• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Fenomena Arcus, Awan Renda...

Fenomena Arcus, Awan Rendah yang Menghebohkan

Rabu, 12 Agu 2020, 13:35 WIB

Fenomena awan Arcus dua hari belakangan terjadi di Meulaboh, Aceh Barat, Aceh. Awan ini berbentuk memanjang dan bertingkat-tingkat. Warnanya abu-abu, terbentuk di antara daratan dan lautan.

Ket. Foto: — Sumber:

Akun twitter Arief Arbianto @masawep melakukan cuitan dengan menulis "Mohon Doanya Kota Meulaboh baik-baik saja. Pemandangan awan pagi ini di atas Kota Meulaboh, Aceh Barat," yang kemudian viral.

Bagi orang Meulaboh dan Aceh umumnya, awan mirip gelombang ini tentu saja seperti mengingatkan mereka pada peristiwa dahsyat gempa bumi yang diikuti tsunami mengerikan pada 26 Desember 2004.

Lalu awan apa yang muncul di langit Meulaboh tersebut? "Itu awan keluarganya Arcus. Tetapi di atlas awan disebut sebagai volutus," cuit Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono.

Menurut lembaga meteorologi Inggris, Met Office, awan Arcus terjadi ketika aliran dingin turun dari awan kumulonimbus mencapai tanah. Udara dingin yang turun dengan cepat menyebar di sepanjang tanah, mendorong udara lembab hangat naik dan mengembun.

Pembentuk awan Arcus yang agak langka terjadi adalah awan kumulonimbus di atas yang terkait erat dengan angin kencang, hujan lebat, hujan es, Guntur, dan kilat.

"Fitur awan Arcus dapat ditemukan di antara jenis awan kumulonimbus dan kumulus," ujar Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, seperti dilansir Antara.

Bahaya Penerbangan

Arcus merupakan bagian dari awan kumuliform atau awan yang menyerupai bunga kol. Awan ini dapat menghasilkan angin puting beliung, petir, hujan ekstrem, hingga hujan es. Penerbangan harus mengindari awan tersebut harus lantaran dapat menimbulkan turbulensi yang kuat dan tersambar petir.

Tidak seperti yang dikhawatirkan oleh beberapa masyarakat Aceh, kemunculan awan tersebut bukan pertanda terjadi gempa bumi maupun tsunami. "Keberadaan awan ini murni merupakan fenomena pembentukan awan akibat kondisi dinamika atmosfer dan tidak ada kaitan dengan potensi gempa atau tsunami maupun hal-hal mistis," jelas Guswanto.

Ia menambahkan, fenomena awan Arcus terbentuk sebagai hasil ketidakstabilan atmosfer di sepanjang pertemuan massa udara yang lebih dingin dengan massa udara yang lebih hangat serta lembab. Hal itu lalu membentuk tipe awan yang memiliki pola pembentukan horizontal atau memanjang.

Ketidakstabilan atmorfer dapat terjadi salah satunya karena fenomena angin laut dalam skala luas mendorong massa udara ke arah daratan. Meski fenomena biasa, awan Arcus dapat menimbulkan angin kencang dan hujan lebat yang dapat disertai kilat atau petir di sekitar pertumbuhan awan.

"Untuk mendapat informasi secara lebih jauh terkait cuaca, masyarakat diharapkan mencari informasi melalui laman BMKG, sehingga mengetahui bermacam kondisi cuara dan potensi cuaca buruk," ujar dia. hay/G-1*

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.