Inflasi Pangan Meningkat, Legislator Desak Skema Intervensi Hulu Diperkuat
Minggu, 16 Nov 2025, 21:30 WIBJAKARTA- Komisi XI DPR RI menekankan pentingnya pengendalian inflasi dari sisi hulu setelah melakukan evaluasi langsung atas kinerja Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kunjungan ini dilakukan di tengah meningkatnya inflasi pangan DIY yang mencapai 2,90 persen yoy (year on year) per Oktober 2025, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya maupun capaian nasionalÂ
Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad, menyoroti bahwa tren inflasi pangan khususnya komoditas utama mengharuskan adanya strategi intervensi yang lebih komprehensif.
âPertama, kami melihat ada peningkatan inflasi khususnya pada pola title food. Inflasi sektor pangan didorong oleh beberapa komoditas seperti beras, telur, dan daging ayam. Ini perlu diantisipasi karena sudah berada di atas batas maksimal 5 persen yang kita sepakati antara Pemerintah dan DPR,â ujarnya seusai pertemuan dengan BI di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, (14/11) dikutip dari laman resmi DPR RI.
Ia menegaskan bahwa selama ini intervensi pemerintah dan TPID cenderung berada di hilir, seperti operasi pasar, buffer stock, dan kelancaran distribusi. Menurutnya, saat ini urgensinya telah berubah.
âTetapi di hulunya sumber-sumber produksi itulah yang harus dikendalikan. Kita mendorong Bank Indonesia bersama TPID mulai memikirkan skema pengendalian inflasi di sektor hulu agar kenaikan harga pangan tidak terus berulang,â tegas Kamrussamad.
Dalam pertemuan dengan Bank Indonesia, Komisi XI mencatat bahwa inflasi DIY meningkat seiring dengan tingginya aktivitas ekonomi yang mencapai pertumbuhan 5,40 persen yoy (year on year) pada Triwulan III-2025, tertinggi di Pulau Jawa dan melebihi capaian nasionalÂ
Kamrussamad menilai bahwa upaya GNPIP, digitalisasi pembayaran, dan penguatan koordinasi TPID yang dilakukan BI DIY sudah menunjukkan arah positif, namun belum cukup menghadapi tekanan pangan yang lebih terstruktur.
Legislator Dapil DKI Jakarta III itu juga menyoroti perlunya kesiapan menghadapi kebutuhan komoditas untuk program prioritas pemerintah tahun 2026.
âKoordinasi TPID harus lebih intensif, bukan lagi sekali semingguâkalau bisa dua hingga tiga kali. Tahun 2026 akan ada captive market besar untuk program prioritas nasional MBG, dan antisipasinya harus dimulai dari sekarang,â jelasnya.
Kunjungan ini diharapkan menghasilkan penguatan kolaborasi antara DPR RI, Bank Indonesia, dan pemerintah daerah dalam menjaga daya beli masyarakat akibat tekanan inflasi yang meningkat.Â
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Dinas SDA: Banjir Rob Intai Jakarta Utara pada 13-14 dan 25-31 Oktober
-
Sentimen Global Masih Dominan - 24 September 2026
-
DPR Minta Pemerintah Tetapkan KLB Karhutla, Paparan Asap Sudah Parah
-
Okupansi Hotel Anjlok Usai Erupsi Gunung Anak Krakatau, Pemkab Serang Siapkan Festival untuk Bangkitkan Wisata
-
Data Center Jatiluhur Butuh Air 33 Juta Liter per Hari, PAM Jaya Diminta Waspada
-
BPS Catat Ekspor Papua Barat Turun 22,37 Persen hingga Agustus 2026
-
Aksi Hari Tani Nasional di DPR, Massa Bawa Sayur dan Hasil Kebun
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.