Budidaya Opium di Myanmar Melonjak Drastis

Jumat, 27 Jan 2023, 02:00 WIB

BANGKOK - Penanaman opium di Myanmar yang diperintah militer melonjak 33 persen tahun lalu, membalikkan tren penurunan enam tahun di negara yang dilanda perselisihan itu. Informasi ini dibeberkan dalam sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (26/1).

Pertumbuhan itu terhubung langsung dengan gejolak politik dan ekonomi di Myanmar sejak militer mengambil alih kekuasaan dalam kudeta hampir dua tahun lalu, kata seorang pejabat di Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (United Nations Office on Drugs and Crime/UNODC).

Ket. Foto: Penanaman Opium l Seorang petani tengah bekerja di ladang opium di Hopong, Negara Bagian Shan di Myanmar beberapa waktu lalu. Sebuah laporan badan PBB pada Kamis (26/1) menyebutkan bahwa penanaman opium di Myanmar mengalami peningkatan sejak junta berkuasa. — Sumber: AFP/Ye Aung THU

"Gangguan ekonomi, keamanan, dan tata kelola yang mengikuti pengambilalihan militer pada Februari 2021 telah menyatu, dan para petani di daerah terpencil yang seringkali rawan konflik, memiliki sedikit pilihan selain kembali untuk menanam opium," kata Jeremy Douglas, perwakilan regional UNODC, saat konferensi pers di Bangkok, Thailand.

Atas laporan PBB ini, juru bicara junta di Myanmar tidak mau menanggapi permintaan komentar.

Perekonomian Myanmar telah menurun sejak kudeta, dengan mata uang kyat anjlok terhadap dollar dan harga pangan dan BBM melonjak tinggi.

"Tanpa alternatif dan stabilitas ekonomi, penanaman dan produksi opium kemungkinan besar akan terus berkembang," kata pejabat pengawas UNODC untuk wilayah Myanmar, Benedikt Hofmann.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa area budidaya pada tahun 2022 diperluas sepertiga menjadi 40.100 hektare, sementara perkiraan hasil rata-rata naik 41 persen menjadi hampir 20 kilogram per hektare. Perkiraan itu merupakan yang tertinggi sejak UNODC mulai mencatat pada tahun 2002.

Peningkatan

Wilayah perbatasan yang dijuluki Segitiga Emas yaitu wilayah hutan di mana perbatasan Thailand, Laos, dan Myanmar bertemu , telah lama menjadi pusat perdagangan obat-obatan terlarang yang menguntungkan, dan menurut PBB, tren di Myanmar mengindikasikan bahwa wilayah ini sekarang tampaknya terhubung kembali ke pasar global untuk narkotika.

Pada laporan UNODC dilaporkan bahwa Negara Bagian Shan di Myanmar timur, yang berbatasan dengan Tiongkok, Thailand, dan Laos, mengalami peningkatan budidaya terbesar, sebesar 39 persen.

Laporan UNODC pada tahun 2021 terutama menggunakan data satelit untuk menentukan area budidaya.

Nilai opium yang diproduksi setiap tahun di Myanmar dapat mencapai hingga 2 miliar dollar AS, dengan sebagian besar obat tersebut diselundupkan ke negara tetangga dan ke pasar global, tambah laporan itu. AFP/ST/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.