Dolar AS 'Rebound' karena ini Penyebabnya
Sabtu, 15 Apr 2023, 06:07 WIBNew York - Bangkit kembali. Dolar menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), bangkit kembali dari level terendah dua bulan setelah inflasi mendingin, karena imbal hasil obligasi pemerintah AS naik menyusul rilis data ekonomi AS dan komentarhawkishdari seorang pejabat Fed.
Indeks dolar, yang mengukurgreenbackterhadap enam mata uang utama lainnya, terangkat 0,59 persen menjadi 101,6179 pada akhir perdagangan.
Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,0999 dolar AS dari 1,1046 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,2414 dolar AS dari 1,2523 dolar AS pada sesi sebelumnya.
Dolar AS dibeli 133,7870 yen Jepang, lebih tinggi dari 132,7800 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS meningkat menjadi 0,8939 franc Swiss dari 0,8882 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3360 dolar Kanada dari 1,3339 dolar Kanada. Dolar AS naik menjadi 10,3245 krona Swedia dari 10,2654 krona Swedia.
Gubernur Federal Reserve Christopher Wallersalah satuhawkishterbesar bank sentral pada suku bunga, dalam sebuah pidatonya pada Jumat (14/4/2023) mengatakan dia menginginkan lebih banyak pengetatan moneter meskipun ada bukti bahwa inflasi di Amerika Serikat turun dari tertinggi empat dekade.
Menurutnya, ada kebutuhan untuk terus menaikkan suku bunga karena inflasi "masih terlalu tinggi", kebijakan moneter harus tetap ketat untuk jangka waktu yang cukup lama, dan lebih lama dari yang diantisipasi pasar.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik pada Jumat (14/4/2023), dengan suku bunga surat utang 2-tahun merebut kembali pegangan 4,0 persen dan suku bunga obligasi 10 tahun melayang di 3,4 persen.
Meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah memberikan dukungan material untuk mata uang AS menjelang akhir pekan, kata Vladimir Zernov, analis pemasok informasi pasar FX Empire.
University of Michigan melaporkan Jumat (14/4/2023) bahwa pembacaan awal sentimen konsumen adalah 63,5 pada April, naik dari 62,0 pada Maret. Para ekonom memperkirakan pembacaan yang tidak berubah, menurut Reuters.
"Sementara konsumen mencatat pelonggaran inflasi di antara barang tahan lama dan mobil, mereka masih memperkirakan inflasi tinggi akan bertahan, setidaknya dalam jangka pendek," kata University of Michigan dalam laporan tersebut.
Selain itu, Federal Reserve melaporkan pada Jumat (14/4/2023) bahwa produksi industri meningkat pada Maret sebesar 0,4 persen dalam basis bulan ke bulan, sementaraoutput manufaktur turun sebesar 0,5 persen pada Maret secara bulan ke bulan.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Satu Tahun Berlalu Pengungsi Erupsi Lewotobi Belum Pindah dari Tenda
-
Dorong Substitusi Impor, Kemenperin Pertemukan Industri Produsen dan Pengguna Pati Ubi Kayu
-
Bisa Bersaing di Pasar AS, Kemendag Yakinkan Eksportir Mamin
-
Banjir Terjang 13 Desa di Lima Kecamatan di Bima, Ratusan Rumah Terendam
-
Turun Tipis, Harga Emas Antam Hari Ini Rp2.340.000 per Gram
-
Rupiah Melemah ke Rp16.621 per Dolar AS, Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga The Fed
-
Kronologi Anggota Pasukan Bela Diri Jepang Masuk Tanpa Izin ke Kedubes China
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.