- Home
-
- Luar Negeri
-
- Klaim Manfaat Susu Formula...
Klaim Manfaat Susu Formula Tak Didukung Sains
Jumat, 17 Feb 2023, 02:25 WIBPARIS - Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada Kamis (16/2) menyatakan bahwa sebagian besar klaim kesehatan yang digunakan untuk mengiklankan susu formula bayi di seluruh dunia ternyata tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat. Atas hasil penelitian tersebut, peneliti terkemuka mendesak agar pengganti ASI dijual dalam kemasan polos.
Studi tersebut muncul sepekan setelah sekelompok dokter dan ilmuwan menyerukan tindakan tegas terhadap industri susu formula senilai 55 miliar dollar AS karena menngunakan cara pemasaran "predator" yang menurut mereka mengeksploitasi ketakutan orang tua baru untuk meyakinkan mereka agar tidak menyusui.
Menyusui diakui secara luas memiliki manfaat kesehatan yang besar bagi bayi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Pusat pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) bahkan telah merekomendasikan menyusui secara eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi yang baru lahir. "Namun rekomendasi itu diikuti oleh kurang dari separuh bayi secara global," menurut WHO.
Daniel Munblit, dosen senior kehormatan di Imperial College London dan penulis studi baru tersebut, mengatakan bahwa para peneliti tidak melakukan perang melawan susu formula, yang harus tetap menjadi pilihan bagi ibu yang tidak dapat atau memilih untuk tidak menyusui. "Tapi kami sangat menentang pemasaran susu formula yang tidak tepat, yang memberikan klaim menyesatkan yang tidak didukung oleh bukti kuat," kata Munblit.
Munblit dan tim peneliti internasional mengamati klaim kesehatan yang dibuat untuk 608 produk di situs web perusahaan susu formula di 15 negara, termasuk AS, India, Inggris, dan Nigeria. Klaim yang paling umum adalah bahwa susu formula mendukung perkembangan otak, memperkuat sistem kekebalan tubuh, dan secara lebih luas membantu pertumbuhan.
"Sementara setengah dari produk tidak mengaitkan manfaat kesehatan yang diklaim dengan bahan tertentu, dan tiga perempat tidak mengacu pada bukti ilmiah yang mendukung klaim mereka," menurut penelitian yang diterbitkan dalamBritish Medical Journal(BMJ).
Dari mereka yang memberikan referensi ilmiah, lebih dari setengahnya merujuk pada ulasan, opini, atau penelitian tentang hewan. Hanya 14 persen produk yang merujuk pada uji klinis terdaftar pada manusia.
Namun 90 persen dari uji coba tersebut memiliki risiko bias yang tinggi, termasuk data yang hilang atau temuan yang tidak mendukung klaim tersebut, kata studi tersebut. Dan hampir 90 persen uji klinis memiliki penulis yang menerima dana dari atau memiliki ikatan dengan industri susu formula, imbuh studi itu.
Menyedihkan
Bahan yang paling sering dikutip adalah asam lemak tak jenuh ganda, yang ada dalam ASI dan dianggap penting untuk perkembangan otak. Namun tidak ada bukti manfaat tambahan apapun saat bahan tersebut ditambahkan ke susu formula bayi, menurut tinjauan sistematis Cochrane.
Munblit mengatakan klaim kesehatan sebagian besar digunakan untuk mengiklankan produk susu formula premium, yang bisa membuat "kegelisahan" bagi orang tua yang disesatkan untuk percaya bahwa bahan-bahan itu penting tetapi tidak mampu membelinya.
Saat ditanya apa yang menurutnya perlu dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, Munblit menjawab dengan singkat yaitu "kemasan polos". SB/AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.