Koran-jakarta.com || Senin, 22 Feb 2021, 19:32 WIB

Teknologi Robotik Tingkatkan Harapan Penderita Kanker Prostat

  • kanker
  • Kanker Paru
  • Deteksi Dini

JAKARTA - Teknologi baru pengobatan kanker prostat berbasis robot mampu mendeteksi dan melakukan terapi dengan lebih baik. Keduanya menjadi harapan penderita untuk mendapat harapan hidup yang lebih lama.

Teknologi Robotik Tingkatkan Harapan Penderita Kanker Prostat

Ket. kanker prostat

Doc: ISTIMEWA Teknologi Robotik Tingkatkan Harapan Penderita Kanker Prostat

Kanker prostat menempati urutan ke-4 angka kejadian terbanyak di dunia. Dia menempati urutan ke-2 kanker yang diderita oleh pria setelah paru. Menurut Global Cancer Statistics, pada 2018 sebanyak 1,2 juta kasus baru muncul yang menyebabkan 359.000 kematian.

Di Indonesia, kanker prostat menempati urutan ke-4 dengan jumlah penderita diperkirakan mencapai 25.012 orang. Sebagian besar pasien didiagnosis pada stadium lanjut karena deteksi dini kasus kanker prostat belum optimal. Selain itu kurangnya pengetahuan dan kesadaran melakukan pemeriksaan masyarakat.

"Padahal, pasien kanker prostat yang didiagnosis dan ditata laksana pada stadium dini memiliki angka harapan hidup hingga 10 tahun bisa mencapai di atas 90 persen. Angka ini dapat turun hingga 50 persen apabila ditemukan pada stadium lanjut," jelas dokter spesialis konsultan uro-onkologi, dr Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid.

Agus mengatakan saat ini telah ada teknologi terbaru deteksi dini kanker prostat yaitu biopsi prostat dengan teknologi robotik. Teknologi ini digunakan untuk meningkatkan ketepatan pengambilan sampel jaringan di lokasi sel kanker prostat berada.

"Dengan adanya teknologi ini, diagnosis menjadi lebih cepat dan akurat, waktu biopsi lebih singkat, serta menghindari dilakukannya biopsi ulang," ujar dokter spesialis urologi dan Ketua Asri Urology Center dr Nur Rasyid.

Ada beberapa metode biopsi yang biasa dilakukan oleh para ahli, seperti biopsi transperineal. Biopsi ini tidak melalui saluran cerna (gastrointestinal) atau saluran kemih, melainkan melalui bagian perineal (di antara kantung kemaluan dan anus) dan memiliki risiko sepsis yang sangat kecil sehingga dianggap paling aman.

Biopsi transperineal yang dilakukan secara robotik memberikan beberapa keuntungan. Pertama gerakan pemindaian dapat membuat irisan gambar 2D yang terdistribusi secara merata untuk rekonstruksi 3D.

Keuntungan kedua, panduan jarum dapat secara otomatis disejajarkan pada target dan dikunci untuk biopsy. Ketiga deformasi prostat karena interaksi dengan probe dapat diminimalkan karena gerakan yang sama dapat digunakan untuk memindai dan menyelaraskan probe untuk biopsi.

Biopsi prostat dengan teknologi robotik dan lokalisasi jarum merupakan perkembangan teknologi yang berpotensi positif mempengaruhi diagnosis dan tata laksana kanker prostat. Biopsi prostat robotik memiliki durasi tindakan lebih singkat dibandingkan biopsi non-robotik.

"Hal ini tentunya menguntungkan bagi pasien dan tenaga medis yang berada di ruang tindakan, terutama selama pandemi Covid-19. Teknologi tersebut dapat mempersingkat waktu operasi sehingga kontak antara pasien dengan tenaga medis di ruang tindakan pun menjadi minim," jelasnya.


Minim Invasif

Selain teknologi biopsi robotik, pengangkatan atau operasi kanker prostat dapat dilakukan dengan teknik Laparoscopic Radical Prostatectomy (LRP). Teknik ini sangat minim invasif sehingga hanya memberikan efek komplikasi ringan jika dibandingkan dengan operasi pengangkatan prostat terbuka.

"Durasi rawatnya juga lebih singkat, jumlah perdarahan lebih sedikit, serta risiko infeksi lebih rendah," ujar dokter spesialis uro-onkologi Prof Chaidir Arif Mochtar.

Selama ini teknik laparoskopi merupakan pilihan utama dalam penanganan kanker prostat stadium awal. Namun perlu diingat, pilihan terapi pada kanker prostat baik operasi, radiasi, hormonal, kemoterapi tergantung pada stadium kanker serta kondisi pasien.

Umumnya, tumor lokal dapat ditatalaksana dengan pembedahan dan radiasi, sedangkan tumor yang sudah menyebar perlu penatalaksanaan khusus dengan terapi hormonal atau kemoterapi. "Keuntungan yang didapatkan dari laparoskopi dibandingkan dengan terapi yang lain adalah bahwa tumor primernya diangkat sehingga eradikasi kanker lebih baik," jelas Chaidir.

Tim Redaksi:
H
A

Like, Comment, or Share:

Tulisan Lainnya dari Haryo Brono

Artikel Terkait