PM Kishida Desak Utamakan Keselamatan

Senin, 21 Agu 2023, 02:35 WIB

TOKYO - Perdana Menteri Jepang, Fumio Kishida, dalam kunjungannya ke pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima yang lumpuh pada Minggu (20/8) mengatakan bahwa ia mendesak operator untuk mengutamakan keselamatan menjelang rencana pembuangan air radioaktif olahan yang disimpan di fasilitas itu ke laut.

Mengingat para nelayan tetap khawatir akan dampak tindakan tersebut terhadap bisnis mereka, PM Kishida juga mengatakan kepada wartawan bahwa ia berencana bertemu dengan ketua Federasi Nasional Asosiasi Koperasi Perikanan pada Senin (21/8).

Ket. Foto: PM Jepang, Fumio Kishida — Sumber: AFP/JIJI Press

Sementara PM Kishida menahan diri untuk menentukan waktu pasti dimulainya pembuangan air tersebut saat kunjungan, dia bersiap untuk bertemu dengan menteri kabinet lainnya pada Selasa (22/8) untuk membuat keputusan akhir mengenai hal itu, dengan target akhir bulan.

"Masalah ini merupakan tantangan yang tidak dapat ditunda demi melanjutkan penonaktifan (reaktor yang lumpuh) dan kemajuan rekonstruksi Fukushima," kata PM Kishida.

Keputusan terakhir akan dibuat setelah memastikan keamanan dan tindakan akan diambil untuk mengatasi potensi dampak buruk pada bisnis, kata PM Kishida.

Langkah Antisipasi

Sementara itu Tomoaki Kobayakawa, presiden operator pembangkit listrik Tokyo Electric Power Company Holdings Inc, menjelaskan kepada PM Kishida bahwa perusahaan akan meluncurkan tim proyek untuk mengawasi departemen yang terlibat dalam langkah-langkah antisipasi mengenai persepsi publik dan masalah kompensasi untuk memungkinkan pengambilan keputusan yang cepat di manajemen puncak.

Sejumlah besar air terkontaminasi dihasilkan dalam proses pendinginan bahan bakar reaktor yang meleleh di pabrik Fukushima Daiichi sejak hancur akibat gempa bumi dan tsunami pada tahun 2011.

Air tersebut disimpan di tangki setelah menjalani sistem proses cairan canggih yang menghilangkan sebagian besar radionuklida kecuali tritium, namun wadah penyimpanan mendekati kapasitas maksimum. Tritium diketahui kurang berbahaya dibandingkan bahan radioaktif lainnya, seperti cesium dan strontium.

Air yang diolah, yang mengandung sejumlah kecil tritium, akan diencerkan hingga 1/40 dari konsentrasi yang diizinkan menurut standar keselamatan Jepang sebelum dilepaskan melalui terowongan bawah air 1 kilometer dari pembangkit listrik.

Selain nelayan setempat, sejumlah negara tetangga tetap menentang rencana tersebut, dan Tiongkok memperkenalkan uji selimut radiasi pada impor makanan hasil laut Jepang.

Pemerintah Jepang mempertimbangkan kapan akan membuang air itu sejak Badan Energi Atom Internasional mengatakan dalam laporan akhirnya bulan lalu bahwa rencana pembuangan akan mematuhi standar keselamatan global.Ant/Kyodo/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.