Fenomena Siswa Tantang Guru

Selasa, 26 Mar 2019, 01:00 WIB

Oleh Syarifudin Yunus

Kasus siswa SMP PGRI Wringinanom, Gresik, Jawa Timur, menantang guru di dalam kelas mengundang reaksi banyak pihak. Sebelumnya, ada siswa SMP Negeri di Takalar menganiaya petugas kebersihan di sekolah. Bahkan persis setahun lalu, guru Budi merenggut nyawa di tangan siswanya sendiri di Sampang. Belakangan ada fenomena, siswa berani menantang guru.

Ket. Foto: — Sumber: koran jakarta/ones

Siswa kian berani menantang guru. Bahkan, berani mengancam atau melakukan kekerasan pada guru. Menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), setidaknya ada 445 kasus bidang pendidikan sepanjang 2018 dan 51 persen di antaranya merupakan kasus kekerasan, baik fisik, seksual, dan verbal. Fenomena ini bisa jadi potret hitam dunia pendidikan Indonesia. Siswa tantang guru, bila sering terjadi, sungguh menjadi tragedi dunia pendidikan yang sangat serius. Bagaimana mungkin, siswa tidak terima ditegur guru di kelas?

Revolusi industri 4.0, bisa jadi era yang dikagumi banyak orang. Tapi di saat bersamaan, era disrupsi dunia pendidikan pun menguat. Tatanan pendidikan berubah. Logika menjadi begitu penting daripada etika. Siswa belajar terkesan hanya untuk meraih hasil berupa nilai, bukan proses belajarnya. Maka tujuan pendidikan nasional untuk mengembangkan siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab kian "jauh panggang dari api". Proses pendidikan kian tercerabut dari akarnya.

Adalah fakta, kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh dari memadai. Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2015 menyebutkan, kualitas pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-62 dari 69 negara. Sementara UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM) Report 2016 menyebutkan pendidikan Indonesia menempati posisi ke-10 dari 14 negara berkembang. Besarnya anggaran pendidikan tahun 2018 yang mencapai 444 triliun rupiah atau 20 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) boleh dibilang tidak memberi dampak yang signifikan. Maka, harus ada langkah serius untuk membenahi kualitas pendidikan di Indonesia.

Maraknya fenomena siswa menantang guru adalah soal serius. Karena pendidikan adalah tanggung jawab semua pihak; baik sekolah, guru, siswa, orang tua, dan pemerintah. Sangat salah bila memvonis bahwa pendidikan adalah tanggung jawab guru atau sekolah semata. Apalagi menganggap "uang" adalah segalanya dalam pendidikan. Dunia pendidikan hari ini, sungguh dihadapkan pada realitas degradasi moral, karakter, etika, dan peradaban yang menjadi sebab utama terjadinya perilaku menyimpang di sekolah, baik siswa maupun guru. Apalagi di tengah era digital, berapa banyak siswa yang menjadi "yatim piatu semu", anak-anak yang statusnya punya orang tua, tapi realitas kesehariannya "tidak dekat" dengan orang tua.

Berangkat dari kondisi ini, pemerintah harus hadir untuk mengatasi fenomena "siswa tantang guru" dengan menguatkan pendidikan karakter di sekolah, di samping merevitalisasi peran bimbingan konseling (BK) di sekolah. Bahkan, orang tua pun harus terlibat aktif, minimal memperkuat pola pengasuhan di rumah. Karena harus diakui, pendidikan yang sehat hanya lahir dari proses belajar-mengajar yang sehat pula. Dunia pendidikan bukan soal "lembut atau keras" tapi soal "berkarakter atau tidak berkarakter".

Pendidikan Karakter

Menyikapi fenomena siswa menantang guru, maka solusinya adalah memperkuat pendidikan karakter di sekolah. Sekolah bukanlah tempat untuk meraih nilai akademis yang tinggi. Bukan pula tempat untuk menjawab pertanyaan yang sulit. Bahkan sekolah, bukan tempat untuk melahirkan generasi yang pintar namun tanpa karakter. Tapi sekolah adalah tempat untuk mempertahankan semangat berprestasi, semangat kebaikan agar mampu bertahan hidup dalam beragam tantangan.

Pendidikan karakter adalah roh inti dari proses pendidikan. Pendidikan yang tidak hanya bertumpu pada logika (pikiran), tapi mampu memperkokoh etika (hati dan spiritual), estetika (rasa), dan kinestetik (perilaku). Maka melalui pendidikan karakter, proses belajar intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler yang berlangsung sekolah harus terintegrasi dan berbasis pada pengembangan budaya sekolah.

Bila disadari, Kurikulum 2013 yang diberlakukan saat ini justru diorientasikan agar lebih memiliki muatan pendidikan karakter pada diri siswa, agar dapat menumbuhkan budi pekerti dan menguatkan karakter positif siswa. Ini berarti, sekolah dan guru harus dekat dengan siswa agar mengenal kepribadian dan perilaku siswa. Karena sekolah, sekali lagi, bukan hanya untuk mencapai target intelektualitas semata, namun juga kepribadian siswa.

Berat dan ketatnya hidup dan peradaban masa kini, sungguh hanya bisa "dilawan" oleh siswa dan generasi yang memiliki karakter. Keluaran pendidikan yang mau berpikir positif, optimistik, kreatif, dan mampu berkompetisi dengan mengedepankan akhlak dan budi pekerti.

Fenomena siswa menantang guru harus menjadi sinyal agar dunia pendidikan "kembali ke khitah " untuk memprioritaskan pendidikan karakter siswa. Melalui pendidikan karakter, pendidikan mengharamkan: 1) adanya perilaku kekerasan dalam belajar, apa pun bentuknya dan dari siapa pun, 2) tumbuhnya paham radikalisme dan intoleransi sekecil apa pun, dan 3) terjadinya plagiarisme, dan pelecehan nilai-nilai ilmiah di mana pun dan oleh siapa pun.

Konsekuensinya, guru sebagai ujung tombak pendidikan pun harus berani berbenah diri, mau meningkatkan kompetensi. Guru bukan hanya harus berwibawa di depan kelas, tapi memiliki kemampuan pedagodik yang menyenangkan, bukan membosankan. Guru adalah kreator pembelajaran, bukan pelaksana kurikulum. Hari ini, pendidikan sangat membutuhkan guru yang mampu mengajar dengan hati, bukan hanya logika.

Sekali lagi, inilah momentum untuk kembali ke pendidikan karakter agar tidak ada lagi kasus "siswa menantang guru" dan sejenisnya di sekolah. Kita patut kasihan terhadap dunia pendidikan karena sudah terlalu banyak diskusi tentang teori-teori untuk memajukan pendidikan. Tapi di saat yang sama, kita mengabaikan arti penting pendidikan karakter. Sungguh, sangat sulit bagi pendidikan, bila belajar pada akhirnya "meninggalkan" karakter manusia seperti yang seharusnya.

Penulis Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unpak, Dosen Universitas Indraprasta PGRI

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Tim Koran Jakarta

Berita Terbaru

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.