BRIN Sedang Meneliti Obat Anti Malaria
Kamis, 19 Okt 2023, 00:00 WIBJAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan sedang meneliti berbagai potensi obat anti malaria yang bersumber dari beragam biodiversitas yang dimiliki oleh Indonesia.
Seperti dikutip dari Antara, periset biologi molekuler Eijkman BRIN, Josephine Siregar, mengatakan kemunculan parasit malaria yang kebal obat membuat para ilmuwan harus menemukan obat-obatan baru untuk mengatasi masalah tersebut.
"Indonesia sangat kaya sumber biodiversitas. Untuk itulah, kita bisa bersama-sama membuat penelitian dan penemuan obat baru," ujar Josephine dalam sebuah seminar bertajuk Biologi Struktural dan Model Penyakit yang dikutip di Jakarta, Rabu (18/10).
Josephine menuturkan BRIN kini memiliki koleksi parasit plasmodium atovaquone dan plasmodium pyrimethamine.
Beberapa penelitian parasit malaria yang resisten terhadap sulfadoxine, artemisinin, piperaquine, dan obat-obat malaria lainnya juga dilakukan oleh lembaga riset pelat merah tersebut.
"Kita bisa bekerja bersama-sama. Saya mengundang peneliti-peneliti dari universitas ataupun institusi lainnya untuk melakukan screening Indonesian biodiversity for antimalaria candidate," kata Josephine.
Butuh Beberapa Obat
Lebih lanjut, dia menyampaikan riset obat yang bersumber dari biodiversitas itu kelak bisa menargetkan semua siklus parasit malaria. Kompleksitas siklus hidup parasit malaria membuat Indonesia membutuhkan beberapa obat yang bisa mengobati pasien, seperti vivax dan ovale yang dormant malaria.
BRIN masih tetap mencoba untuk menggali penemuan obat untuk mengobati penyakit malaria, meski mereka juga memiliki obat-obatan khusus berupa vivax dan ovale tersebut.
"Kami butuh model untuk menelusuri seluruh siklus hidup parasit malaria. Kalau pakai parasit yang ada pada manusia harus butuh relawan manusia untuk kami gigitan ke nyamuk dan sebagainya, itu juga tidak mudah," kata Josephine.
"Pengembangan model menggunakan mencit itu sangat baik sekali untuk pengembangan obat malaria baru. Semoga ke depan kita bisa mendapatkan suatu kandidat khususnya dari Indonesia," pungkasnya.
Penelitian BRIN ini sangat relevan di tengah kondisi saat ini. Sebelumnya diberitakan perubahan iklim dan konflik menghambat upaya untuk mengatasi tiga penyakit menular paling mematikan di dunia, demikian peringatan dari Kepala Dana Global untuk Memerangi AIDS, tuberkulosis, dan malaria.
Inisiatif internasional untuk memerangi penyakit ini sebagian besar telah pulih setelah terdampak parah oleh pandemi Covid-19, menurut laporan lembaga tersebut tahun 2023 yang dirilis baru-baru ini.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Zulkifli Hasan Perkenalkan Lahsamor, Teknologi BRIN yang Mampu Kurangi Sampah Rumah Tangga
-
Ayo ke Bengkulu Musim Durian Tiba! Ini 8 Tips Memilihnya agar Tak Rugi
-
Tercatat Kasus Malaria di Mimika Mencapai 86.747 Kasus
-
Prancis Waspada Serangan Cepat Swedia
-
Di Jember, PTPN I Jaga Praja dan Ekonomi Petani Pemilik Lahan
-
Inovasi dan Terobosan untuk Komoditas Cabai
-
100% Dalam 4 Menit , Tiongkok Kembangkan Baterai Natrium yang Diklaim Awet Bertahun-tahun
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.