Tidore Kepulauan Serius Kembangkan Sektor Pariwisata
Senin, 19 Feb 2018, 08:00 WIBTidore menjadi daerah yang dikaruniai berkah kekayaan alam maupun bahari. Wilayah yang berada di Maluku Utara ini memiliki laut biru penuh biota dan nilai sejarahnya sebagai daerah rempah-rempah di masa penjajahan. Daerah yang belum tersentuh modernisasi perkembangan zaman membuat wilayah ini terkesan perawan dibandingkan wilayah-wilayah lainnya.
Pemerintah kota (Pemkot) setempat mengaku belum mengembangkan aneka kekayaan alam tersebut secara serius. Potensi alam Kota Tidore sangat menjanjikan untuk dikembangkan menjadi salah satu tujuan wisata. Baru pada tahun ini, mereka berniat menggarap daerah yang menawan ini menjadi tujuan wisata.
Kota ini memiliki luas wilayah 1.550,37 km², yang menjadikannya kota terluas kedua di Indonesia setelah Kota Palangka Raya. Kota ini sudah terkenal sejak zaman penjajahan dahulu karena cengkeh dan pala. Bangsa Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di Tidore adalah pelaut dari Spanyol yang sampai ke Tidore pada tahun 1512. Kota ini juga sempat menjadi ibukota provinsi perjuangan Irian Barat.
Setelah Papua masuk ke wilayah Indonesia, statusnya berubah menjadi ibukota daerah administratif Halmahera Tengah dengan ibukota Soa Sio Tidore. Tahun 1990, status daerah administratif berubah menjadi Kabupaten Halmahera Tengah. Pada tahun 2003, Tidore menjadi kota dengan nomenklaturnya Kota Tidore Kepulauan.
Untuk mengetahui apa saja yang akan dilakukan Pemkot setempat mengembangkan pariwisata dan investor yang tertarik terlibat dalam usaha di tempat ini, wartawan Koran Jakarta, Dini Daniswari berkesempatan mewawancarai Wali Kota Tidore Kepulauan, Ali Ibrahim, di Tidore, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.
Bagaimana rencana pengembangan pariwisata di Kota Tidore? Jauh, jauh ketinggalan sekali. Insya Allah, kami akan menggarapnya. Potensi yang ada ditingkatkan, terutama Desa Tayawi, Kecamatan Oba yaitu daerah yang memiliki danau di tengah hutan. Desa ini memiliki banyak keunikan yang pasti akan menarik banyak wisatawan bertandang ke sini. Setiap tahun ada sekitar 25 ribu orang berkunjung ke tempat ini, baik turis domestik dan internasional. Turis paling banyak berasal dari Eropa dan India. Mereka bahkan ada yang tinggal berbulan-bulan gratis. Ini surga dunia, kalau ke sana nggak mau pulang.
Lalu apalagi yang akan dikembangkan oleh Pemkot? Kami akan mengembangkan wisata bahari yang akan dilakukan tahun ini. Banyak objek wisata bahari di wilayah ini yang menawan. Jika berhasil dikembangkan dengan baik akan banyak wisatawan berlibur ke daerah kami ini.
Persiapan apa saja yang sudah dilakukan? Kami siapkan sarana dan prasarana serta tempat tinggal. Selain itu, kami mengembangkan adat istiadat situs-situs. Adat ketimuran dipelihara untuk mempertahankan nilai-nilainya sekaligus memberikan sisi nostalgia bagi para pengunjung. Sebagai penghasil rempah-rempah, Tidore pernah menjadi incaran bangsa barat.
Sudah ada investor yang menawarkan diri untuk mendirikan hotel? Hotel, ini saya negosiasi dengan pimpinan di Sofifi. Karena, Tidore kan dibawahi Provinsi Maluku Utara. Ada orang Arab ingin membuka hotel di Pulau Maitara. Saya bilang tunggu dulu beberapa waktu. Kami akan membuatkan jalannya terlebih dahulu. Jalan akan dibangun mengelilingi Pulau Maitara pada tahun ini dengan dana APBD dan APBN. Kalau hotel, bintang tiga boleh. Hotel di Tidore tidak usah banyak bintangnya (hotel berbintang).
Apakah ada investor di bidang lainnya yang tertarik menginvestasikan dananya di wilayah ini? Investor nasional, pabrik semen Tonasa untuk pengemasan. Untuk sektor perikanan, terutama investor dari Tiongkok ada di sini (Tidore). Mereka membeli ikan, seluruh Maluku Utara terpusat di sini. Di sisi lain, kami juga ada program, mudah-mudahan dua bulan lagi dapat diwujudkan di Pulau Maitara. Kami datangkan mesin asap ikan. Sekali mengasap, bisa untuk 25 ton ikan. Itu bekerja sama dengan Timur Tengah, salah satunya di Arab, kami suplai. Di sisi lain, pengolahan kulit kayu manis.
Kalau mengajak investor dalam penangkapan ikan, apakah tidak merusak budaya setempat. Karena, masyarakat Tidore menangkap ikan secukupnya? Kerja sama tidak akan merusak budaya di sini. Perlu diketahui, pada umumnya masyarakat Pulau Maitara mempunyai kelebihan menangkap ikan. Sebanyak 60 persen dijual ke Ternate dan Bitung. Bekerja sama dengan BUMDes akan menjual ke pabrik, dari pabrik baru dijual ke luar. Maksudnya biar, kesejahteraan masyarakat meningkat. Selama ini, harga ikan per kilogram senilai 23 ribu rupiah bahkan 18 ribu rupiah.
Pembangunan di bidang lain, seperti infrastrukturnya bagaimana? Saat ini kami sedang mengupayakan jalan ke Ternate (jalan darat antara Tidore dan Ternate). Studi kelayakan yang dilakukan jajaran Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah dilakukan hampir dua tahun lalu, pada 2016. Target pengerjaannya lebih cepat lebih bagus, karena Tidore sudah ramai sehingga jalan akan menjadi integrasi darat, dari pulau ke pulau. N-3
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Tim Koran Jakarta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.