• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Sejarah 13 Februari: Penem...

Sejarah 13 Februari: Penemuan 4 Gulungan Laut Mati Bersejarah di Israel

Senin, 13 Feb 2023, 00:05 WIB

Hari ini 13 Februari, menandakan 68 tahun ditemukannya empat dari tujuh Dead Sea Scrolls atau Gulungan Laut Mati yang terkenal. Penemuan besar itu diumumkan Perdana Menteri Israel, Moshe Sharett, dalam sebuah konferensi pers pada 13 Februari 1955.

Melansir Center of Israel Education, Gulungan Laut Mati adalah salinan tertua dari bagian Alkitab Ibrani dan berfungsi sebagai lensa ke dalam kehidupan sehari-hari agama, politik dan budaya dari mereka yang mendiami wilayah itu 2.000 tahun yang lalu. Gulungan Laut Mati mengacu pada seluruh dokumen dan fragmen dari sekitar 950 gulungan perkamen atau media untuk menulis yang dibuat dari kulit binatang.

Ket. Foto: Sebuah fragmen dari Gulungan Laut Mati di laboratorium konservasi Otoritas Kepurbakalaan Israel di Yerusalem, 19 Oktober 2010. — Sumber: AP

Ditulis antara abad ke-3 SM dan abad pertama Masehi, ketujuh Gulungan Laut Mati pertama kali ditemukan oleh para penggembala Bedouin dari suku Ta'amra pada tahun 1946.

Sharett mengatakan gulungan itu akan disimpan di fasilitas yang dibangun untuk tujuan itu, Kuil Kitab, yang sekarang menjadi bagian dari Museum Israel di Yerusalem.

Potongan-potongan perkamen itu ditemukan tersimpan selama lebih dari 2.000 tahun dalam guci-guci tanah liat di sebuah gua di perbukitan yang menghadap ke barat Laut Mati, berdekatan dengan situs yang dikenal sebagai Qumran.

Menurut outlet media Haaretz, orang Badui kala itu langsung menyadari bahwa artefak ini mungkin memiliki nilai sejarah yang signifikan. Mereka pun mengkonsultasikan penemuan tersebut kepada salah satu pedagang barang antik yang ternyata berhubungan dengan seorang arkeolog di American School of Oriental Research, sekarang Institut Albright, di Yerusalem.

Alhasil, kontak itu mengarah pada ekspedisi ilmiah yang mensurvei sejumlah gua di daerah tersebut, untuk mencari dokumen dan informasi tambahan tentang temuan tersebut.

Pada bulan Desember 1947, seorang profesor arkeologi di Universitas Ibrani, Eliezer Lipa Sukenik, berhasil membeli tiga dari tujuh gulungan itu dari seorang pedagang di Bethlehem. Gulungan itu termasuk manuskrip sebagian dari Kitab Yesaya alkitabiah, dan dua gulungan yang disebut Gulungan Thanksgiving, dan Perang Putra Cahaya melawan Putra Kegelapan.

Selanjutnya, empat Gulungan Laut Mati yang diumumkan pada 13 Februari 1955 disebut Perdana Menteri Israel, Moshe Sharett telah dibeli oleh Mar Athanasius Yeshue Samuel.

Diketahui kepala Biara Santo Markus Gereja Aram Ortodoks Suriah, di Yerusalem, membayar setara dengan USD 250 untuk mendapatkannya dari dealer Bethlehem lainnya. Gulungan itu dipindahkan ke Beirut pada Mei 1948, ketika Perang Kemerdekaan pecah, setelah itu Mar Samuel berhasil membawanya ke New York.

Menurut Haaretz, Mar Samuel kemudian memasang iklan kecil di Wall Street Journal yang mengumumkan penjualan "The Four Dead Sea Scrolls Biblical Manuscripts" yang berasal dari setidaknya 200 SM," pada 1 Juni 1954.

Saat itu, Yigael Yadin yang merupakan putra Eliezer Sukenik, yang juga merupakan seorang arkeolog, sekaligus mantan kepala staf Angkatan Pertahanan Israel, mengatur agar teman-teman non-Israel dapat memeriksa gulungan yang ditawarkan oleh Mar Samuel, yang saat itu adalah primata Gereja Ortodoks Suriah di AS.

Setelah keasliannya diverifikasi, Yadin dan rekannya di Universitas Ibrani, membeli empat gulungan seharga USD 250.000, yang disediakan oleh pengusaha dan dermawan Yahudi-Amerika bernama D. Samuel Gottesman. Mereka kemudian diterbangkan ke Israel, masing-masing dengan pesawat terpisah.

Melansir Haaretz, keempat gulungan terakhir itu adalah: Gulungan Besar Yesaya; gulungan Buku Pedoman Disiplin, yang kemudian dipahami sebagai dua dokumen terpisah yang berhubungan dengan komunitas yang menulisnya; gulungan Komentar Habakuk, sebuah dokumen eskatologis yang mengutip Habakuk; dan Genesis Apocryphon, sebuah teks apokaliptik yang membayangkan percakapan antara Lamech dan putranya, Nuh.

Redaktur: Fiter Bagus

Penulis: Suliana

Berita Terbaru

Pengunjung Bromo Diserang Hipotermia, Prajurit Marinir Beri Pertolongan Pertama

Berenang di Danau, Bocah 8 Tahun di Louisiana Meninggal akibat Amuba Pemakan Otak

Dibangun Bersama Guru Disabilitas, Papan Tulis AI Buatan Siswa Bandung Raih Juara Google

Pertamina Lubricants Layani Ganti Oli Gratis untuk 1.000 Pengemudi Ojol

Atas Perintah Presiden Prabowo, Menhut Raja Antoni Turun Langsung Tangani Karhutla Kalbar.

Atasi Kekeringan di Lamongan, PU Normalisasi 1,6 KM Sungai & Kerahkan Pompa

Ekosistem Terbuka Dinilai Penting untuk Memperluas Penerapan Agentic AI

Genjot Literasi Pajak Generasi Muda, IKPI Gelar Lomba Cerdas Cermat Nasional

Rumah Sekunder Makin Terjangkau secara Riil, tetapi Stok Hunian Kian Terbatas

Trump Sebut Iran “Runtuh Total”, AS Siapkan “D-Day Ekonomi” untuk Teheran

81 Miles for Indonesia, XLSmart Hubungkan Negeri lewat 5G dan Semangat Berbagi

Kelola Penuaan Kulit secara Personal dengan Pendekatan Perawatan Berlapis

Yili Tebarkan Keceriaan HUT RI ke-81 kepada 2.000 Anak di Lima Rusun

Gokuniku Resmi Buka di Jakarta, Hadirkan “Japan’s Ultimate Meat Experience”

Pendakian Gunung Sindoro, KPALH Gandawesi Bawa Pesan Jaga Alam.

Lansia Terdampak Gempa Manggarai Jadi Perhatian, Khofifah Dorong Pendampingan Psikososial.

Pemprov DKI Boyong 23 UMKM Binaan ke Pameran CISMEF 2026 di Guangzhou Tiongkok

Mau Tahu Rahasia Kecantikan Kulit dan Rambut Korea, Saksikan di BXc 2 pada 27 Agustus Mendatang

Aplikasi GoPay Hadirkan Fitur DBL Indonesia, Meriahkan Kompetisi Basket Pelajar se-Indonesia

Wujud Kepedulian BUMN, TelkomGroup Salurkan Bantuan Rp1,3 Miliar untuk Korban Gempa NTT

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.