SKK Migas Sebut Penerimaan Negara Sektor Hulu Migas Capai Rp 270 Triliun
Kamis, 16 Mar 2023, 20:00 WIBBatu - Kepala Departemen Humas SKK Migas Perwakilan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa), Indra Zulkarnain mengungkapkan penerimaan negara di sektor hulu migas capai Rp270 triliun pada tahun 2022.
"Kegiatan hulu migas merupakan bisnis strategis dalam penerimaan negara dan memegang peran besar dalam ekonomi nasional. Pada tahun 2022 penerimaan negara sektor hulu migas sebesar Rp270 triliun," kata Indra Zulkarnain dalam lokakarya "Jurnalisme Lingkungan & Peran Industri Hulu Migas Dalam Pengurangan Emisi Karbon" di Batu, Jawa Timur, Kamis (16/3).
Indra menjelaskan transisi energi merupakan hal yang paling penting bagi seluruh perusahaan migas di seluruh dunia. Ditargetkan pengurangan emisi karbon guna menahan suhu dunia sebesar 1,5 hingga 2 derajat celcius.
"SKK Migas meyakini bahwa industri hulu migas tetap memegang erat untuk memenuhi kebutuhan energi di kehidupan mendatang dan sebagai jembatan menuju transisi energi," ujarnya.
Karena itu, Indra mengajak media untuk membantu menyebarkan informasi-informasi positif dan menjadi penyeimbang ke masyarakat.
"Karena dukungan media selama ini, industri hulu migas bisa diketahui, dipahami, dan diapresiasi oleh masyarakat. Untuk itu kami terus berharap rekan-rekan media di wilayah Jabanusa ikut membantu menyebarkan informasi positif ke masyarakat," ujar Indra.
Spesialis Dukungan Bisnis SKK Migas Jabanusa Dimas Ario Rudhy Pear menuturkan bahwa SKK Migas sudah meraih sertifikat ISO SNI370001terkait Sistem Manajemen Anti-Penyuapan.
"Hal ini sangat penting karena memastikan proses bisnis di SKK Migas berjalan sesuai dengan aturan, prosedur, dan etika," kata Dimas.
Adapun proyeksi kebutuhan energi secara global khususnya minyak dan gas akan mencapai puncaknya pada 2030.
Indonesia sendiri memiliki target produksi minyak mentah sebesar satu juta barel minyak per hari (BOPD) dan gas sebesar 12 miliar kaki kubik per hari (BSCFD) pada tahun 2030.
"Untuk mencapai target tersebut, kita butuh investasi sebesar. Tidak hanya itu, tantangan dan kendala industri hulu migas lainnya juga tidak kalah besar terkait sinergi hulu-hilir, kepastian hukum, dan lainnya," ujar Dimas.
Sementara itu, Pakar Jurnalisme Lingkungan Herlina Agustin memaparkan tentang peranan wartawan untuk turut serta dalam pengurangan emisi karbon.
"Wartawan bisa membuat tulisan dengan sudut pandang lain agar isu lingkungan yang biasanya dianggap tidak 'seksi' bisa dilirik agar diangkat," kata Herlina.
Menurutnya, media massa punya peran yang sangat penting karena Indonesia memiliki ancaman serius terkait perubahan iklim.
"Di Semarang, penduduk di pesisir setiap tahun harus meninggikan rumahnya agar tidak terkena banjir rob. Sisanya mereka memilih pindah karena ancaman banjir rob," ujarnya.
Redaktur: Kris Kaban
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Ngeri! Pelatih Norwegia Bongkar Rahasia Haaland untuk Hancurkan Irak di Piala Dunia 2026
-
Mengapa Keamanan Siber Penting bagi Event Besar?
-
Pemerintah Perlu Percepat Ekosistem Baterai Nasional
-
Kemenag Jambi Batasi Penggunaan Gawai di Madrasah demi Tingkatkan Fokus Belajar Siswa.
-
Bidik 1.000 MMSCFD! North Hub Targetkan Gas Perdana 2028 Lewat Pipa 32 Inci
-
Gak Perlu ke Luar Negeri! Robot Canggih Kini Bisa Operasi Ganti Sendi Lutut di Bali
-
Kementerian PKP Alokasikan Bedah 1.810 Rumah Tidak Layak di Jakarta Pusat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.