Russia Cabut Ratifikasi Traktat Larangan Uji Coba Nuklir

Rabu, 18 Okt 2023, 02:59 WIB

MOSKWA - Russia mencabut ratifikasi Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty/CTBT) karena sikap Amerika Serikat (AS) yang tidak bertanggung jawab terhadap keamanan global. Hal itu diucapkan oleh ketua majelis rendah parlemen Russia pada Selasa (17/10).

Sebelumnya Presiden Vladimir Putin mengatakan pada 5 Oktober lalu bahwa dia belum siap untuk mengatakan apakah Russia harus melanjutkan uji coba nuklir atau tidak, setelah ada seruan dari beberapa pakar keamanan dan anggota parlemen Russia untuk menguji bom nuklir sebagai peringatan kepada Barat.

Ket. Foto: Senjata Nuklir I Seorang aktivis yang mengenakan topeng wajah Presiden Vladimir Putin, berdiri di samping tiruan senjata nuklir saat terjadi aksi demonstrasi yang menuntut dihapuskannya senjata nuklir di depan Kedubes Russia di Berlin, Jerman, pada 23 Juni lalu. Pada Selasa (17/10), parlemen Russia menyatakan akan mencabut ratifikasi Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif. — Sumber: AFP/Odd ANDERSEN

"Demi menjamin keamanan negara, kami menarik ratifikasi Perjanjian Larangan Uji Coba Nuklir Komprehensif," kata Ketua Parlemen Russia, Vyacheslav Volodin.

Volodin mengatakan bahwa meskipun Russia telah meratifikasi perjanjian 1996 pada tahun 2000 lalu, Washington DC gagal meratifikasinya karena sikapnya yang tidak bertanggung jawab terhadap masalah keamanan global.

"Federasi Russia akan melakukan segalanya untuk melindungi warganya dan menjaga keseimbangan strategis global," tegas Volodin.

Meskipun Russia mencabut ratifikasinya, Russia akan tetap menjadi penandatangan dan akan terus bekerja sama dengan organisasi perjanjian larangan uji coba dan sistem pemantauan global, yang memperingatkan dunia akan adanya uji coba nuklir.

Para pejabat Russia mengatakan bahwa pencabutan ratifikasi tidak berarti Russia akan melakukan uji coba bom nuklir dan hal ini hanya sejalan dengan posisi AS, meskipun para ahli pengendalian senjata khawatir Russia akan melanjutkan uji coba nuklirnya.

Russia pasca-Soviet belum pernah melakukan uji coba nuklir. Uni Soviet terakhir kali mengujinya pada 1990 dan AS pada 1992.

Menurut catatan PBB, dalam lima dekade antara tahun 1945 dan Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT) 1996, lebih dari 2.000 uji coba nuklir dilakukan, 1.032 di antaranya dilakukan oleh AS dan 715 di antaranya dilakukan oleh Uni Soviet.

Ketegangan Meningkat

Dimulainya kembali uji coba nuklir oleh Russia, AS, atau Tiongkok, dapat mengindikasikan dimulainya perlombaan senjata nuklir baru antara negara-negara besar yang menghentikan uji coba nuklir pada tahun-tahun setelah runtuhnya Uni Soviet pada 1991.

Namun perang di Ukraina telah meningkatkan ketegangan antara Russia dan AS ke tingkat tertinggi sejak krisis misil Kuba tahun 1962, apalagi ketika Tiongkok berupaya untuk meningkatkan persenjataan nuklirnya agar sesuai dengan statusnya sebagai negara adidaya yang sedang berkembang.

Sebuah panel bipartisan yang ditunjuk oleh Kongres AS mengatakan pada Kamis (12/10) lalu bahwa Washington DC harus bersiap menghadapi kemungkinan perang simultan dengan Russia dan Tiongkok dengan memperluas kekuatan konvensionalnya, memperkuat aliansi dan meningkatkan modernisasi senjata nuklirnya.

Putin menganggap pernyataan itu tidak masuk akal dan mengatakan bahwa ia memandang tidak perlu mengubah doktrin nuklir Russia, sebuah dokumen yang menguraikan bahwa Russia hanya akan memerintahkan serangan dengan senjata nuklir jika diserang, atau jika keberadaan negaranya terancam oleh senjata konvensional. ST/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Tragedi Shalat Jumat di Nigeria: Masjid Diserbu Geng Motor, 60 Jemaah Raib Diculik

Modus Baru, Penipu di Kamboja Jual Jasa 'Anti-Banned' untuk Kuras Data Medsos

Bangladesh Punya Presiden Baru Setelah Pemilu Sengit 35 Tahun Terakhir

Simbol Hubungan Akrab, Sultan Brunei-Anwar Ibrahim Gelar Pertemuan di Istana Nurul Iman

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.