Kenaikan Harga Telur dan Ayam Lambat Diantisipasi

Selasa, 23 Mei 2023, 08:58 WIB

JAKARTA - Pemerintah dinilai lambat mengatasi kenaikan harga telur dan daging ayam. Harapan masyarakat agar harga pangan kembali stabil setelah Lebaran tak bisa dipenuhi oleh penyelenggara negara. Hingga kini, harga telur tak kunjung turun.

Ketua DPR RI, Puan Maharani, menekankan pemerintah untuk segera menemukan solusi demi mengatasi lonjakan harga daging ayam dan telur yang kini naik di pasaran. "Langkah-langkah strategis sangat krusial diambil agar daya beli masyarakat tetap terjaga untuk memperoleh bahan pangan," tegasnya dikutip dari laman resmi DPR RI, Senin (22/5).

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Seperti diketahui, kenaikan harga daging ayam di pasaran mencapai 34.000 rupiah per kilogram (kg) dari yang sebelumnya senilai 25.000 rupiah. Sementara itu, harga telur ayam ras naik dari 23.000 rupiah per kg menjadi 34.000 rupiah per kg. Bahkan, di beberapa daerah luar Pulau Jawa, harga telur ayam bisa mencapai 42.000 rupiah per kg.

"Pemerintah perlu segera mencari solusi efektif dan tindakan nyata untuk mengendalikan kondisi yang memberatkan rakyat ini dan tidak boleh membiarkan harga daging ayam dan telur terus melonjak, karena ini dapat memberikan dampak yang signifikan pada kehidupan sehari-hari rakyat kita," tandas Puan.

Dirinya mengingatkan, kenaikan harga ayam dan telur tidak hanya berdampak terhadap masyarakat sebagai konsumen, tetapi juga berdampak terhadap pedagang kecil dan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Dia pun menjabarkan kenaikan harga pangan secara otomatis akan meningkatkan biaya produksi bagi para pedagang dan UMKM, terutama mereka yang memiliki usaha dengan ayam dan telur sebagai bahan utama produksi usahanya.

Dirinya menyampaikan DPR RI melalui fungsi pengawasannya akan mengawasi program bantuan pangan berupa daging ayam dan telur dari pemerintah. Tidak hanya itu, ia kembali menegaskan pemerintah bahwa program bantuan tidak boleh dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk meraih keuntungan.

Jangkauan pengawasan, imbuhnya, dilakukan agar hukum diterapkan dengan ketat guna mencegah praktik monopoli, kartel, dan praktik bisnis yang merugikan konsumen. "Penanganan akurat terhadap monopoli, penimbunan, atau spekulasi harga harus dilakukan untuk mencegah kelangkaan dan peningkatan harga yang tidak wajar," tegasnya.

Dorong Stabilitas

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, mengatakan dinamika harga telur ini harus dilihat dari berbagai sisi, karena tidak terlepas dari upaya menjaga keseimbangan dan harga wajar di tingkat peternak, pedagang, dan konsumen.

"Beberapa bulan terakhir usaha pemerintah memang untuk menyiapkan harga yang wajar di tingkat peternak, pedagang, dan konsumen. Hal Ini sesuai dengan konsen Presiden Joko Widodo agar harga pangan dijaga tetap wajar dan seimbang di petani/peternak, pedagang, dan konsumen," ujarnya.

Arief menuturkan upaya menjaga keseimbangan harga telur ini harus dimulai dari hulu karena secara sistematis turut membentuk harga di tingkat hilir. "Saat ini di tingkat hulu atau peternak terjadi perubahan biaya produksi, khususnya variabel biaya pakan," ujarnya.

Menurut Arief, ekosistem perunggasan sangat erat kaitannya dengan jagung sebagai salah satu komponen utama pakan ternak. Dalam rangka menjaga stabilisasi pasokan dan harga jagung, Bapanas tingkatkan fasilitasi distribusi pangan (FDP) komoditas jagung dari petani atau gapoktan kepada peternak.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.