Pelaut Fenisia Penemu Pertama Bumi Bulat
Senin, 28 Mar 2022, 00:00 WIBPara pelaut dari Fenisia yang diutus penguasa Mesir mengelilingi benua Afrika, menjadi orang-orang pertama yang menyatakan Bumi bulat. Sayangnya banyak orang tidak percaya, termasuk Herodotus, penulis sejarah penemuan itu.
Pada 1.700 tahun sebelum ekspedisi Magellan atau ekspedisi Magellan-Elcano yang dilakukan pada 1519, pelaut Fenisia yang diutus penguasa Mesir kuno yang membuktikan Bumi bulat. Mereka dikirim oleh Pharaoh (Firaun) Necho II melakukan perjalanan mengelilingi benua Afrika melihat beberapa petunjuk pertama bahwa dunia tidak datar.
Kapal pertama berlayar mengelilingi Afrika berangkat dari Mesir sekitar 600 SM. Satu-satunya tujuan mereka adalah menemukan jalan lain ke Selat Gibraltar. Tetapi dengan mengamati langit di atas, mereka menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga, petunjuk pertama bahwa dunia tidak datar, tetapi bulat.
Ketika mereka mencapai ujung selatan Afrika dan mulai berlayar ke barat, para pelaut melaporkan kembali bahwa mereka memperhatikan bahwa posisi Matahari telah berubah di langit. Matahari naik dan turun di utara, bukan di selatan seperti pandangan orang di wilayah Mediterania.
Namun sayangnya petunjuk tersebut tidak dipercaya. Memang, menjelaskan kepada masyarakat tentang Bumi bulat tidak mudah dan sangat menantang. Apalagi penemuan radikal seperti ini saat itu sangat ditolak.
"Herodotus salah satu orang yang tidak percaya. 'Orang-orang ini membuat pernyataan yang saya sendiri tidak percaya, meskipun orang lain mungkin, bahwa ketika mereka berlayar di jalur barat di sekitar ujung selatan Libia, mereka memiliki Matahari di kanan mereka ke utara dari mereka,' tulis Herodotus," ujar Mark Oliver dalam tulisannya di Ancient Origins.
Tidak seperti orang-orang sezamannya meski Herodotus menolak pendapat Bumi bulat. ia tetap bermurah hati. Sementara penulis lain bukan hanya tidak percaya namun juga meragukan perjalanan tersebut.
Bahkan pemikir seorang ahli geografi, astronom dan astrologi Romawi seperti Ptolemy atau Klaudius Ptolemeus (90-168), bersikeras bahwa secara fisik mustahil untuk mengelilingi Afrika. Menurut dia nantinya para pelaut akan menemui tepi Bumi, tanpa pantai di ujung selatannya.
"Namun, ironisnya, ketidakpercayaan mereka adalah bukti terbaik bahwa itu benar-benar terjadi. Kita tahu, hari ini, bahwa bentuk planet kita memang membuat Matahari muncul di utara ketika di Afrika selatan," ujar Oliver.
Oliver mengatakan untuk mengetahui fakta Matahari bisa membuktikan Matahari berada di bagian di selatan dan utara, maka jalan satu-satunya adalah melakukan perjalanan itu dengan melewati garis khatulistiwa yang saat ini berada di negara Guinea Equator, negara kecil antara Kamerun dan Gabon.
"Orang pertama yang menyaksikan ini membuktikan bahwa mereka benar-benar melakukan perjalanan mengelilingi benua yang sangat besar," kata dia.
Kru kapal akhirnya pulang ke kerumunan orang. Namun mereka menganggap cerita itu adalah bualan. "Tapi sekarang, ribuan tahun kemudian, kisah mereka akhirnya terbukti. Mereka adalah orang-orang pertama yang pernah melakukan perjalanan keliling Afrika," kata Oliver.
Antisipasi Serangan Babilonia
Alasan Firaun Necho II memerintah ekspedisi di lautan yang dilakukan antara 610-595 SM, dilakukan untuk persiapan saat dalam menghadapi masa yang sangat berbahaya. Di timur, Raja Babilonia, Nebukadnezar II, mengobarkan perang. Setiap orang Mesir tahu ketika perang berkobar, maka mereka akan kalah.
Apa yang dilakukan Necho II di sekitar Afrika dimaksudkan untuk menjadi perjalanan penemuan yang sederhana, misalnya menemukan tempat hidup baru. Dia hidup dalam masa putus asa, setiap gerakan yang dilakukan untuk menjaga agar rakyatnya tetap aman dari ancaman Babilonia.
Dia sudah mencoba menggali kanal besar dari Sungai Nil ke Laut Merah, berharap bisa menggunakannya untuk membuat armada angkatan laut yang bisa menahan Nebukadnezar. Namun, dia menyerah ketika seorang pendeta meyakinkannya bahwa proyeknya yang sangat ambisius itu hanya akan memudahkan orang Babilonia untuk menyerang.
Tidak ada catatan yang menjelaskan secara pasti mengapa Necho II memutuskan untuk mengirim kapal berlayar mengelilingi Afrika. tetapi disebutkan ia meminta anak buahnya untuk berlayar setelah menyerah pada proyek kanalnya. Kemungkinan besar, dia ingin menemukan cara untuk mengirim kapal perang yang bisa menerkam secara tak terduga tentara Babilonia.
Menurut Mark Oliver dalam tulisanya di Ancient Origins, Afrika terlalu besar untuk dilingkari armada kapal untuk mencegah serangan mendadak. Namun, sebagai ekspedisi ilmiah, itu adalah terobosan yang luar biasa.
Namun orang-orang di kapal itu bukan orang Mesir. Mereka adalah orang Fenisia letaknya berada antara Israel, Lebanon, dan Suriah kini. Kala itu bangsa tersebut dikenal memiliki reputasi sebagai pencipta pelaut dan penjelajah terhebat di dunia.
Perjalanan yang memakan waktu lama ini mereka membutuhkan logistik yang kuat. Dengan ukuran kapal yang kecil tidak mungkin untuk menyimpan persediaan makanan yang cukup untuk pada pada kru saat pelayaran mengelilingi Afrika.
Untuk mengakalinya para awak kapal mendirikan kemah, menanam makanan, dan bertahan sampai panen siap. Dalam perjalanan pulang mereka memutuskan untuk berlabuh setiap musim tanam. Mereka akan mendirikan rumah di tanah yang belum dipetakan selama setengah tahun setiap tahun hanya untuk bercocok tanam. Kemudian akan memanen semua makanan yang bisa, memuat ke kapal, dan berlayar lagi.
"Kami hanya tahu sedikit tentang perjalanan mereka. Satu-satunya sumber yang kami miliki untuk perjalanan mereka adalah Herodotus (484 SM - 425 SM), seorang penulis Yunani yang lahir dan hidup lebih dari 100 tahun setelah pelayaran itu dilakukan. Namun, sejarawan memiliki beberapa teori tentang apa yang akan mereka lihat," ujar Oliver.
Diyakini bahwa mereka akan menghabiskan tahun pertama mereka bepergian melalui tanah yang dikenal, berlayar menyusuri Laut Merah dan menyeberang melalui negeri Punt, sebuah kerajaan yang sering berdagang dengan Mesir. Tetapi negara yang berada di antara Yaman, Somalia, Eritrea, dan Ethiopia berada sangat jauh, sehingga bermaksud pindah ke bagian dunia yang belum dipetakan.
"Di sini, mereka mungkin telah melihat paus untuk pertama kalinya dalam hidup mereka. Mereka akan mendarat di hutan Afrika dan menabur tanaman. Dan di sini, kita tahu pasti, bahwa mereka melihat Matahari terbit di bagian langit yang salah," lanjut dia. hay/I-1
Eratosthenes Menghitung Keliling Bumi Tepat
Saat ini argumentasi dan bukti Bumi bulat dapat dengan mudah dibuktikan. Namun masyarakat dulu, gagasan tentang bumi bulat seperti sebuah lelucon belaka, termasuk yang dilakukan oleh matematikawan Yunani kuno, Eratosthenes
Ia yang hidup antara 276-194 SM saat itu sangat dipandang dan perkiraannya tentang ukuran Bumi diterima hingga ratusan tahun sesudahnya. Metodenya digunakan oleh Posidonius (135 SM-51 M), seorang filsuf stoikisme, astronom, sejarawan, biografi, dan guru sejarah Suriah berkebangsaan Yunani, sekitar 150 tahun kemudian.
Dengan tongkat sederhana ia menemukan buktinya Bumi bulat pada lebih dari hampir 2.300 tahun yang lalu. Ia bahan bisa menghitung menghitung kelilingnya dengan mendekati presisi yaitu 40.030 kilometer. Perhitungan modern menyatakan keliling Bumi 40.075 kilometer.
Perhatian Eratosthenes yang jelas jauh di depan waktunya. Perhitungan itu dipicu oleh ditemukannya bayangan vertikal yang dilemparkan pada siang hari pada titik balik Matahari musim panas di Kota Syene atau Cyrene di Libia.
Ia lalu tertanya-tanya apakah itu adalah kasus yang sama di Aleksandria, tempat dia tinggal, Eratosthenes menancapkan tongkat di tanah pada tanggal yang sama. Hasilnya bayangan dan diukur sekitar tujuh derajat.
"Karena perbedaan panjang bayangan adalah 7 derajat di Aleksandria dan Syene, itu berarti kedua kota tersebut terpisah 7 derajat di permukaan Bumi yang 360 derajat," tulis laman Business Insider.
Eratosthenes menyewa seorang pria untuk mengukur jarak antara kedua kota dan mengetahui bahwa mereka terpisah 5.000 stadia, yaitu sekitar 800 kilometer. Dia kemudian dapat menggunakan proporsi sederhana untuk menemukan keliling Bumi 7,2 derajat adalah 1/50 dari 360 derajat, jadi 800 kali 50 sama dengan 40.000 kilometer.
Ia adalah seorang pria 2.200 tahun yang lalu menemukan keliling seluruh planet Bumi hanya dengan tongkat dan otaknya. Pythagoras dan selanjutnya memvalidasinya diikuti Aristoteles beberapa ratus tahun kemudian setelah perhitungan dilakukan Eratosthenes.
"Jadi dia menggunakan simpul, beberapa sihir matematika dan berhasil mengetahui bahwa keliling Bumi kira-kira 40.000 kilometer, jauh sebelum ada orang yang menemukan listrik atau kalkulator, apalagi satelit luar angkasa," tulis laman Ladbible. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Harga Pupuk Turun 20 Persen, Prabowo: Ini Pertama Kali dalam Sejarah Bangsa Indonesia
-
Sejarah Hari Pahlawan Nasional: Dari Pertempuran Surabaya Hingga Simbol Semangat Kebangsaan
-
Mengenang 100 Jam Penataran P4 Pancasila
-
Inter Milan Masih di Puncak Klasemen walau Main Imbang dengan Napoli 2-2
-
Distribusi Pupuk Subsidi Kian Ketat, Pemerintah Libatkan Gapoktan dan Kopdes Merah Putih
-
Ngeri! Perusahaan Orang Terkaya Dunia Siap Guyur Investasi ke Indonesia
-
Pemkot Surabaya Hentikan Layanan Kependudukan bagi Ayah yang Terlantarkan Anak dan Hak Mantan Istri
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.