Tender Kilang Olefin Perlu Diaudit

Kamis, 03 Jun 2021, 08:58 WIB

JAKARTA - Proses Tender Proyek Kilang Olefin Tuban Jawa Timur dinilai bermasalah. Perusahaan yang dinyatakan lolos dianggap tidak memenuhi kriteria. Selaku pengawas kinerja perseroan, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) diminta mengaudit proses tender proyek senilai 50 triliun rupiah tersebut.

"Kami minta Komut (Komisaris Utama) Pertamina melakukan audit digital forensik terhadap proses tender ini. Karena peserta yang lolos mestinya tidak lulus kualifikasi yang dibutuhkan Pertamina," tegas Direktur Eksekutif CERI, Yusri Usman, di Jakarta, Rabu (2/6).

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Seperti diketahui, perusahaan konstruksi asal Korea Selatan (Korsel), Hyundai Engineering, segera melakukan pembangunan Pusat Produksi Olefin dan Aromatic milik PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI).

Anak usaha Pertamina itu akan membangun proyek tersebut di Tuban, Jawa Timur. Hyundai dinyatakan sebagai salah satu bidder yang lolos dalam tender Design Build Competition (DBC) TPPI Olefin Complex Development, bersama dengan satu bidder lainnya yaitu Konsorsium Technip Italy.

Yusri menerangkan Hyundai tidak memiliki pengalaman sesuai klasifikasi yang dibutuhkan oleh Pertamina. Perusahaan Korsel itu seharusnya tidak lulus kualifikasi yang dibutuhkan Pertamina.

Kemudian, lanjut dia, anggota Konsortium dari Hyundai Engineering and Construction juga tidak memiliki pengalaman pekerjaan FEED (Front Engineering End Design) dan EPC (engineering procurement and construction) untuk Olefin Plant di Dunia.

Padahal, lanjut Yusri, pada lampiran I dari Permen PU No 1 Tahun 2020, pada BAB IV Huruf E Nomor 9 dinyatakan setiap dokumen prakualifikasi harus memiliki pengalaman konstruksi dengan lingkup pekerjaan yang di tenderkan.

Dia menduga, pengalaman yang dilampirkan oleh Hyundai (Turkmengas Project) tidak dijabarkan pada bidang pekerjaan. Hal ini untuk membiaskan kualifikasi dari pengalaman Hyundai sebagai pelaksana konstruksi dari Olefin Cracker Plant tersebut.

Turkmengas dikerjakan oleh Toyo Engineering, sementara Hyundai hanya mengerjakan konstruksi. KLPE Project, Hyundai, beber Yusri hanya, mengerjakan proposal yang tidak layak di lampirkan sebagai pengalaman FEED.

Sementara itu, VP Corporate Secretary Hyundai Engineering Co, Ltd, Eum Hong Seok, menepis anggapan banyak kalangan yang menilai perusahaan itu tak berpengalaman. Dia menerangkan perusahaan berpengalaman membangun proyek serupa sampai selesai dalam 20 tahun terakhir, yaitu pada proyek Petrochemical Complex di Turkmenistan pada 2018.

Proses Transparan

Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, mengatakan seluruh proses tender pembangunan fasilitas produksi olefin dan aromatik di Tuban, Jawa Timur, dilakukan secara transparan dan sesuai prosedur pengadaan yang berlaku.

Setelah mengakuisisi TPPI, Pertamina melalui salah satu subholding, PT Kilang Pertamina International (KPI) langsung menyiapkan pembangunan fasilitas produksi olefin dan aromatik atau dikenal dengan Olefin Complex Development Project (OCDP) di kawasan TPPI itu.

KPI mengundang secara terbuka perusahaan kelas dunia yang berpengalaman dalam pembangunan olefin dan petrokimia untuk menjadi mitra strategis dalam mewujudkan fasilitas produksi olefin dan aromatik di Tanah Air.

Dia mengatakan seluruh proses tender ini dijalankan Pertamina dengan pendampingan dari tim Jamintel, Bareskrim Polri, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan berkonsultasi dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah (LKPP), sehingga governance-nya sangat terjaga dengan baik.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.