RI Harus segera Bangun Energi Surya Sendiri

Sabtu, 27 Mei 2023, 01:03 WIB

JAKARTA - Sebagai negara yang berad di di garis khatulistiwa, yang kaya akan sinar matahari sepanjang tahun, Indonesia harus segera membanguan energi baru dan terbarukan (EBT), khususnya tenaga surya. Hal ini harus segera diwujudkan karena Australia saja sudah membangun tenaga surya dan akan diekspor ke Singapura.

Sun Cable, perusahaan asal Australi telah menandatangani perjanjian penjualan dengan konsorsium yang terhubung dengan Grok Ventures milik Cannon-Brookes. Konsorsium itu termasuk investor infrastruktur Quinbrook. Di bawah kendali mereka, proyek ini akan mengekspor tenaga surya dari pedalaman Australia ke negara kepulauan Singapura.

Ket. Foto: Energi Terbarukan — Sumber: ISTIMEWA

Singapura yang penduduknya hanya sekitar lima juta akan mengimpor energi surya dari Australia dalam jumlah yang sangat besar. Diduga hal itu akan diekspor ke beberapa negara tetangganya, termasuk ke Indonesia. Untuk itu, Indonesia harus secepatnya membangun pembangkit listrik tenaga matahari agar tidak perlu mengimpor energi surya.

Pengamat energi terbarukan, Surya Darma mengatakan pemerintah harus lebih serius lagi menarik investasi proyek EBT, khususnya enegri surya ke Indonesia. Masih banyak diperlukan pembangunan energi yang ramah lingkungan baik untuk listrik maupun bahan bakar yang dapat digunakan untuk menggantikan energi fosil.

"Negara-negara luar harus diajak untuk investasi di Indonesia agar ada nilai tambahnya, apalagi sumber daya energy surya Indonesia sangat besar, namun masih minim pemanfaatannya," kata Surya Darma kepada Koran Jakarta, Jumat (26/5).

Menurut Surya, peralihan ke EBT ini dilakukan secara transisi yang akan mencapai puncaknya pada tahun 2060 dengan target net zero emission. Saat ini, energi terbarukan sudah sangat kompetitif. Apalagi jika dilihat banyak pengaruh faktor ekternal termasuk pengaruh politik, ekonomi dan keamanan yang menyebabkan energi fosil semakin tinggi harganya.

Di lain pihak, tambah Surya, energi terbarukan justru harganya semakin turun dan sangat kompetitif dibandingkan energi fosil. Namun demikian, berbagai negara yang konsen dengan pengambangan energi terbarukan, masih terus melakukan upaya-upaya dan pembaruan teknologi yang menyebabkan harga energi terbarukan semakin turun.

Lakukan Riset

Karena itu, tambah dia, bagi Indonesia, jika ingin berperan, tentu saja diperlukan upaya yang intensif termasuk melakukan riset dan pengembangan baik dari sisi energi maupun teknologinya terutama dalam pemanfaatan potensi sumber daya untuk dukungan pengembangan dan pemanfaatan energi terbarukan.

Sebelumnya Menko Bidang Kemaritiman dan Investas, Luhut Binsar Pandjaitan pada diskusi dengan tema Hilirisasi dan Transisi Energi Menuju Indonesia Emas, menyatakan kekecewaannya ke Singapura.

Luhut marah dan kecewa karena Singapura meminta impor listrik berbasis energi bersih dari Indonesia, tapi tidak mau membangun industri energi bersihnya di Indonesia.

Sementara itu, ekonom energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmi Radhi menanggapi kemarahan Luhut pada Singapura yang ia nilai mau mengakali Indonesia.

Para pejabat, saran Fahmi, hendaknya dalam pernyataannya jangan membuat situasi yang bikin iklim investasi justru tidak kondusif.

Senior Campaign Strategist Greenpeace International, Tata Mustasya mengatakan pengembangan energi terbarukan tidak hanya soal lingkungan dan iklim tetapi juga harus bermanfaat bagi ekonomi dan lapangan kerja dan betul juga rioritas penggunaan energi terbarukan dalam konteks transisi energi berkeadilan adalah akses yang inklusif dengan harga yang terjangkau, bukan ekspor untuk pasar komersial.

"Prioritas bagi pemerintahan Jokowi adalah memulai transisi energi dgn memulai langkah phase out PLTU batu bara dan akselerasi energi terbarukan, yang aksi nyatanya belum jelas. Penggunaan panel surya atap di rumah misalnya masih sangat dipersulit," tandasnya.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.