Penelitian Ungkap Menari dan Terapi Seni Efektif Kurangi Depresi
Minggu, 23 Jul 2023, 11:45 WIBSebuah penelitian terbaru menemukan bahwa kegiatan kelompok seperti menari dan terapi seni dapat secara efektif mengurangi kecemasan dan depresi. Terlibat dalam kegiatan ini menawarkan harapan bagi individu yang menghadapi tantangan kesehatan mental, dan membantu meningkatkan kesejahteraan emosional dengan menciptakan rasa keterhubungan dan penyembuhan.
Temuan penelitian yang diterbitkan dalam British Medical Journal ini mengamati berbagai aktivitas seni untuk orang dengan kecemasan dan depresi. Mereka menemukan bahwa kegiatan seperti menari, terapi musik, terapi seni, seni bela diri, dan teater dapat membantu mengurangi gejala depresi dan kecemasan.
Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami kegiatan mana yang paling berhasil untuk hasil yang berbeda dan bagaimana perbandingannya satu sama lain.
Para peneliti mengamati berbagai jenis seni pertunjukan seperti terapi tari, terapi musik, terapi seni, terapi berbasis seni bela diri, dan teater dengan tujuan untuk memahami bagaimana bentuk-bentuk seni ini dapat membantu meningkatkan kesehatan mental dan mengurangi perasaan cemas dan depresi.
Para peneliti melakukan tinjauan menyeluruh terhadap 171 penelitian yang berlangsung dari tahun 2004 hingga 2021, dengan fokus pada 12 penelitian terpilih untuk dianalisis lebih lanjut. Tampaknya kecemasan dan depresi adalah bidang utama yang menarik dalam sebagian besar penelitian ini. Namun, perlu dicatat bahwa tampaknya ada eksplorasi yang relatif terbatas terhadap hasil penting lainnya seperti kesejahteraan, kualitas hidup, dan komunikasi sehari-hari.
Studi yang diulas menunjukkan bahwa tarian memiliki efek positif pada kesehatan mental dan mengurangi depresi dan kecemasan. Demikian pula, terapi seni, termasuk terapi seni tanah liat, ditemukan dapat menurunkan tingkat kecemasan dan depresi. Temuan ini menunjukkan bahwa tari dan terapi seni memiliki potensi dalam meningkatkan kesehatan mental.
"Kecemasan dan depresi merupakan tantangan kesehatan global yang utama, yang mana kita sangat membutuhkan perawatan non-obat yang dapat mengurangi gejala. Tinjauan kami menemukan harapan nyata di berbagai penelitian, tetapi bidang penelitian ini mengalami stagnasi," kata Dr. Max Barnish, penulis penelitian dari University of Exeter Medical School, dikutip dari Medical Daily, Kamis (20/7).
"Kami sekarang membutuhkan para peneliti untuk bekerja di seluruh seni pertunjukan untuk membandingkan terapi kelompok satu sama lain, sehingga kami dapat menentukan jenis kegiatan mana yang paling efektif dalam mengurangi gejala," imbuhnya.
Sebagai informasi, depresi adalah salah satu gangguan kesehatan mental yang paling umum dan sering dihadapi oleh banyak orang di seluruh dunia. Ini jauh lebih dari sekadar perasaan sedih sesaat, tetapi merupakan kondisi yang serius yang mempengaruhi suasana hati, pikiran, fisik, dan perilaku seseorang.
Depresi bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk keturunan, perubahan kimia otak, stres, trauma, atau kondisi kesehatan fisik tertentu. Beberapa orang mungkin juga mengalami depresi tanpa penyebab yang jelas.
Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami gejala depresi, penting untuk mencari bantuan profesional. Depresi bisa diobati, dan banyak metode pengobatan yang efektif, termasuk terapi psikologis dan penggunaan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter.
Ingatlah bahwa depresi adalah kondisi medis yang serius dan tidak perlu dihadapi sendiri. Dengan bantuan yang tepat, kebanyakan orang dapat mengatasi depresi dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Redaktur: Fiter Bagus
Penulis: Rivaldi Dani Rahmadi
Berita Terkait:
-
Personel TNI di Lebanon Kembali Mendapat Serangan, Tiga Terluka
-
Perut Anda Buncit? Jalan Kaki 10 Menit Sehabis Makan Solusinya!
-
Liga Champions: Kompany Puji Performa “Istimewa” Neuer Usai Bayern Taklukkan Madrid
-
Target penambahan kapasitas PLTB
-
Rekor Baru Singapura: Angka Kasus Korupsi Menurun
-
Line Up Synchronize Fest 2026 Fase 1: Daftar 17 Musisi dan Jadwal Festival
-
Wajib Tahu! Kurang Tidur di Usia 40-an dan 50-an Bisa Meningkatkan Risiko Alzheimer di Kemudian Hari
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.