• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Hinat, Wajah Perempuan Kun...

Hinat, Wajah Perempuan Kuno dari Kota Hegra

Rabu, 22 Feb 2023, 06:40 WIB

Situs warisan dunia UNESCO Hegra di Arab Saudi yang lama ditutup, telah dibuka kembali. Untuk menghadirkan suasana masa lalu, para arkeolog merekonstruksi Hinat, wajah perempuan dari era Kerajaan Nabatean sekitar 2.000 tahun yang lalu.

Wajah Hinat berasal dari kerangka manusia yang berasal dari era Kerajaan Nabatean yang dimakamkan di Hegra. Dia hidup dan meninggal pada usia sekitar 40 tahun sekitar 2.000 tahun yang lalu.

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Hadirnya Hinat menyusul pembukaan Hegra pada November 2020 lalu, seperti menghidupkan kembali wajah salah satu leluhur orang Saudi. Penampakan wajah perempuan ini bisa terjadi berkat kolaborasi luar biasa antara para arkeolog, akademisi, ilmuwan forensik, dan pembuat model spesialis.

Dari hasil penggalian, Hinat dulunya seorang perempuan yang cukup kaya. Hal itu ditandai dengan makam bergengsi yang dibuat untuknya dan keturunannya. Makamnya diukir dengan susah payah dari salah satu singkapan batu di kuburan yang mengelilingi rumahnya di Lembah AlUla, di barat laut Arab Saudi.

Sejak 6 Februari 2023, wajah Hinat yang mencolok dan seukuran aslinya, telah menyambut para pengunjung Hegra Welcome Center in AlUla atau Pusat Penyambutan Hegra di AlUla. Keberadaannya menandai 15 tahun sejak Hegra menjadi situs arkeologi pertama kerajaan yang masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO.

"Begitulah kesamaan yang mencolok antara Hinat dan mereka yang menyebut AlUla tempat tinggal mereka hari ini sehingga beberapa dari mereka yang telah melihatnya merasa bertemu dengan seorang kerabat," ucap Leila Chapman, pakar pengalaman naratif di Komisi Kerajaan untuk AlUla (Royal Commission for AlUla/RCU) dikutip dari ArabNews.

Chapman mengatakan dia menunjukkan foto rekonstruksi kepada sekelompok pemandu warisan AlUla, yang semuanya direkrut dari daerah tersebut, dan salah satu tim berkata: 'Itu mirip bibi saya!' sehingga semuanya merasa berhubungan dengannya," ungkap dia.

Itu, kata dia, amat menyenangkan melihat reaksi dan tanggapan orang-orang AlUla, "Dan itulah yang membuat saya sangat bersemangat (dengan) keterlibatan tatap muka semacam itu," kata dia.

"Bagi saya, setelah melihat keseluruhan prosesnya, mulai dari pembuatan wireframe, pelapisan kulit, pemilihan warna mata dan rambut, hingga cara perhiasan digunakan, tiba-tiba semua elemen ini menyatu, dan memang begitu. 'Oh, ini bukan hanya sebuah proyek, ini adalah manusia'," lanjut Chapman.

Menurut dr Helen McGauran, seorang ahli kuratorial warisan di RCU, yang memimpin inisiatif Hinat, rekonstruksi itu sendiri tidak mengejutkan dirinya. "Tetapi yang mengejutkan saya adalah reaksi saya terhadapnya," kata dia.

"Sebagai seorang arkeolog, saya telah menggali sisa-sisa manusia, jadi saya sangat terbiasa dengan itu. Tetapi ketika saya pertama kali melihat gambar lengkapnya, itu benar-benar membuat saya terengah-engah. Saya merasakan hubungan, resonansi emosional yang nyata dengan orang yang nyata, daripada sesuatu yang telah digali sebagai objek," ungkap dia.

"Ini adalah proyek yang telah saya jalani selama jangka waktu yang cukup lama, dan telah melihat dari konsep hingga membuahkan hasil, dan saya merasa sangat terhubung secara pribadi dengannya dengan cara yang tidak saya duga," lanjut McGauran.

Jalur Perdagangan Rempah

Berada di jantung lembah AlUla, Hegra memiliki sebuah oasis kuno yang telah menampung komunitas dan peradaban selama 7.000 tahun. Tempat ini menjadi pusat penting pada jalur perdagangan rempah bersejarah di Arab selatan, Mesir dan Mediterania. Tempat ini pun terkait dengan jejak hampir setiap periode besar dari prasejarah hingga saat ini.

Pada abad pertama SM, Hegra telah melampaui Dadan di dekatnya sebagai titik perhentian utama pada jalur perdagangan. Proyek Arkeologi Mada'in Salih memulai pekerjaan arkeologinya di situs Hegra pada 2002. Makam Hinat sendiri pertama kali digali pada 2008 pada awal penyelidikan arkeologi bersama Prancis-Saudi terhadap pekuburan menakjubkan yang mengelilingi Kota Hegra.

Kota Hegra telah lama hilang di bawah pasir lembah AlUla, dan di mana pekerjaan berlanjut hingga hari ini. Sejak saat itu, lebih dari 100 makam monumental, dengan fasad berhias yang berasal dari abad pertama SM hingga abad pertama masehi, telah digali dan didokumentasikan.

Namun pada 2008, selama musim pertama penggalian, perhatian para arkeolog tertuju pada satu makam tertentu di lereng timur Jabal Al-Ahmar, yang kemudian diberi nama IGN 117. Letaknya di atas pintu masuk diukir sebuah prasasti yang menarik.

"Ini adalah makam yang dibuat oleh Hinat, putri Wahbu untuk dirinya sendiri dan untuk anak-anaknya dan keturunannya selamanya," bunyi prasasti. "Tidak seorang pun memiliki hak untuk menjualnya atau memberikannya sebagai jaminan atau menulis untuk sewa makam ini."

Makam itu bertanggal "pada tahun kedua puluh satu Raja Maliku, Raja Nabataeans" sekitar tahun 60 sebelum masehi. Tidak seperti kebanyakan makam di Hegra, yang satu ini sepertinya tidak diganggu. Pintu masuknya, yang dipahat tinggi di atas permukaan batu, telah tersembunyi, mungkin selama berabad-abad, oleh pasir yang hanyut.

Dua dari lempengan batu yang membentuk pintu itu masih ada, dan ruang pemakaman di baliknya dipenuhi pasir. Di bawah pasir itu, selama beberapa musim penggalian yang cermat, para arkeolog menemukan sisa-sisa sekitar 80 orang yang telah dikuburkan pada periode yang berbeda dari jasad Hinat, keluarganya, dan keturunan mereka.

Sebagian besar tulang berserakan atau "terpisah," dalam terminologi yang digunakan oleh para arkeolog. Tetapi satu kerangka, yaitu seorang perempuan dewasa, hampir lengkap dan, karena lokasinya di dalam makam, yang menyiratkan bahwa itu adalah salah satu inhumasi pertama, disimpulkan bahwa itu mungkin saja Hinat sendiri.

Tengkorak dari kerangka tersebut, yang cukup terawetkan oleh alam, dipilih untuk memastikan informasi yang memadai untuk rekonstruksi yang berhasil. Tengkorak khusus dipilih oleh Wakil Direktur Proyek Arkeologi Laila Nehme dan Antropolog Proyek Nathalie Delhopital.

Kemudian digelar acara pertemuan ilmiah selama satu hari, yang mengumpulkan para pakar terkemuka di Hegra, Nabataean, dan arkeologi Al-Ula. "Ini merupakan diskusi yang hidup seputar kemungkinan penampilan Hinat, potensi statusnya di masyarakat dan apa yang mungkin dia kenakan," menurut juru bicara RCU.

Dalam konferensi tersebut menetapkan batas-batas ilmiah dan panduan untuk akurasi dan karakter rekonstruksi, dan menghasilkan penulisan profil dengan citra referensi untuk pakaian, rambut, dan perhiasan, kata juru bicara tersebut. "Mereka bergabung dengan tim produksi multidisiplin, menyatukan keahlian dalam antropologi forensik dan rekonstruksi, serta pembuatan model fisik," ucap dia.

Singkatnya, kata McGauran, rekonstruksi yang dihasilkan adalah titik temu yang indah antara sains dan seni. "Melalui upaya perintis seperti ini, yang menyatukan ketelitian profesional dan interpretasi artistik yang cermat, kami dapat memperdalam pemahaman kami tentang kehidupan dan budaya suku Nabatean sebuah peradaban yang telah memberi dunia situs Hegra yang luar biasa, dan terus berlanjut hingga saat ini menjadi sumber ilmu dan inspirasi," ujar dia.

Namun, tidak seorang pun dapat mengatakan dengan pasti bahwa tengkorak yang dipilih itu benar-benar tengkorak Hinat. "Kami tidak tahu," kata McGauran. "Cukup sulit dengan makam-makam ini untuk mengatakan individu mana yang disebutkan dalam prasasti. Mereka digunakan selama ratusan tahun. Anda dapat membuat kesimpulan tentang penguburan mana yang paling awal, dan mana yang terakhir, tapi mungkin itu saja," kata dia.

Terlepas dari itu, Hinat, begitu dia dikenal oleh para arkeolog yang menemukannya, berasal dari waktu yang berbeda dari masa lalu. Dia memiliki kisah yang menarik untuk diceritakan. Rekonstruksi kepalanya menempatkan wajah manusia pada tahun-tahun pekerjaan arkeologi yang melelahkan yang terus mengungkap rahasia masa lalu AlUla yang penuh semangat.

"Kesempatan bagi pengunjung kami untuk bertatap muka dengan seorang perempuan Nabataean di situs Hegra yang sebenarnya tempat dia tinggal dan dihormati oleh keluarganya sangat menarik," kata Chapman. "Kami sangat senang bahwa orang-orang AlUla akan melihat rekreasi leluhur kuno mereka ini," imbuh dia. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.