harus turun sebesar 43 persen pada tahun 2030 dari tingkat tahun 2019 agar dunia dapat mencapai tujuan ambisius untuk membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celsius.

"Saya akan terus meminta para pihak untuk membawa proposal yang menjembatani bahan bakar fosil, energi terbarukan dan efisiensi energi, sejalan dengan ilmu pengetahuan," kata Jaber di akhir sidang paripurna yang menutup pekan pertama.

Para penggiat perubahan iklim memandang Jaber dengan kecurigaan yang mendalam karena posisinya sebagai pimpinan perusahaan minyak nasional UEA, ADNOC, namun ia berupaya meredakan kekhawatiran tersebut dengan menyatakan bahwa pengurangan penggunaan bahan bakar fosil tidak bisa lagi dihindari.

Konferensi COP28 mengambil hari libur resmi pada Kamis (7/12) sebelum dilanjutkan pada Jumat (8/12), dengan para menteri mengambil alih hari-hari terakhir perundingan.

Ketua bidang iklim PBB, Simon Stiell, mengeluh bahwa rancangan teks tersebut hanya berisi daftar keinginan dan berat dalam sikapnya.

"Pada akhir pekan depan, kita membutuhkan COP untuk secepatnya merampungkan langkah-langkah bagi mempercepat aksi iklim. Saat ini kita amat lamban dan tak memiliki jalur yang stabil," imbuh dia.

Sementara itu Aliansi Negara Pulau Kecil, yang mencakup beberapa negara paling rentan terhadap iklim di dunia, menyerukan agar penghasil emisi besar untuk meningkatkan komitmen mereka.

"Jika kita gagal, konsekuensinya akan menjadi bencana besar," kata ketua aliansi tersebut, Cedric Schuster.

Teks terbaru dari draft konsensus COP28 mencakup frasa baru yang menyerukan penghapusan bertahap secara "tertib dan adil". Salah satu orang yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan, kata "tertib" berasal dari Jaber.

Pernyataan tersebut dapat memberikan isyarat mengenai kandidat konsensus karena akan memberikan batas waktu yang berbeda bagi setiap negara untuk mengurangi emisi, tergantung pada tingkat pembangunan dan ketergantungan mereka pada bahan bakar fosil.

Dengan semakin jelasnya perpecahan, Eropa menyerukan tindakan yang lebih keras.

"Saya ingin COP ini menandai awal dari berakhirnya bahan bakar fosil," kata komisioner iklim Eropa, Wopke Hoekstra pada Rabu.

Utusan iklim Jerman, Jennifer Morgan, mengatakan bahwa setiap pihak harus menjauh dari garis merah mereka (dan) mencari solusi. "Kita perlu menyingsingkan lengan baju kita dan menyelesaikannya," kata dia.

Utusan iklim AS, John Kerry, mengatakan masih ada "masalah rumit" yang harus diselesaikan, namun ini adalah waktunya bagi orang dewasa untuk berperilaku seperti orang dewasa dan menyelesaikan tugasnya.

Sebuah laporan baru yang dikeluarkan oleh Copernicus Climate Change Service (Layanan Perubahan Iklim Copernicus) Uni Eropa memberikan pengingat yang jelas tentang apa yang dipertaruhkan karena dilaporkan bahwa tahun 2023 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat. November menjadi bulan pemecahan rekor keenam berturut-turut.

Hal ini memecahkan rekor panas sebelumnya pada bulan November, mendorong suhu rata-rata global pada tahun 2023 menjadi 1,46 derajat Celcius lebih hangat dibandingkan era pra-industri, kata badan tersebut. SB/AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.