Petinggi BioNTech Memprediksi Vaksin Covid-19 Perlu Diperbarui

Minggu, 03 Okt 2021, 23:15 WIB

NEW YORK - Sosok penting di balik vaksin Covid-19 pertama buatanBioNTechmengatakan formulasi baru kemungkinan diperlukan pada pertengahan tahun depan untuk melindungi orang dari virus yang bermutasi.

Kepala Eksekutif BioNTech, Ugur Sahin mengatakan kepada Financial Times, seiring berjalannya waktu, mutasi akan muncul yang dapat menghindari pertahanan kekebalan tubuh.

Ket. Foto: Kepala Eksekutif BioNTech, Ugur Sahin. — Sumber: Istimewa

"Tahun ini (vaksin berbeda) sama sekali tidak dibutuhkan. Tapi pertengahan tahun depan situasinya bisa berbeda," ujar dia baru-baru ini.

Kemitraan antara perusahaan Jerman itu dan perusahaan farmasi Amerika Serikat (AS), Pfizer, berhasil membawa vaksin Covid-19 pertama ke pasar. Itu juga merupakan vaksin pertama berdasarkan teknologi mRNA yang mendapat izin, dan telah menjadi obat terlaris di dunia tahun ini.

Dalam wawancara dengan FT, Sahin mengatakan varian Covid-19 yang saat ini beredar, terutama strain Delta, lebih menular tetapi tidak cukup berbeda untuk merusak efektivitas vaksin saat ini.

Menurut Sahin, dosis booster (penguat) tampaknya mampu mengatasi varian utama. Tetapi virus pada akhirnya akan mengembangkan mutasi yang dapat lolos dari respons imun yang diberikan oleh vaksin, yang memerlukan versi penyesuaian untuk secara khusus menargetkan jenis baru.

"Virus ini akan tetap ada, dan virus akan beradaptasi lebih lanjut. Kami tidak punya alasan untuk berasumsi bahwa virus generasi berikutnya akan lebih mudah ditangani untuk sistem kekebalan daripada generasi yang ada. Ini adalah evolusi yang berkelanjutan, dan evolusi itu baru saja dimulai,"katanya.

Dia memperkirakan, pada tahun depan, akan ada dua aliran utama program vaksinasi. Akan ada suntikan booster bagi mereka yang telah divaksinasi, serta dorongan lanjutan untuk memvaksinasi orang-orang yang sejauh ini memiliki akses yang minim.

Pfizer dan BioNTech serta pembuat vaksin Covid-19 lainnya berada di bawah tekanan dari negara berkembang dan kelompok bantuan untuk berbagi paten agar vaksin dapat diproduksi lebih luas.Sahin menolak pembagian paten sebagai risiko terhadap kontrol kualitas.Kepala Eksekutif Pfizer, Albert Bourla berpendapat bahwa hal itu akan melemahkan inovasi.

Kelompok-kelompok farmasi telah berusaha untuk mengatasi masalah dengan menawarkan untuk memperluas akses ke vaksin dan berinvestasi dalam produksi di wilayah seperti Afrika, di mana bulan lalu Pfizer dan BioNTech mengumumkan rencana untuk mengembangkan pabrik manufaktur "isi-dan-selesai" di Cape Town.

Sahin menolak untuk memberikan perkiraan tentang bagaimana harga vaksin BioNTech/Pfizer di masa depan, tetapi mengatakan dia memperkirakan itu masih akan dibutuhkan di tahun-tahun mendatang.

AS pada Septembermengumumkanmereka akan membeli 500 juta dosis lagi vaksin BioNTech/Pfizer dengan tarif nirlaba untuk diberikan kepada negara-negara berpenghasilan rendah.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.