KKP Kembangkan Budi Daya Ikan Nila di Papua
Jumat, 24 Mar 2023, 08:19 WIBJAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan budi daya ikan nila di Papua guna meningkatkan produksi perikanan nasional. Selain karena ketersediaan lahan, minat konsumsi ikan nila di Papua juga tinggi.
"Papua mempunyai potensi lahan sangat luas, termasuk di Jayapura dan cocok untuk pengembangan budi daya ikan nila, selain itu minat konsumsi ikan nila masyarakat Papua sangat tinggi. Harapannya ini mampu meningkatkan produksi dan ekonomi di Jayapura dan Papua pada umumnya," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Tb Haeru Rahayu dalam kererangan tertulisnya, Kamis (23/3).
Dia menambahkan pengembangan budi daya ikan nila di Papua ini diharapkan mampu mendukung peningkatan produksi budi daya ikan nila nasional yang ditargetkan mencapai sekitar 2 juta ton pada 2023. Selain itu, juga mampu memenuhi permintaan pasar terhadap komoditas ini yang juga meningkat. Selain untuk konsumsi lokal, ikan ini juga merupakan komoditas ekspor terutama ke Amerika Serikat (AS), yang diekspor dalam bentuk fillet.
Lebih lanjut Tebe menambahkan saat ini, bisnis budi daya ikan nila masih menjadi salah satu bisnis yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Pasalnya, pengelolaan budidaya yang relatif mudah. Selain itu, komoditas ikan nila sangat diminati masyarakat dan memiliki daya tahan yang baik terhadap penyakit.
"Ikan nila termasuk ikan yang kuat terhadap serangan penyakit, masa pemeliharaan hanya 3 sampai dengan 4 bulan. Makanya komoditas ini sangat cocok untuk menjadi usaha dan bisnis budidaya di masyarakat, karena sangat menjanjikan dan peluang menghasilkan keuntungan lebih besar" ujarnya.
Selain itu, kata Tebe berdasarkan trade map pada 2021, Indonesia termasuk sebagai Negara posisi ke lima sebagai Negara pengekspor produk ikan nila di pasar global.
Keunggulan Bioflok
Sementara itu, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu, Christian Maikel Eman, menjelaskan keunggulan budi daya ikan nila sistem bioflok yang digunakan di Papua ini antara lain; padat tebar yang lebih tinggi bisa mencapai 100 ekor/ m3, sehingga panen bisa lebih banyak.
FCR budi daya ikan nila sistem bioflok 0,8-1. Pada sistem biasa 1,3-1,5, ada efisiensi penggunaan pakan serta efisiensi lahan. "Konsep budidaya ikan nila sistem bioflok dinilai pas dan tepat untuk diterapkan di tanah Papua," katanya.
Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Nila Sistem Bioflok, Pokdakan Raliyauw, Frans Pouw mengakui keuntungan dengan bioflok seperti mudah perawatannya, pascapanennya mudah, dan menghemat pakan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Mohammad Zaki Alatas
Berita Terkait:
-
Letusan Anak Krakatau Masih Ganggu Penerbangan, KAI Daop 8 Kembali Tambah Kereta Eksekutif dan Ekonomi New Generation untuk Perjalanan Surabaya-Jakarta
-
AS Darurat Bakteri Salmonella, Dugaan Kecambah Brokoli Terkontaminasi
-
Pemkot Tangerang Selatan Gencarkan Uji Emisi Gas Buang Kendaraan
-
Bandara SMB II: Sebanyak 18 Penerbangan Batal akibat Erupsi Krakatau
-
Dibuka Menguat, IHSG Hari Ini Bergerak Mendatar, Pasar Cermati Sentimen Global dan Domestik
-
OIKN Perkuat Patroli Udara Cegah Karhutla Meluas
-
KKP Tangkap Kapal Filipina dan Bongkar 25 Rumpon Ilegal di Maluku Utara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.