Indonesia Terbuka Berkolaborasi untuk Atasi Krisis Iklim

Jumat, 08 Sep 2023, 00:01 WIB

JAKARTA - Indonesia terbuka untuk berkolaborasi dan siap bekerja sama dalam mengatasi tantangan keberlanjutan global. Krisis iklim akan merugikan perekonomian global sebesar 23 triliun dollar AS pada 2050 dengan tiga juta kematian setiap tahunnya. Oleh karena itu, sudah saatnya Indonesia bersama negara-negara lain berkolaborasi mengatasi masalah krisis iklim.

"Indonesia mempunyai peran penting dalam upaya dekarbonisasi global. Indonesia terbuka untuk berkolaborasi dan bekerja sama dalam mengatasi tantangan keberlanjutan global," ujar Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, dalam pembukaan Indonesia Sustainability Forum (ISF) 2023 di Jakarta, Kamis (7/9).

Ket. Foto: LUHUT BINSAR PANDJAITAN Menko Marves - Indonesia terbuka untuk berkolaborasi dan bekerja sama dalam mengatasi tantangan keberlanjutan global. — Sumber: ISTIMEWA

Seperti dikutip dari Antara, Luhut mengatakan untuk mengatasi krisis iklim tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus ada kerja sama dari berbagai pihak untuk saling bergandengan tangan.

Setiap orang, tambah Luhut, perlu mengambil tindakan dan bertindak untuk menyelamatkan masa depan bumi dari perubahan iklim. Namun, kolaborasi internasional dengan kecepatan dan skala yang besar semakin dibutuhkan saat ini.

"Dengan semangat kolaborasi global, kami memprakarsai Indonesia Sustainability Forum, sebuah forum tempat para pemimpin global berkumpul untuk mendorong kolaborasi internasional yang konkret dalam mengejar pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif," kata Luhut.

Luhut mengangkat beberapa topik penting mengenai tantangan keberlanjutan seperti mengurangi emisi gas rumah kaca serta timbunan limbah dari kegiatan ekonomi, melestarikan keanekaragaman hayati dan ekosistem untuk menjamin kesejahteraan alam dan melindungi planet yang layak huni.

Ekonomi Hijau

Selain itu, tambah dia, meningkatkan ekonomi hijau melalui pembangunan bisnis baru yang ramah lingkungan hingga menerapkan faktor finansial, teknologi, sumber daya manusia, dan faktor pendukung lainnya untuk mempercepat pertumbuhan berkelanjutan.

"Kami berupaya mendorong diskusi yang bermanfaat dan produktif di antara para pemimpin dan pemangku kepentingan utama yang hadir dalam dua hari ke depan," katanya.

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Jerry Sambuaga, sebelumnya meyakini hasil dari rangkaian Pertemuan ke-55 Menteri Ekonomi Asean (AEM) dapat membantu Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara untuk mengatasi tantangan krisis pangan dan perubahan iklim.

"Ini sangat membawa manfaat dan sangat bawa hasil atau deliverables yang signifikan, prioritas capaian ekonomi kita atau Priority Economy Deliverable (PED) kita berpengaruh langsung ke food security dan juga perubahan iklim," kata Jerry.

Jerry menyebut beberapa kesepakatan yang telah dicapai dalam AEM dan berpengaruh langsung terhadap prioritas capaian ekonomi (PED) Indonesia yang berkaitan dengan masalah krisis pangan dan perubahan iklim.

Beberapa prioritas ekonomi Indonesia yang tercapai dalam AEM, antara lain Asean Leaders Declaration on Strengthening Food Security, kemudian Development of the Electric Vehicle Ecosystem, dan Development of Asean Blue Economy Framework.

"Ini menunjukkan komitmen Asean terhadap apa yang jadi prioritas selama ini clean energy, green economy, digitalisasi, sustainability," ujar dia.

Sepanjang pertemuan AEM, Jerry mengeklaim para menteri ekonomi Asean menyatakan komitmennya terhadap ekonomi ramah lingkungan dan juga ketersediaan pangan.

"Semua dikembangkan, dirumuskan, dan diimplementasikan dalam semangat-semangat kolektif di forum-forum di AEM," kata dia.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.