Terobosan Cerdas, Kepala BKKBN Ajak Masyarakat Tingkatkan Gizi dari Pangan Selain Beras

Rabu, 20 Sep 2023, 00:09 WIB

Semarang - Terobosan cerdas, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengajak masyarakat untuk meningkatkan gizi keluarga dari pangan lokal selain beras, utamanya pada masa dimana banyak daerah yang mengalami kekeringan seperti saat ini.

"Sekarang ini kekeringan meningkatdiiringi harga barang yang naik, dan yang kelihatankanberas. Saya optimis karena (di Indonesia) masih ada sumber karbohidrat dari bahan pangan lain, harapan saya masyarakat jangan bergantung pada beras," kata Hasto saat ditemui di Semarang, Jawa Tengah, Selasa.

Ket. Foto: Kepala BKKBN Hasto Wardoyo (kiri) bersama Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu (kanan) saat ditemui di Balai Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Selasa (19/9/2023) usai acara peluncuran gerakan "Cegah stunting bersama pengusaha Kota Semarang (Cempaka)". — Sumber: ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari

Ia menjelaskandemo masak hari ini yang dilakukan Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu dengan memanfaatkan bahan pangan lokal dari singkong bisa ditiru di kabupaten/kota lain.

"Oleh karena ituhari ini ada demo masak di Kota Semarang, yang ditekankan itu bagaimana pengganti beras bisa hadir. Maka tadi ada opor singkong, tetapi kalau karbohidratnya dari singkong, jangan lupa proteinnya dicukupi dari ayamnya," ujar Hasto.

Ia berharapkekeringan yang melanda beberapa daerah tidak terlalu berdampak pada kenaikan angkastunting, karena beras sebagai salah satu bentuk karbohidrat, bisa diganti dengan sumber karbohidrat yang lain.

"Ini momentumketika harga pangan ada kenaikan, maka masyarakat harus mengutamakan produk lokal, dan tidak harus beras, tadi ada labu, singkong, banyak sekali lah. Jagung misalnya. Jadi saya kira momentum ini bisa dipakai untuk kesempatan agar tidak bergantung pada beras," tuturnya.

Ia memaparkanbahan pangan kaya karbohidrat seperti singkong, labu, atau jagung, tidak membutuhkan banyak air dan bisa menjadi tanaman tadah hujan, sehingga sangat baik dimanfaatkan di musim kemarau atau di wilayah yang mengalami kekeringan.

"Makanan lokal dan tidak impor itu yang bisa membuat kita bertahan, dan tidak tergantung dari melimpahnya air, seperti singkong, jagung, itu kan tadah hujan. Kalau padi pada umumnyakanbutuh irigasi, sehingga kekeringan itu lebih banyak menghantam padi, jadi saya berharap ada konversi," ucapnya.

Menurut Hasto, ketahanan pangan masyarakat juga berpengaruh terhadap angkastuntingdi suatu wilayah.

"Jadi tingkatannya itu kan ketahanan pangan, kemandirian pangan, dan kedaulatan pangan. Kita kalau bisa kedaulatan pangan, semua bahan pangan dari produk sendiri, tetapi kalau kedaulatan belum bisa, paling tidak ya ketahanan pangan lah (untuk menekan angkastunting)," kata Hasto.

Ia berpesan kepada bupati/wali kota di tiap daerah agar bisa mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk penyediaan pangan, utamanya alternatif selain beras, sehingga tidak ada kerawanan pangan pada masa kekeringandan gizi keluarga bisa tetap tercukupi

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.