Bukan Lagi Kedelai, Tiongkok Andalkan Jagung untuk Penuhi Kebutuhan Pakan Ternak

Selasa, 11 Nov 2025, 23:28 WIB

CHANGCUN - Truk-truk berisi jagung yang baru dipanen sedang diangkut ke sejumlah gudang di Provinsi Jilin, Tiongkok timur laut, menandai varietas jagung berprotein tinggi yang dikembangkan di Tiongkok mulai diterapkan dari laboratorium ke lapangan, dengan tujuan menggantikan kedelai sebagai pakan ternak.

Lishu, sebuah wilayah penghasil biji-bijian utama di Jilin, termasuk di antara pelopor yang menguji coba produksi jagung jenis ini.

"Jagung kami terlihat tidak berbeda dengan jagung lainnya, tetapi kandungan proteinnya 3-4 persen lebih tinggi daripada jagung biasa," kata Qi Hongbo, kepala koperasi pertanian di Lishu.

Petani biji-bijian berpengalaman tersebut mengatakan bahwa di masa lalu, petani jagung hanya memperhatikan faktor-faktor seperti hasil panen, berat per satuan, dan kandungan air.

"Ini menjadi tahun pertama koperasi mencoba menanam jagung berprotein tinggi," kata Qi, seraya menambahkan bahwa setelah menanam selama puluhan tahun, dia baru mendengar tahun ini bahwa kadar protein tinggi juga penting.

Inisiatif eksplorasi pertanian di Lishu telah dimulai melalui model pertanian kontrak, yang mencakup pengumpulan dan penyimpanan terpusat untuk pengolahan protein, dengan tujuan menyediakan substitusi kedelai.

Dihadapkan pada ketidakpastian terkait impor kedelai yang disebabkan oleh situasi internasional yang rumit, Tiongkok telah menjajaki berbagai metode penggantian kedelai, selain meningkatkan kapasitas pembudidayaan dan produksi kedelai di dalam negeri.

Jagung berprotein tinggi pertama kali diusulkan sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan impor kedelai negara itu oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Yan Jianbing, presiden Universitas Pertanian Huazhong yang berlokasi di Wuhan, Tiongkok tengah.

Berdasarkan penelitian dan perhitungan tim, peningkatan kandungan protein jagung sebesar satu persen dapat menambah sekitar 2,8 juta ton protein, yang setara dengan peningkatan pasokan kedelai sebesar 7 juta ton. Sebagai catatan, jika kandungan protein jagung ditingkatkan dari 8 persen saat ini menjadi 12 persen, Tiongkok dapat mengurangi impor kedelai tahunannya sebesar hampir 30 juta ton, yang setara dengan sepertiga dari total impor kedelai Tiongkok.

Menurut data dari Kementerian Perdagangan, impor kedelai Tiongkok pada 2024 mencapai 105 juta ton, dengan nilai impor sebesar 52,7 miliar dolar AS. Angka ini juga menunjukkan peningkatan sebesar 23,4 juta ton dibandingkan dengan tingkat pada 2015, yang mencerminkan laju pertumbuhan sebesar 28,7 persen.

Impor kedelai telah menyumbang lebih dari 80 persen dari total impor biji-bijian negara itu dalam beberapa tahun terakhir, dengan kedelai ini terutama dibutuhkan sebagai sumber protein untuk pakan ternak.

Tiongkok memproduksi sekitar 300 juta ton jagung per tahun, yang merupakan komoditas pangan utama negara itu. Namun, kandungan protein rata-rata jagung Tiongkok hanya sekitar 8 persen, sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan protein untuk pakan ternak.

Peternakan milik Qi berhasil mencapai dua rekor tertinggi dalam hal hasil panen jagung dan kandungan protein tahun ini, dengan hasil panen aktual mencapai 13.500 kilogram per hektare dan kandungan protein sebesar 11,67 persen.

Liu Xiangguo, Direktur Institut Bioteknologi Pertanian Akademi Ilmu Pertanian Jilin, mengatakan bahwa akademi tersebut telah memimpin inisiatif penelitian pembudidayaan untuk beberapa varietas jagung berprotein tinggi baru yang cocok untuk produksi lokal, yang telah menunjukkan adaptabilitas yang baik dan hasil panen yang tinggi di lapangan.

"Tahun ini menandai tahun pertama industrialisasi jagung berprotein tinggi, yang telah berkembang dari tahap pembudidayaan hingga pembentukan rantai industri yang lengkap," kata Liu.

Namun, saat ini hanya ada beberapa varietas jagung dengan kandungan protein stabil di atas 12 persen. Liu mengatakan bahwa data uji coba menunjukkan bahwa saat ini protein jagung mereka sangat berguna untuk pakan unggas dan ternak ruminansia atau memamah biak, tetapi rasio proteinnya masih sedikit lebih rendah dari yang dibutuhkan untuk pakan ternak. Ant/Xinhua

Ket. Foto: — Sumber: SCMP

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Deri Henriawan

Berita Terbaru

Jelang Laga Kontra Liverpool, Newcastle United Resmi Perluas Kapasitas St James' Park

Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

3 Tantangan Berat Trent Alexander-Arnold Usai Putuskan Hengkang dari Liverpool

Virus Zika Jadi Sorotan, Dispar Bali Minta Wisman Tetap Santai Berwisata

PLN dan YBM PLN Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Promo Tambah Daya untuk Warga Lenteng Agung.

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.